Miss Bae

Miss Bae
Our First


__ADS_3

"Sudah makan?" Tanya Alexandra sesampai di apartemen.


"Belum." jawab singkat Edward.


"Kita makan bareng, ada macam-macam makanan dari Nana." sambil membongkar bungkusan kain yang berisi plastik-plastik berisi stok untuk dua minggu.


Setelah makan bareng, Alexandra memutuskan untuk membersihkan diri. Edward terlihat serius menonton TV yang menayangkan action movie sambil bertelungkup di atas karpet bulu, tak lama kemudian Alexandra pun bergabung.


"Miss Bae, kalau kau punya mobil sebagus itu kenapa tidak dipakai ke kantor?" Tanya Edward masih lanjut dengan rasa penasarannya.


"Soalnya masih bisa pakai bus dan 10 menit aku sudah sampai kantor, lagian lebih efektif tidak perlu cari parkiran." jawab Alexandra sekenanya.


Alasan Alexandra menggunakan bus karena ia tidak ingin ketahuan di kantor dengan statusnya sebagai pegawai biasa. Andai kata ia nekat mengendarai Range Rover Sport keluaran terbaru ke kantor, sepertinya akan menjadi sebuah pertanyaan besar dan gosip satu perusahaan.


"Jika kamu tidak pakai, boleh aku pinjam Range-nya? Canda Edward melirik gadis cantik yang ikut larut dengan tayangan di TV.


"Tuh kunci beserta surat kendaraan di dompet gantungannya." jawab Alexandra sambil menunjuk tempat gantungan kunci di samping pintu masuk.


"Aku cuma bercanda, aku juga punya mobil di basement. Namun jarang aku pakai karena manajer selalu jemput setiap ada acara. Lagian kau percaya saja ngasih kunci mobil?"


"Aku percaya kamu Ed, mau kemana juga lari toh kita tetanggaan." jawab Alexandra.


"Siapa kamu Miss Bae?" Lirih Edward bertanya.


"Alexandra Bae Schuberg, Hamburg, 17 october 19**, 25 tahun, ayah Stefan Schuberg orang Jerman, ibu Baek Hae Yoong orang Korea, kamu harusnya memanggilku noona." jelas Alexandra.


"Haha lengkap! Noona? Aku gak mau kakak adik dengan kamu Miss Bae." jelas Edward.


"B**y the way, kakek bahas apa saja selama di sana?" Lanjut Edward meninggalkan permasalahan kendaraan mewah Alexandra.


"Kakek mau jodohin aku dengan anak temannya" jawab Alexandra terkekeh polos.


"Apa!" pekik Edward tidak bisa menahan ekspresi kaget.


"Kapan ke rumah kakek lagi?" Lanjut Edward bertanya, tubuhnya terduduk dan menatap lekat-lekat Alexandra.


"Bulan depan, minggu ketiga tanggal berapa tuh." kata Alexandra sambil mengecek kalender handphonenya.


"Oh tanggal 16 februari." lanjut Alexandra.

__ADS_1


"Aku ikut !" Singkat Edward dengan lantang.


"What for?" Heran Alexandra menatap Edward.


"Pokoknya aku ikut, aku memaksa." jawab sambil mengetikkan satu pesan ke manajernya.


Hyung, tanggal 16-17 Februari tolong jadwalku dikosongkan, ada kepentingan keluarga.


"Miss bae, kamu suka tinggal di Korea, tidak rindu Jerman? Tanya Edward setelah meletakkan handphonenya.


"Aku suka, bisa dekat dengan kakek dan Nana. Mereka sudah tua, aku cucu satu-satunya harapan mereka. Di keluargaku irit produksi."


Edward tergelak tawa. "Irit produksi, apa maksudnya?"


"Aku anak tunggal, mama anak tunggal." jawab Alexandra sambil menguap lebar.


"Kamu kesepian yah? Kalau aku anak kedua dari 4 bersaudara, kakak cewek, adek cewek dan bungsu cowok, kamu bisa bayangin kalau kami berkumpul. Sungguh ramai sekali. Mereka tinggal di Gangneung, sebenarnya kami dulu tinggal di luar negeri tapi ketika aku usia 16 tahun, kami kembali ke Korea. Suatu hari aku akan bawa kamu ke rumah, ketemu dengan keluargaku." kata Edward melirik Alexandra.


