MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
5. SEBUAH MISTERI


__ADS_3

Dea mengikuti langkah kakaknya pulang. Sekali Dea menoleh ke belakang. Terlihat Arina melambaikan tangannya. Dea membalas dengan melambaikan tangannya. Dika yang berjalan disisi adiknya ikutan menoleh ke belakang tidak ada siapa-siapa.


"De...masuk dulu, kakak masukkan motor dulu!"Kata Dika.


Dea memasuki halaman terlebih dahulu, sementara Dika menuntun motornya dan memasukkannya ke garansi. Melihat Dea yang masih mematung diteras, segera di bimbinganya memasuki rumah.


"Minum dulu!"Kata Dika memberikan segelas air putih kepada adiknya.


"Kamu kamu kenapa sih?"kakak panggil-panggil tidak nyahut, jadi kayak orang kesurupan saja."


"Dea lagi ngikuti Arin, katanya mau nunjukin sesuatu!"jawab Dea.


"Kamu lihat sendiri kan, rumahnya masih sepi, rupanya mereka belum kembali dari berpergian." Kata Dika menjelaskan.


Untung saja kak Dika pulang cepat, jadi Dea punya teman ngobrol dirumah!"


"ups...Dea hampir lupa belum ambil seragam untuk besuk masih dijemuran atas!"Kata Dea segera menuju lantai atas.


Dea kenyalakan lampu teras atas, cukup terang untuk meneranginya mengambil jemuran. Tangannya meraih seragam putih abu-abunya dan meletakkan dilengan sebelah kiri.


"Kreet...kriit...kreet...kriit...kreet...kriit terdengar suara ayunan.


Dea melongok ke halaman rumah Arin.


Tampak Arin bermain ayunan tanpa semangat, kepalanya tertunduk kebawah, sendirian.


Rumah besar itupun dalam keadaan gelap gulita.


Dari tempatnya berdiri Dea masih bisa menatap dengan jelas keberadaan Arin dibawah sana dengan penerangan lampu jalan.


Tiba-tiba Arin mengangkat wajahnya dan


'"Aaaaahhh!"Dea menjerit histeris melihat wajah Arin yang pucat dengan dahi belepotan darah dan darah segar menetes mengotori gaun putihnya.


Mendengar jeritan Dea, segera Dika berlari menyusul ke lantai atas. Didepati Dea tengah bersandar di dinding dengan wajah ketakutan.


"Ada apa Dea!"kak Dika mengguncang pundak adiknya.


"Hantu-hantu Arin!"disana sedang main ayunan"kata Dea putus-putus, dengan telunjuk mengarah ke halaman rumah Arin.


Dika melongok kehalaman samping. Tidak ada keganjilan terlihat disana. Dea mendekati kakaknya dan pelan-pelan ikut melongok ke Samping halaman. Tidak ada siapa-siapa. Dea mengucek matanya tidak percaya dengan perlihatannya sendiri.


"Yuk turun, baru jam 7 sudah ngigaw nggak karuan!"Kata Dika mengajak adiknya turun.


"Kak Dika tidak percaya dengan apa yang Dea lihat?"tanya Dea.


"Kak Dika percaya, tapi pastikan dulu keberadaan keluarga Arin dimana, tanyakan pada Andre. Kamu bisa telpon dia sekarang!"kata Dika segera duduk dikursi.


"Hee...Dea tidak punya nomer Andre kak!" jawab Dea ikutan duduk dikursi.


"Besuk tanyakan Andre disekolah!"kata Dika.


"Kemana kak?"tanya Dea melihat kakaknya berdiri.


"Istirahat, kamu cepetan tidur!"kata Dika.


"Takut kak!"jawab Dea


"Masa kamu ikut tidur sama kakak!"bentak Dika pada Dea.


Segera Dika melangkah menuju kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam.


Merasa merinding Dea cepat-cepat berlari masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Dia mebenamkan wajahnya ke bantal.


Keesokan harinya disekolah Dea menceritakan apa yang dialaminya kepada Risma.


"Makanya dari itu Ris, aku ingin tahu keberadaan keluarga Arin dari Andre!"kata Dea setelah bercerita.


"Sayang Andre minta ijin tiga hari tidak masuk!"kata Risma melanjutkan keterangannya.


