
Ting..tong...ting...tong...ting...tong!"
Suara bel dipagi-pagi yang mengagetkan semua orang yang tengah duduk diruang tengah. Dika melangkah keluar menemui siapa orang yang datang berkunjung.
Suasana sudah cukup terang, lampu-lampu penerangan jalan pun sudah diadamkan. Dilangkit timur semburat merah menghiasai cakrawala, mengantar mentari menyinari Maya pada.
Andre masih berdiri diluar pagar dengan kedua tangannya memegang terali besi. Rupanya dia tak sabar ingin bertemu tuan rumah. Sementara mobil putihnya terpakir tidak jauh darinya. Segera Dika membuka gembok yang terkunci. Klek kunci terbuka menghambur Andre memasuki halaman.
"Dimana Dea kak?"tanya Andre gugup.
"Ada didalam."
Andre mengikuti Dika yang memasuki rumah.
"Bagaimana kabar kalian?"tanya Andre begitu melihat Risma dan Dea.
"Baik, hanya saja Dea yang kurang baik!"jawab Risma.
"Dea yang sering melihat penampakan Arin, kadang sangat menakutkan kata Dea!"kata Risma memberi penjelasan kepada Andre.
"Kalian mengatakan Arina sudah meninggal!"kata Andre protes, sekaligus geram menahan marah.
"Tenang Ndre, kemarin Dea melihat Arin katanya, sedang aku tidak pernah liat siapa-siapa!"kata Dika menenangkan Andre yang sedikit emosi.
"Siapa tahu Arin butuh pertolongan, Ndre!"kata Dea memberi penjelasan. Datang dari kita.
"Terus kenapa kamu pagi-pagi kemari?"tanya Dea penasaran."Bukannya Arin sama mamanya sudah berangkat, mereka sudah sampe kah?"kembali Dea bertanya.
Dea menangkap kegelisahan diwajah Andre.
"Mereka belum sampe. Sejak tadi malam kami semua menunggu di Semarang, mereka belum sampai. Jadi aku balik kemari. Aku lihat rumahnya sepi, gelap seperti tidak berpenghuni!"kata Andre.
"Itu yang terjadi sejak dua hari lalu!"kata Dea.
Untuk memastikan kita harus masuk rumah itu!"kata Dika memberi saran."Kita semua mbolos hari ini!"lanjut Dika kemudian.
"Sekarang kita punya alasan memasuki rumah itu.Ada kamu!"masih Dika yang berbicara.
"Tapi aku takut kak!"kata Dea tiba-tiba.
"Takut sesuatu yang mengerikan"lanjutnya.
Mereka berempat terdiam, tidak ada yang membuka suara.
"Ok..kita harus masuk rumah itu, aku yang bertanggung jawab, mereka adalah keluargaku!"kata Andre yang tiba-tiba memecah kebisuan diantara mereka."Kita buka paksa kunci pagar atau kita masuk dengan melompat pagar"masih Andre yang bicara.
__ADS_1
Berempat menuju rumah sebelah. Mereka masuk dengan cara melompat pagar Andre masuk terlebih dulu diikuti oleh Risma, Dea dan Dika yang terakhir. Mereka mendekati pintu, bau yang terasa aneh menusuk hidung mereka. Risma menutup hidungnya dengan tangganya sambil menahan rasa mual diperutnya.
"Bau anyir bercampur bau bangkai!"kata Dea. Mempertajam penciumannya. Sedang Andre dan Dika sibuk mencari jalan masuk. Andre berteriak memanggil-manggil nama kakaknya .
"Mbak Risma, Arina, kalian didalam!"
Sepi tidak ada sahutan. Dika mencoba membuka pintu terkunci."Kita dobrak aja pintunya Ndre!"kata Dika meminta solusi Andre.
"Mereka berdua mencoba mendobrak daun pintu dengan kaki mereka, belum jebol!"
"Minggir!"kata Dea. Segera Dea memasang kuda-kuda serta menghirup udara dalam-dalam. Sekali tendang daun pintu jebol. Andre menghambur kedalam.
"Mbak Rima, Arin!"Arina!"teriak Andre.
Bau menusuk kian tajam, Dea melangkah mengikuti aroma dari hidungnya. Bau anyir menyengat itu berasal dari sebuah kamar.
"Ndre, Kak Dika!"kata Dea memanggil keduanya supaya mendekat. Sedang Risma dari tadi sudah menguntit dibelakang Dea.
"Takut De...!"kata Risma bersembunyi dipunggung Dea.
"Ini ruang apa Ndre?"tanya Dea pada Andre.
"Ruang baca sekaligus rauang kerja mbak Rima!"kata Andre memberi penjelasan.
"Kita buka !"kata Dea dengan menelan ludah. Rasa mual terasa sampe ke kerongkongan. Risma kian merapatkan bungkaman hidungnya.
"Mbak Rimaaa!"Andre berteriak histeris syok. Melihat pemandangan yang mengerikan terpampang dihadapannya. Dika menahan mual yang siap keluar. Sedang Risma berteriak histeris dan muntah-muntah.
Dea berusaha untuk tatag melihat pemandangan dihadapannya, tangannya diletakkan dipundak Andre memberi semangat supaya kuat.
