
Alexandra tiba di rumah kakeknya pada jam 4 sore dan disambut dengan perasaan sukaria. Sejak pindah di apartemen dan hidup mandiri, ini pertama kali bagi Alexandra kembali ke rumah Incheon. Setiap sudut di rumah ini selalu membuatnya rindu.
Ting, suara pesan masuk di ponsel Alexandra.
Edward chat,
Sudah di rumah kakek?
Alexandra membalas dengan mengirimkan foto baskom-baskom berisi kimchi segar.
Edward membalas pesan,
Jangan lupa bawa ke Seoul
Alexandra
Alright dengan ikon jempol
Edward
😘
Deg deg...
Edward seenaknya membalas ikon seperti itu, dia sama sekali tidak tahu efek dari hal kecil di hati Alexandra.
"Siapa itu yang membuat cucuku bersemu merah mukanya?" Selidik Nana.
"Teman, Nanaaa..." jawab Alexandra merajuk.
"Jadi kapan dibawa kesini?" Lanjut Nana.
"Kapan-kapan yah." balas Alexandra sambil tertawa riang.
~~
Setelah menyantap makan malam, mereka bertiga, kakek, Nana dan Alexandra bermain Go Stop di ruangan kartu.
"Alex, bagaimana pekerjaan di kantor? Masih kuat? Kalau sudah tidak kuat lambaikan tangan dan menyerah." canda kakek Baek dan tertawa ringan. Pria tua itu menatap lembut cucunya yang tersenyum simpul.
"Lancar kek, tenang Alex sedang menyerap ilmu banyak di sana." sanggahnya.
__ADS_1
"Tapi jangan kelamaan, kakek sudah tua. Perusahaan Bae Gu Corp cuma Alex penerusnya." tekan kakeknya.
"Kakek, biarkan Alex cari pengalaman dulu, soalnya itu bukan perusahaan kecil nanti bangkrut kalau dikasih ke saya." jawab Alex seraya mengerucutkan bibirnya.
"Tidak akan bangkrut. Kakek akan tetap jadi komisaris namun tidak datang ke kantor setiap hari seperti sekarang."
"Saya nikah dulu kek, baru ambil perusahaan kakek yah." goda Alexandra.
"Baik, nanti kakek jodohkan kamu anaknya pak Song PT. Heesong umur 32 tahun lulusan Amerika, tinggi dan ganteng." kakek dengan semangat menjelaskan.
"Kakek, masa mau memberikan cucu satu-satunya ke laki-laki yang Alex tidak cinta" Alexandra sambil manyun.
"Cinta bakal hadir kalau sudah bertemu dengan anak Pak Song." jawab kakek Baek.
"Nana menikah umur 18 tahun, 19 tahun mamamu lahir, kau sendiri lahir ketika mamamu berusia 21 tahun, anak itu dikuliahkan jauh-jauh malah jatuh cinta ma papamu. Cucumu ini sepertinya sudah punya pacar, Sayang" lanjut Nana menatap suaminya.
"Masih teman." sahut Alexandra menunduk dan tersipu.
"Kakek belum tentu setuju, harus lihat dulu siapa laki-laki itu." tegas kakek terkesan menolak.
"Iyah, tapi jangan ada perjodohan! Kakek menikah dengan Nana karena cinta, Dad and Mommy juga. Masa cucunya dijodohkan? Where is your heart, Kakek?" Dengan akting sedih Alexandra pura-pura mengusap air mata.
Kakek Baek dan Nana merespon dengan saling memandang kemudian tertawa.
Dan mereka bertiga kemudian terbahak tawa dengan bahagia. Bagi kakek Baek dan Nana, Alexandra merupakan harta paling berharga, apapun yang diinginkan Alexandra akan dituruti termasuk bekerja di sebuah perusahaan IT padahal tunjangan bulanan dari sang kakek jauh lebih banyak yang terkirim setiap bulan ke rekening Alexandra dibandingkan gaji bulanannya.
Keesokan harinya di perjalanan pulang dari Incheon.
*Trrrr trrrrr*...
Handphone Alexandra bergetar menandakan ada panggilan telepon yang masuk.
*Edward memanggil*.
__ADS_1
"Halo." Alexandra menjawab via *headset bluetooth*.
*Miss Bae, kau ada di mana? Aku lihat lampu apartemenmu belum Menyala*. Suara Edward terdengar cemas.
"Iyah, ini masih di perjalanan. Sebentar lagi aku akan sampai." jawab Alexandra dengan pandangan lurus ke depan.
*Kau menyetir? Aku tidak tahu kalau kamu punya mobil, Miss Bae*.
"Punya, cuma jarang dipakai"
*Hmm*, singkat Edward.
"Mister Actor, tunggu aku di *basement* yah? Bantu aku membawa makanan dan kimchi dari Nana."
*Baiklah my Lady, I'm waiting*. Jawab Edward.
"5 menit." sambil Alexandra menutup telepon.
Edward berdiri dekat pintu *basement* sambil mengutak-ngatik handphonenya. Ketika melihat satu mobil datang dengan membunyikan klakson singkat, ia pun tersenyum lebar karena gadis yang ditunggunya telah hadir. Pria bersurai hitam itu berlari-lari dengan hati riang.
__ADS_1
\#\#\#