"Miss Bae, kamu tidur? Capek yah?" Edward bergumam sambil beranjak ke kamar mengambil selimut. Setelah memasangkan selimut, Edward membenarkan posisi tidur Alexandra.


"Selamat tidur Miss Bae-ku" kata Edward sambil mengecup pipi Alexandra.


Alexandra berlari dengan susah payah, napas yang memburu, dadanya sakit, kaki dan paha tidak bisa digerakkan terasa berat. Tidak! Aku harus finish, semua orang terlihat sudah menamatkan larinya dan aku masih berjuang dengan kaki berat, ahhh ahhh..


Deg!! Sebuah kekuatan seakan memukul dadanya. Saat itu pula mata Alexandra terbuka dengan nanar.


Syukurnya hanya sebuah mimpi.


HAH!


Duaarrr!!


Semacam ada petasan berskala sebesar malam pergantian tahun meledak di dalam dada Alexandra. Edward Lee tak berjarak dengan dirinya alias Alexandra berada dalam di pelukan sang aktor. Sebuah posisi yang unik, sebelah kaki Edward naik ke paha Alexandra.


Kemudian ia mencoba mengingat kejadian semalam sebelum jatuh terlelap. Hal terakhir Alexandra ingat adalah ia baring di depan TV dan berujung keduanya ketiduran berakhir dengan posisi seperti ini di pagi hari.


Dengan perlahan Alexandra meloloskan diri, agar Edward tidak terbangun. Sosok Alexandra tergesa masuk ke dalam kamar mandi, sebagai pelari dengan jantung yang kuat, ia yakin bisa menahan debaran ini.


"Fokus Alexandra ini hari Senin, pekerjaan menanti." gumam Alexandra sambil menepuk ke pipinya yang telah berwarna merah.

__ADS_1


Berapa menit kemudian, Edward terbangun dan memandang Alexandra terlihat sudah siap dengan setelah pakaian kerja. Sungguh ini adalah pemandangan terbaik ketika bangun selama hidupnya.


"Pagi, ayo sarapan bareng aku bikin pancake." sapa Alexandra dengan hati tak karuan tapi mencoba untuk terlihat normal.


Dengan semangat Edward beranjak ke meja makan, sambil memegang handphonenya. Dan sempat memotret untuk Ins**gram story.


"Breakfast ❤️" Tulisnya dan kemudian membagi cerita kepada para pengikutnya yang lumayan banyak.


"Apa jadwalmu aktor kita hari ini?" Tanya Alexandra.


"Jam 10 mau ke agensi terus jam 12 ada pemotretan" jawab Edward sambil menyantap pancake buatan Alexandra.


"Always busy."


"As usual, Babe." jawab Edward sambil menghabiskan jus jeruk di gelas.


10 menit kemudian keduanya keluar dari apartemen Alexandra. Edward memperhatikan Alexandra yang sambil berjalan melewatinya.


"Miss Bae, sepertinya kamu melupakan sesuatu." tegur Edward mengerutkan alisnya.


"Apa?" Sambil membuka tas Alexandra mengecek, dompet, handphone, kunci, kartu pengenal, kotak makeup, tak ada satupun ketinggalan.


"Ini." kata Edward sambil memegang kedua lengan Alexandra lalu mencium kening si gadis cantik bermanik hazel.


Deg deg duar!


Di dalam dada Alexandra meledak kembang api kedua pagi ini. Alexandra menatap malu ke arah Edward. Tak butuh lama Edward tergoda untuk mendaratkan sebuah ciuman ringan namun dalam di bibir Alexandra. Edward kemudian mengakhiri dengan pelukan sambil membisikkan kalimat mesra.


"Selamat bekerja, Sayang."


Alexandra pun mengangguk dan setengah berlari sambil memegang dadanya.


Apa ini? Alexandra terus melangkah ke depan dan tidak berani membalikkan badan menatap Edward.


Sementara Edward tersenyum lebar dengan hati bahagia.


"I love Monday, I love you Miss Bae" teriak Edward dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya ke udara.


###

__ADS_1


__ADS_2