
Alexandra berdiri di depan jendela kamar hotelnya, Tokyo siang ini berlangit gelap dan hujan ringan. Sendu.
I wish you were here sayang, sudah 5 hari kita tidak bertemu. Batin Alexandra sambil melangkah menuju lift dan menekan tombol angka 6 tempat dimana spa hotel berada. Tadi pagi ia telah memesan paket massage. Semacam sebuah ritual wajib bagi Alexandra sebelum mengikuti event lari, ia harus banyak makan dan massage untuk merilekskan badan.
Trrrrr trrrrrr.....
Sayang.. Suara Edward terdengar merajuk di telepon Sedang apa?
"Lagi massage di spa hotel" jawab Alexandra yang mulai terlena akan pijitan di kaki.
Aku rindu, manja Edward di telepon.
"I miss you too" jawab Alexandra sambil menguap menahan kantuk.
Yang mijit wanita, bukan? Edward kumat keponya
"Iya, tentu saja" Alexandra menjawab kemudian tertawa membayangkan muka Edward jika lagi cemburu.
Besok finish strong yah, FIGHTING! seru Edward di telepon menyemangati.
__ADS_1
"Fighting aza-aza!" jawab Alexandra terpekik hingga terapisnya ikut tertawa kecil.
See you soon babe, I love you Miss Bae-ku.
"Love you too" balas Alexandra memutuskan telepon.
....
Keesokan paginya, race day Tokyo Marathon dengan hujan mengiringi sepanjang rute, Alexandra berlari dengan puluhan ribu pelari lain dari berbagai penjuru Dunia. Ia menggunakan water proof running jacket, jadi hujan hanya membasahi paha ke bawah. Namun sepatunya agak berat diangkat karena kemasukan air. Alexandra lihat beberapa pelari yang menggunakan mantel bening sambil berlari, lucu menurutnya. Berlari sejauh ini butuh hiburan selain playlist lagu di earphone menemaninya , pemandangan unik dan cheering dari penonton di pinggir jalan membuatnya lebih bersemangat.
Ia beruntung bisa mendapatkan slot untuk lomba bergengsi ini, Tokyo Marathon salah satu dari 6 World Major Marathon, satu-satunya yang berada di Asia. Baginya ini hanya untuk menantang kemampuannya, sebagai atlet sepertinya sudah terlambat 20 tahun untuk berlatih.
....
"Babe, aku menunggumu di sini" dengan foto rute keluar
Yeah ternyata Edward di sini demi dirinya, sungguh kejutan indah dengan luapan rasa bahagia kemudian dia menaikkan pacu larinya. 6 kilometer lagi, tunggu aku !
12 jam lalu setelah menyelesaikan syuting, Edward langsung mengabarkan ke Park Jae Sun manajernya bahwa dia akan libur selama dua hari. Dia langsung ke Bandara dan telah tiba dini hari tadi, menginap di hotel yang sama dengan Alexandra, namun Edward sengaja tidak menganggu kekasihnya yang sedang fokus untuk race.
__ADS_1
Dengan menggengam sebuket mawar merah yang dia beli di toko bunga kecil berapa meter dari hotelnya, Edward berjalan menuju area rute finish untuk penamat lari. Hatinya deg-degan setelah meraba kotak kecil beludru di saku celananya. Ya, dia akan melamar Alexandra!
........
40 menit kemudian Alexandra menyentuh garis finish, dengan perasaan bangga dan senang ia berhasil menamatkan marathon pertamanya dengan catatan waktu yang bagus. Kemudian ia terus berjalan dengan tertatih mengikuti rute arah keluar pelari, panitia memberikan handuk bagi finisher, terakhir kemudian medalinya.
Dengan memicingkan matanya mencoba mencari sosok kekasihnya di tengah gerimis, 200 meter kemudian setelah rute keluar dia melihat Edward sedang berdiri di bawah payung putih bening dengan coat hitam, kemeja biru, celana hitam mendekap sebuket mawar merah. Sungguh mencolok. Senyum Alexandra mengembang, setengah berlari menuju tempat Edward berdiri. Tiba-tiba ia merasakan kesakitan yang sangat di dadanya!
"Miss Bae!" teriak Edward, Alexandra masih sempat melihat Edward berlari sebelum akhirnya terjatuh dengan pandangan menggelap.
...
Edward menunggu di rute penjemput dan mengambil spot bagus. Ia kemudian melihat Alexandra dengan senyum mengembang berlari kepadanya.
"Miss Bae!" teriaknya saat melihat Alexandra.
Edward melempar payungnya dan berlari melihat Alexandra yang akan terjatuh.
"Miss Bae! teriaknya dengan histeris mengguncangkan tubuh Alexandra yang lunglai.
__ADS_1
"Medic please!" Teriak pelari lain yang mulai berdatangan mendekati mereka.
###