"Dengar-dengar ya De, kalau ada arwah yang mendatangi kita, itu artinya dia butuh pertolongan!"Kata Risma tiba-tiba.


"Masa sih, berarti Arin sudah meninggal dong!"ucap Dea. Huss... cepat-cepat Dea menutup mulutnya.

__ADS_1


"Ris minta nomernya Andre ya!"Kata Dea.


"Nanti aku share!"jawab Risma.


Benar juga sepulang sekolah Risma mengirimkan nomer Andre. Dea save diponselnya. Dea masih merasa ragu untuk menghubungi Andre, akhirnya Dea memilih untuk menomer duakan egonya.


Terdengar nada sambung diponselnya.


"Hallo...!"terdengar nada berat diseberang.


"Andre...!"kata Dea. Dengan cepat suara diseberang memutus.


"Elu...dari mana lu dapat nomer gue?"


"Tidak penting, Arin bersama kalian Ndre?"tanya Dea cepat.


"Belum datang, mungkin sebentar lagi mereka sampai!"kata Andre menerangkan.


Terdengar suara keramaian dibelakang Andre .


"Lu ngapain tanya Arin?"kembali Andre bertanya.


"Sepertinya ada kejadian aneh disini Ndre!"


"Maksud lu?"


"Gimana njelasin ke kamu, pokonya aneh Ndre, please telpon mama Arin!"kata Dea memohon sekali kepada Andre.


"Ok..aku telpon mbak Rima!"kata Andre menyanggupi permintaan Dea.


"Nanti kabari aku ya!"kata Dea sekali lagi memohon.


Dea mengakhiri percakapan diponselnya.


Beberapa saat ada nada dering diponselnya.


"Hallo..bagaimana Ndre?"tanya Dea tak sabar.


"Mbak Rima belum berangkat, masih ada urusan!"kata Andre.


"Tu kan, aku juga ngerasa begitu...!"


"Suara mbak Rima seperti tertekan, tolong ya De, bila ada hal yang mencurigakan lapor pak satpam saja!"kata Andre memberi perintah.


"Sorry aku nyusahi kamu!"lanjut Andre kemudian. sebelum menutup telpon.


Dea menatap jam yang menempel didinding pukul 4 sore. Sebelum keluar halaman tadi dia sempat WA Risma untuk menemaninya Dea melangkah menyusuri pagar rumah Arin.


Halaman yang berpagar tembok itu menghalanginya pengamatannya kedalam rumah. Satu-satunya jalan yaitu pintu pagar yang terbuat dari besi yang cukup lebar itu. Dea berjalan dengan deg-degan. Akhirnya sampe juga dia didepan pintu pagar.


Kembali Dea tersentak melihat Arin berdiri dimuka pintu rumah. Dea mendorong-ndorong pintu pagar yang terkunci itu, menimbulkan bunyi berisik. Dea memejamkan matanya yang tiba-tiba perih.


Kembali membuka mata Arin sudah menghilang.


Dea mempertajam pendengaran serta penglihatannya sekilas matanya menangkap gorden yang menutupi jendela bergerak. Ada bayangan orang menjauhi jendela. Rumah itu kembali sepi seperti tak berpenghuni.


Kemudian Dea merasa seseorang memegang pundaknya dan bersama dengan itu dari dalam rumah. Terdengar bunyi klintii...iiing seperti suara benda logam terjatuh. Sekalipun sekilas Dea mendengar suara itu.


"Kamu Ris, bikin kaget orang saja!"kata Dea begitu tahu siapa yang datang.


"Kamu seperti mau maling saja, ngintip rumah orang!"


"Kamu tadi dengar sesuatu!"tanya Dea.


"Hiii...hiii..hiii..hii!"kata Risma masih bercanda.


"Nggak lucu Ris, aku serius!"kata Dea dengan tampang kesal sekaligus serius.


Mereka berdua masih berdiri dipintu pagar rumah mama Arin. Sekali lagi Dea menatap kedalam rumah, lengang dan hening.


"Ke pos satpam, kita lapor yuk!"ajak Dea tiba-tiba.


"Apa yang dilaporkan De, tidak ada keributan, tidak ada yang mencurigakan, apa yang kita laporkan kita tak punya bukti apa-apa."

__ADS_1


Sedang apa mbak Dea, kok berdiri dimuka pagar orang?"pak Beng salah satu satpam komplek tengah tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka. Risma menyikut lengan Dea .


