MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
18. BERTEMU PANJI LAKSANA


__ADS_3

Sungguh permintaan yang ribet mengisi hidupnya, Dea uring-uringan atas permintaan Panji tersebut. "Ayo nakmas cepat ganti sana !"perintah aki. Dengan langkah berat beranjak juga Dea masuk bilik ni Asih.


Dengan terpaksa Dea mengenakan juga kebaya pemberian Panji, dan melilitkan kain batiknya setinggi lutut tanpa melepas celana levisnya.


"Begini saja daripada ribet !"pikir Dea dan segera keluar.


Aki dan ni Asih terpana melihat kecantikan Dea yang mengenakan kebaya coklat sangat serasi dengan kulitnya yang kuning langsat.


"Kamu benar-benar cantik nakmas !" kata ni Asih.


Ni Asih mendekat. "Sebaiknya ikat rambutnya dilepas !"Ni Asih melepas ikatan rambut Dea dan merapikannya. "Dibiarkan lepas tergerai begini lebih memikat !"


"Tapi ni, saya tak punya maksud memikat Panji !"


"Gadis ini memang benar-benar keras kepala !" pikir Aki Karta.


"Sudahlah ni biarkan apa kemauan Safitri !"kata Aki Karta menghentikan ni Asih supaya tidak mencampuri urusan Dea.


"Sekarang mari kita pergi !"ajak Aki Karta.


Aki Karta mengambil oncornya dan menyulitnya.


"Ni tutup pintunya kembali !"kata aki membuka pintu. Dea mengikuti aki yang keluar dan mengikutinya.


"Jangan terlalu jauh dibelakangku, nak mas belum mengenal seluk beluk dusun sini !"


"Ya aki !" jawab Dea.


Dea terus mengikuti langkah aki dan berhenti disebuah bangunan yang besar dan luas.


"Ini tempat kediaman tuanku Panji !"kata aki.

__ADS_1


"O.......kita sudah sampai rumahnya ki ?"


Sebuah rumah yang mungkin berbeda dari bangunan rumah lainnya. Untuk mencapai pintu saja aki memberi tahu Dea kalau harus naik beberapa tingkat, mungkin bangunan rumah itu berada di tempat yang tanahnya agak tinggi.


"Berhenti nakmas kita harus naik beberapa tingkat !"kata Dea.


"Hati-hati nanti kakinya kesandung jatuh !"


Dea berjalan disamping aki Karta mengikuti gerakan aki dengan melangkah kakinya hati-hati. Pada hitungan ketujuh aki Karta berkata lagi.


"Kita sudah sampai atas nakmas !"


Aki kembali berjalan beberapa langkah dan mengetuk pintu. Dari arah dalam terdengar sebuah suara penuh wibawa.


"Silahkan masuk aki !"


Aki mendorong pintu ruangan yang luas dengan penerangan yang cukup terang menerangi ruangan itu. Dea melihat seseorang berdiri membelakanginya dengan melipat tangannya ke belakang mengenakan baju bergaris coklat dan celana hitam.


"Dea kamu jangan terpesona oleh arwah yang penasaran, Panji itu cuma arwah !"kata hati Dea menguatkan perasaannya.


Dea bertunduk menyembunyikan perasaannya.


"Aki terima kasih telah membawa Dea kemari !"kata Panji dengan penuh sopan. Dea mengangkat kepalanya yang menunduk dan menatap kearah Panji yang menatapnya dengan tersenyum. Laki-laki yang bernama Panji itu memang tampan. Buru-buru Dea menunduk kembali. Dea mengumpat dirinya dalam hati karena tidak berdaya melawan pesona Panji yang memikatnya.


"Sekarang aki boleh berjaga kembali !"katanya tegas.


"Terus saya bagaimana aki !"kata Dea seperti anak kecil.


"Sekarang nakmas berada dirumah tuanku, tuan Panji yang yang akan menjaga !"


"Saya kembali ketapal batas tuanku !"kata aki Karta undur diri.

__ADS_1


Sepenggal aki Karta Dea terjebak dalam kekakuan bersama Panji.


"Hem.....!"Panji berdehem dengan maksud mencairkan suasana. Panji mendekati Dea beberapa langkah, jarak mereka kian dekat. Perasaan Dea semakin tidak. menentu. Dibawah alam sadarnya Dea merasakan sentuhan Panji beberapa kali menolongnya.


"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu Dea !"katanya memuji.


Panji memanggil namanya dengan Dea, tanpa sadar Dea menatap Panji.


"Kamu memanggil aku Dea !"kata Dea tiba-tiba mendapatkan kekuatannya.


Panji tersenyum memamerkan ketampanannya dan Dea terpesona.


"Diduniamu teman-teman kamu memanggil kamu,Dea kan ?"


"Iya, kamu tahu itu ?"


Panji hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Lama mereka saling menatap desiran-desiran aneh menelusuri aliran darah Dea. Beberapa kali Panji menelan ludahnya, mungkin merasakan apa yang Dea rasakan. Dia berjalan menjauh dari tempat Dea berdiri.


Dengan posisi membelakangi Dea. Hanya dengan cara itu dia mengendalikan gejolak perasaannya.


Lama tercipta keheningan diantara mereka. Keduanya bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu bisa ceritakan siapa Safitri ?"tanya Dea tiba-tiba memecah keheningan.


Dea tidak mengetahui ketegangan diraut wajah tampan itu.


"Maaf aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu !"


Beberapa saat laki-laki itu hanya terdiam dan masih membelakanginya.


"Aku juga ingin tahu, dimana jiwa Lestari kamu tahan !"kata Dea kembali.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dea, Panji segera membalikkan tubuhnya ,menatap Dea dengan sorot tajam. Beberapa langkah dia mendekat kearah Dea kembali wajah yang tadinya mempesona bagi Dea kini berubah sangar menatapnya.


__ADS_2