Pemandangan yang sangat mengerikan, Mbak Rima yang tewas mengenaskan dengan luka tikaman diperut yang robek dan sebilah pisau menancap didada tepat dijantungnya.
Darah masih belum mengering menandakan kejadian itu belum lama berlangsung.
"Jangan sentuh apapun yang akan menyulitkan penyelidikan polisi!"kata Dea mengingatkan Andre yang akan menyentuh tubuh kakaknya.
"Kita cari Arin, biar kak Dika lapor polisi!"kata Dea memberi perintah.
Dea yang sekilas menangkap sekelebat bayangan Arin menyusulnya. Melihat Dea bergerak Risma segera mengikuti. Tanpa ragu Dea mengikuti sosok Arin yang pucat. Didapur Dea menemukan Si Mbok duduk dikursi dengan tangan terikat dengan kondisi gosong. Masih ada kabel listrik terkelupas terserak dilantai.
"Hati-hati Risma!"Risma pun hati-hati melangkah.
Dea masih mengikuti Arin yang menuju ke sebuah ruangan dan dia menghilang. Seperti gudang, dibawah jemuran tergeletak palu bernoda darah kering. Dea dan Risma bergidik."Kita masuk Ris!"ajak Dea.
"Aku takut, aku tunggu disini!"kata Risma.
__ADS_1
"Jangan sentuh apapun !"kata Dea mengingatkan Risma.
Risma hanya mengangguk takut suaranya didengar seseorang.
Dea membuka pintu dengan melapisi tangannya dengan kaus yang dikenakan. Dea mundur selangkah mendapati dipojok ruangan penuh beracak-bercak, noda darah kering menempel di dinding. Bau tak sedap menyengat hidung. Dea kembali mempertajam penciumannya, tepat disebuah lemari kayu Dea berhenti, bau kian menusuk dirasakannya. Kembali Dea membuka pintu lemari dengan tangan dilapisi kausnya. Terdapat gantungan baju-baju gamis tergantung disana, masih rapi. Tanpa sengaja tangan Dea menyentuh sesuatu yang menonjol. Dinding lemari bergerak, Dea masuk kedalam lemari menemukan lorong menuju kebawah. Ternyata bangunan rahasia bawah tanah, keadaan sekeliling gelap. Dea menajamkan penglihatan matanya, semar-semar matanya terbiasa dalam kegelapan.
Selangkah-selangkah Dea mengayun kakinya, hingga kakinya menyandung sesuatu. Dea memandang ke bawah tepat kearah kakinya, dan dia menjerit histeris.
"Tidak....!"
Tubuh Arina tergeletak dengan luka di kepala dan wajah yang nyaris tak terbentuk, yang sudah mulai membusuk. Dea berteriak dan menangis histeris tidak kuasa melihat penganiayaan terhadap Arina.
"Terima kasih Kak Dea!"lamat-lamat Dea mendengar suara Arina lembut.
Dea menghentikan tangisnya, melihat Arina tersenyum dan menghilang.
"De...Dea!"terdengar Risma memanggil namanya. Dea mendengar suara-suara gaduh diatasnya. Dengan gontai Dea keluar dari rauang rahasia, membuka pintu lemari dan keluar dari lemari. Semua yang ada didalam gudang itu tersentak kaget atas kemunculannya yang tiba-tiba.
"Kamu keluar dari lemari?"tanya Risma terheran-heran dengan memegang kedua tangan Dea. Melihat Andre berjalan masuk Dea segera berkata,"Arina berada didalam ruangan rahasia!"melihat wajah Dea, Andre tidak mempunyai harapan terhadap Arina. Dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya.
"Ya Tuhan, apa salah Dan dosa mereka siapa yang tega bertindak kejam kepada mereka!"ratap Andre.
"Sudah kamu yang sabar, biar yang berwajib mengurus mereka !"kata Dika memberi kekuatan kepada Andre.
"Kita tunggu didepan!"kata Dika kemudian.
Mereka menunggu diruangan depan, pihak berwajib serta para medis masih sibuk mengurusi jenazah serta menyelidik barang buktinya yang ada. Dua orang polisi saling bicara dan memasukkan barang bukti pada kantong plastik.
"Barang bukti, terdapat sidik jari yang semuanya mengarah pada satu orang. Menilik kondisi jenasah bisa saja kemungkinan terjadi."
Pembicaraan kedua polisi itu, tertangkap oleh mereka berempat. Mereka saling tatap ingin segera mengetahui hasil penyelidikan. Andre berdiri dan melangkah mendekati kedua petugas itu.
"Maksudnya bagaimana pak?"tanya Andre.
"Anda siapa?"balik Andre yang ditanya.
"Saya Andre, adik dari korban!"jawab Andre.
"Saudara tinggal satu rumah dengan korban?"
"Tidak pak!"jawab Andre.
"Bersediakah adik sewaktu-waktu dipanggil untuk penyelidikan kasus ini lebih lanjut!"
"Bersedia pak!"jawab Andre.
__ADS_1
Mereka berempat masih menunggu petugas yang mengumpulkan barang-barang bukti serta mengevakuasi jenazah korban dibawah kerumah sakit. Untuk beberapa hari kedepan mereka masih menunggu hasil kasus itu dari pihak berwajib.