MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
1.Rumah Baru


__ADS_3

Matahari sudah condong kebarat saat Andrea Savitri tiba dirumah barunya. Semenjak kepergian neneknya dia lebih memilih untuk tinggal bersama kakaknya dirumah peninggalan orang tuannya. Kak Dika saudara satu-satunya sudah menunggu kedatangannya dengan perasaan was-was. Begitu mengetahui Dea panggilan adiknya, segera dipeluknya gadis itu erat-erat.


"Capek?"katanya sembari melepas pelukannya.


Kini tangannya beralih mengacak-acak rambut adiknya.


"Ih...Kak Dika!Dea bukan gadis kecil lagi kak. Sudah gede, udah pantas punya pacar"celoteh adiknya manja.


"Merasa sudah gede tapi masih manja!"sahut Dika kakaknya.


"Masuk Gih!"ajak Dika, membimbing adiknya masuk ke dalam rumah.


Halaman yang lumayan lebar itu masih tetap asri, dipenuhi bunga-bunga aneka warna. Angrek-angrek kesayangan bundanya masih tetap subur dan beberapa ada yang tengah berbunga. Mawar-mawarpun masih tetap terpangkas rapi, dan disana-sini tengah bermekaran.


"Kak Dika yang ngurusi itu semua?"tunjuk Dea kearah mawar-mawar yang tengah mekar.


"Iya...nanti gantian kamu yang ngurusi semuanya!"Sahut Dika cepat.


"Ayo masuk!"ajak Dika membimbing adiknya melangkah mamasuki rumah.


Dea melangkah maju melewati pintu, ruang tamu masih seperti dulu tidak ada yang berubah satupun. Pigora besar berisi potret keluarga masih tergantung ditempatnya seperti semula. Dea memandangi potret keluarga itu lekat-lekat. Dea menoleh merasakan angin dingin menerpa lengkuknya.


"Ya Allah...mengapa begitu cepat Engkau mamanggil Ayah dan Bunda!"Dea mengatakannya dalam hati.


"Sudahlah De...! ikhlaskan kepergian orang tua kita, semoga almarhum-almarhumah tenang disana."Kata Dika yang mengerti merasakan kemana arah pikiran adiknya. Dika mengajak adiknya untuk duduk.


"Kak Dika juga, sekali lagi turut berduka atas meninggalnya nenek!"kata Dika. Suasana hening sejenak.

__ADS_1


"Kriit..kriit..kriit!"terdengar sebuah ayunan mungkin sudah usang. Sesekali terdengar suara lari-lari ditingkai canda tawa yang riang, suara anak-anak perempuan.


"Oh...itu Arina!"kata kak Dika yang bisa menebak jaban pikiran Dea.


"Besok kakak kenalkan sama dia!"kata kak Dika kemudian.


"Kamu capek! sekarang berbenah dulu. Besok hari pertamamu disekolah yang baru." Kata kak Dika memberi penjelasan.


"Kak Dika membimbing Dea kesebuah kamar, kamar Dea sewaktu masih berseragam merah putih." Kamu bisa merubahnya sesuai kemauanmu!"


"Kak...!"panggil Dea begitu Dika membalikkan badan melangkah keluar.


"Kali ini sengaja kakak libur!"Sahut Dika menutup pintu.


Lama Dea termenung dibibir ranjang. Kenang-kenangan bahagia bersama kedua orang tuanya silih berganti dipelupuk matanya.


Akhirnya Dika dan Dea ikut tinggal dengan neneknya. Baru 3 tahun yang lalu Dika kembali kerumah orang tuanya ketika melanjutkan kuliah. Sekarang hanya mereka berdua yang menghuni rumah besar itu.


Malam semakin larut, dinginpun terasa membelit kulit. Dea menarik selimut dan menyelimuti sekujur tubuhnya. Lebih hangat itu yang dirasakan Dea saat itu. Di pos satpam bunyi dentang dua belas kali, sudah larut malam mata Dea belum terpejam juga. Hatinya resah memikirkan lingkungan baru tempat dia menuntut ilmu esok hari. Malam merambat semakin larut, terus bergulir menciptakan keheningan. Detik demi detik berlalu yang mengantarkan Dea pada kepulasan tidurnya.


Pagi datang menggantikan malam, terdengar dari arah dapur Dika sibuk dengan peralatan memasak. Buru-buru Dea bangun, segera melipat selimutnya dan berjalan menuju dapur.


"Selamat pagi tuan putri"canda Dika. Dea tersenyum. "Maaf kak, belum terbiasa, biasanya Dea langsung sarapan dan berangkat sekolah."


"Untuk kali nggak papa. Sana Gih, mandi, nanti keburu siang."Perintah kakaknya.


Dea menuruti perintah kakaknya. Bentar saja dari arah kamar mandi terdengar suara cebar-cebur.

__ADS_1


Dengan cekatan Dika menyelesaikan memasaknya. Dan menyiapkan dimeja makan.


Tepat pukul setengah tujuh Dika sudah siap dengan motornya dihalaman.


"Om Dika. Berangkat kuliah ya Om."Seorang gadis cilik menyapa dan menghampiri Dika dengan manja. Melihat kedatangan Dea gadis cilik itu bengong sejenak.


"Jangan bilang aku tante."Sungut Dea.


"Arin..ini Kak Dea, adik Om Dika" memberi keterangan.


Dea mendelik kearah kakaknya, dengan ekor matanya Dika memberi isyarat supaya Dea mengajak Arin bicara.


Dea mengulurkan tangannya dan bertanya kepada gadis kecil itu. "Nama adik siapa?"dan menerima uluran tangan Dea.


"Nama kakak Dea ya, nama yang indah, Kita berteman ya."Ucap gadis kecil itu sambil mengaitkan kedua telunjuknya.


Dari halaman sebelah keluar sebuah mobil hitam mengkilap.


"Tuh sudah mau diantar Mama sekolah"tunjuk Dika.


Arina menoleh dan mendapati mobil mamanya sudah menunggu dihalaman.


"Daaa...Om Dika, kak Dea!"gadis itu berlalu dengan melambaikan tangannya.


"Naik Gih, nanti telat"kata kak Dika menyuruh Dea naik ke boncengan motornya, setelah kepergian Arina.


"Ini sih, motor untuk kencan Kak Dika!"omel Dea sebelum naik.

__ADS_1


"Udah jangan bawel, besuk berangkat sendiri naik angkot". Bibir Dea manyun.


__ADS_2