"Ada apa to mbak?"tanya Pak Beng menjadi penasaran.


"Tidak ada apa-apa Pak Beng, cuma penasaran sejak kemarin tidak ngelihat Arin"Kata Dea.


"Mungkin pergi keluar mbak, nih..pagarnya saja dikunci"kata Pak Beng memeriksa pagar.


"Kalian berdua kembali saja kerumah !"kata Pak Beng memberi perintah sebelum melanjutkan mengontrol keamanan komplek Kembali.


"Yuk, kerumah mu!"ajak Risma.


Sebelum meninggal rumah Arin, Dea menoleh kedalam. Sosok Arin berdiri dengan muka pucat belepotan darah. Dea tiba-tiba bergidik.


"Bagaimana kabar dari Andre?"tanya Risma setelah mereka Sampai rumah.


"Andre bilang mama Arin masih dirumah!"kata Dea.


"Kamu lihat sendiri rumahnya sepi!"


"Terus kita bagaimana Ris?"tanya Dea.


"Mungkin mereka belum pulang, De masih dikantor!"


"Itu mamanya bisa saja, tapi Arin sama simbok?"


"Iya...ya!"kata Risma.


"Aku tanya Andre saja?"


Risma pun menghubungi Andre dengan ponselnya.


"Ada apa Ris, jadi kamu yang kasih nomer ke Dea?"


"Dea mana, bilangin mbak Rima baru saja berangkat!"terdengar jelas suara Andre.


"Sudah ya aku sibuk!"kata Andre diseberang, hubungan terputus.


Atas permintaan Dea, akhirnya Risma tidur dirumah Dea. Mereka berdua berbincang sampai larut tidak ada kejadian aneh yang menimpa mereka. Malam sampai Dika pulang keadaan tatap aman, Dea tidak melihat penampakan Arin lagi.


Malam terus merambat mencapai puncaknya. Dari pos satpam terdengar bel pukul 12 kali. Dea terjaga, terdengar motor lewat kemudian pak satpam sedang berkeliling patroli. Seperti ada yang menggerakkan Dea, dia menoleh kearah jendela.


"Ris, bangun Ris, bangun!"kata Dea mengguncang tubuh temannya.


"Bangun Ris!"Risma mengucek-ucek matanya mengusir rasa kantuk. Dea menunjuk kearah jendela.


"Ada orang diluar Ris!"


"Mana, tidak ada siapa-siapa"Risma tidak melihat siapa-siapa.


Mereka berdua bangkit dan menuju arah jendela. Dea masih melihat ada sosok dibalik jendela. Dea berjalan dibelakang Risma.


Risma pelan-pelan membuka jendela.


"Lihat tidak ada siapa-siapa!"kata Risma.


Melongok keluar jendela dan sekelilingnya.


Kembali Risma menutup jendela dan mengajak Dea tidur kembali.


"Kreet...kriit...kreet...kriit...kreet...kriit!"kembali Dea mendengar suara ayunan. Dikejauhan terdengar adzan subuh. Dea bangun dan menuju lantai atas, disana dia bisa menatap halaman rumah sebelah. Arina ditemani Si Mbok tengah main ayunan.


"Kak Dea tolong Arin!"mereka berdua mendongak menatap Dea. Dea tersentak dan mundur selangkah.


"Tolong Arin kak!"Dea melihat mereka masuk rumah dan lenyap.


Dibawah, dalam kamar Risma bangun dan tidak menemukan Dea tidur disampingnya. Risma keluar kamar, matanya melihat sekeliling tidak menemukan Dea.


"De....Dea!"kata Risma.


Dalam kamarnya Dika mendengar suara ribut-ribut segera keluar.


"Ada apa Ris?"tanya Dika yang mendapati Risma mencari-cari adiknya. Dika memeriksa pintu depan masih terkunci. Segera Dika berlari menuju lantai atas Risma mengikuti dari belakang. Dika dan Risma menemukan Dea bersandar didinding dengan bermandi keringat.

__ADS_1


Dika melongok kehalaman rumah tetangganya tak ada siapa-siapa disana. Risma menuntun Dea turun dan Dika mengikutinya dari belakang. Keanehan pada diri Arina masih belum terkuak. Sampai mereka dikejutkan oleh bunyi dipagi itu.


__ADS_2