
Edward terbangun jam 11 dengan perasaan bersalah, bagaimana mungkin ia bisa tertidur selelap itu sementara kekasihnya masih terbaring tak berdaya.
Setelah mandi dan membereskan pakaian yang ia pakai sehari sebelumnya, Edward menyalakan handphone yang sejak hari minggu malam dalam keadaan mati. Ada 30an pesan dari Park Jae Sun manajernya juga ada pesan dari kakek Baek sekitar jam 8 pagi tadi.
"Alex sudah terbangun."
Deg! Edward langsung menyambar coatnya dan berlari keluar dari kamar hotel.
Berapa menit kemudian dengan terengah-rengah Edwar telah sampai di koridor depan kamar Alexandra, ada kakek Baek dan Nana di situ.
"Mereka ada di dalam." kata Kakek Baek, mereka maksudnya papa, mama Alexandra dan Mike. Yang sampai sekarang pun Edward belum sempat bertegur sapa dengan kedua orang tua Alexandra.
"Edward, kakek sudah bertemu Alex tadi, ia tidak ingat kejadian kemarin, tidak ingat kenapa ia berada di Jepang, dokter mengatakan ini hanya sementara namun butuh waktu. Jadi kita semua harus bersabar." tambah kakek Baek menerangkan dengan sendu.
Tak lama kemudian orang tua Alexandra keluar, Edward masuk ke ruangan bersama Kakek Baek. Edward tak bisa berkata-kata, ia melangkah dengan pelan menghampiri Alexandra. Hatinya meluap bahagia, gadis ini berhasil melewati masa kritis.
"Alex." sapa kakek menatap Alexandra yang terbaring dengan mata sudah hampir terpejam.
"Kakek." Alexandra terdengar sangat lemah menatap kakeknya, kemudian menatap Edward lekat-lekat.
"Siapa dia?" Alexandra masih menatap Edward.
Semacam ada belati menghujam dada Edward sesaat mendengar ucapan Alexandra. Kakek Baek pun terkejut dengan kebingungan.
"Ehh, dia Mr. Lee, Edward Lee asisten kakek." ucap kakek Baek meraih jemari Edward dan menggengamnya erat.
"Oh." dengan pelan Alexandra menjawab.
__ADS_1
Edward berdiri mematung menatap Alexandra, ia sangat ingin memeluk kekasihnya, namun di mata gadis itu Edward bukanlah siapa-siapa. Alexandra tidak mengenal Edward, sorot mata kekasihnya seakan telah mati pendarnya.
"Seperti kepalaku habis di tabrak sesuatu kek, nyeri." kata Alexandra mencoba meraba kepalanya yang terbalut perban namun tangannya tidak bisa terangkat.
"Permisi!" Edward membungkukkan badan dan dengan tergesa-gesa keluar, ia terus berjalan hingga mencapai taman Rumah Sakit, ia tidak bisa menahan tangisnya, hatinya hancur.
Sejam berselang Edward masih duduk terdiam di bangku taman. Isi kepalanya dipenuhi berbagai pemikiran. Salah satunya ia kurang bersyukur dengan keadaan terkini kekasihnya. Semua membutuhkan waktu untuk pulih, dan cedera yang dialami Alexandra adalah hal sangat terburuk.
Trrrrr trrrrrrrr...
Handphonenya berapa kali bergetar namun diabaikannya.
Park Jae Sun calling
Kamu di mana!!! Teriak manajernya.
Kamu harus pulang hari ini! Besok kamu pemotretan promo drama! Teriaknya lagi
"Tapi Hyung..." Edward ingin menyanggah namun ia berada di persimpangan dilema.
Nooo! Tidak ada tapi, saya tidak mau tahu apapun alasannya! Kalau kamu tidak pulang Hyung bunuh diri! Ancam manajernya
Edward terdiam.
10 menit lagi cek tiket kepulanganmu di email! Tutup Park Jae Sun.
Edward makin bimbang, kacau, mungkin juga terpuruk. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
"Edward?"
Edward membalikkan badannya, rupanya kakek Baek.
"Jangan jadikan beban, kita tidak bisa memaksakan keadaan Alex." kata kakek Baek sambil duduk di samping Edward
"Saya mengerti, kek."
"Alex anak yang kuat, dia pasti bisa kembali seperti semula" kata Kakek Baek dengan optimis.
"Iya, dia sangat kuat." Gumam lirih Edward membayangkan Alexandra yang memilik stamina bagus, paru-paru kuat bahkan menyamai kekuatannya saat berlari.
"Kakek, saya akan kembali Korea nanti sore." tambahnya sambil menatap sendu Kakek Baek.
"Pekerjaan yah?" tebak Kakek Baek menatap lembut kepada sang aktor.
Edward hanya mengangguk dengan lemah, kemudian merangkul Edward, ia tahu betapa berat beban yang dipikul oleh anak muda ini.
"Masuklah lagi untuk melihat Alex." ucap Kakek Baek sambil menepuk punggungnya.
Edward mendapati Alexandra tertidur, gadis itu pastinya kelelahan sejak tersadar dan semua orang ingin berbicara dengannya.
"Miss Bae sayang, maafkan aku harus meninggalkanmu di saat seperti ini." ucap Edward sambil menggengam tangan kekasihnya.
"Tapi aku percaya, kau pasti bisa melewati ini. Aku akan kembali, aku akan selalu kembali padamu." lanjutnya sambil mengecup lama jemari tangan Alexandra.
###
__ADS_1