MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
10. BUKAN AKHIR PERJALANAN DEA


__ADS_3

Pelan-pelan Dea membuka mata. Ruangan serba putih yang dilihatnya.


"Dea.... kamu sudah sadar !"


Dilihatnya Dika kakaknya segera memeluknya.


"Aku belum mati kak Dika, aku masih hidup ?"tanya Dea.


"Kamu masih hidup De !"kata Dika mencium tangan adiknya.


"Tapi laki-laki itu ?"tanya Dea.


" Dia sudah kembali ke rumah sakit jiwa !"kata Dika.


"Dia sebenarnya baik kak kalau tidak kambuh, dia juga berusaha menolong Dea !"kata Dea menuturkan


"Sudah jangan banyak bergerak, namanya juga gila tetap berbahaya De. Sudah jangan pikirkan dia, yang penting kamu selamat."


kata Dika membelai rambut adiknya.


"Kamu satu-satunya keluarga yang aku punya De. Bagaimana jadinya kalau kamu tiada. Tentu kak Dika tidak bisa maafkan diri kakak sendiri !"kata Dika.


"Dea baik-baik saja kok kak !"kata Dea.


Seorang suster datang memeriksa keadaan Dea, dan beralih memeriksa kondisi pasien sebelah.


"Mari Mbak Dea !"kata Suster itu ketika melewati Dea.


"Dia sakit apa kak ?"tanya Dea.


"Hus !"kata Dika.


"Sudah istirahat, jangan mikir yang terlalu berat !"


"Kak Dika keluar dulu ya, melihat kamu sadar mendadak lapar."


Dea menganggukkan kepalanya.


Ruangan yang ditempati Dea terasa hening membuat Dea tertidur beberapa saat. Didalam tidurnya Dea merasa melayang berada dalam suatu tempat yang teramat jauh ke pendalaman. Suasana hening, sepi serta hawa sejuk yang sukar dilukiskan. Lamat-lamat seseorang memanggil- manggil namanya.


"Safitri.. safitri !"


"Krieeet.....!"Dea tersentak kaget.


Seseorang datang membuka pintu. Seseorang wanita tua datang menjenguk pasien sebelah. Melihat Dea membuka mata wanita itu tersenyum.


Dea membalas tersenyum ramah.


"Beruntung mbak bisa sadar !"kata wanita itu mendekati ranjang Dea.


"Semenjak diketemukan pingsan anakku tidak pernah sadar !"katanya dengan nada sedih.


"Anak ibu kecelakaan ?"tanya Dea.


Wanita itu menggeleng, sorot matanya yang sagu mencerminkan kedukaan yang dialaminnya.


"Menurut paranormal jiwa anakku terjebak oleh kekuatan yang kasat mata."

__ADS_1


"Anak ibu diketemukan pingsan dimana ?"tanya Dea.


"Di sebuah desa tempat dia KKN !"jawab wanita tua itu.


Wanita tua itu menyebutkan sebuah nama yang ada di Jawa Timur. Menurut aku desa itu tidak terlalu terpencil. Bahkan di IG (istagram) pembangunannya lumayan maju terutama di bidang pariwisata. Perangkat desa setempat membangun sarana yang ada menjadi tempat wisata. Aneh rasanya gadis itu bisa terjebak jiwanya dalam kekuatan gaib kecuali dia sengaja atau tidak merusak situs keramat yang ada.


Dea tergeragap mengapa sampai sejauh itu dia memikirkan gadis itu. Pintu ruangan terbuka muncul Dika dari balik pintu.


"Oh bu Ningsih, terima kasih telah menemani Dea !”kata Dika berbasa-basi dengan bu Ningsih nama wanita itu.


"Nak Dika bersyukur adiknya selamat., sudah sadar, sudah sehat !"kata wanita itu sekilas menatap anaknya.


"Terima kasih bu, ibu yang sabar ya !"kata Dika menguatkan perasaan ibu itu.


"Ibu pulang dulu, titip anak saya ya nak !"kata ibu Ningsih pamit pulang.


Ruangan kembali sepi, Dea menatap langit-langit ruangan, rasanya dia kangen sama Risma, ingin berbagi cerita lagi.


"Hayo melamun ya !"suara Dika mengagetkan Dea.


Pintu kembali dibuka seseorang yang Dea kenal betul yang tengah dia rindukan tiba-tiba nonggol.


"Dea...!"Risma segera menghambur dan memeluk Dea.


Dibelakangnya berdiri cowok jangkung yang dia kenal pula.


"Aku menyesal De, tidak bisa jagain kamu !"kata Risma


"Hai.. itu di batas kemampuan kamu Ris !"


"Syukur kamu masih hidup De, tidak dibantai sama makhluk buas itu !"kata Risma kesal.


"Iya.. iya elu, jadi pahlawan bagi Dea !"kata Risma pula.


"Jangan berisik, kasihan pasien sebelah keganggu !"kata Dika menginggatkan.


"Dia masih koma Kak ?"kata Risma memelankan suaranya.


"Iya... sudah enam hari dia koma !"kata Dika menjelaskan.


"Kasihan juga ya !"kata Andre.


"Kamu tidak usah takut De, Seno dipindahkan kerumah sakit jiwa yang ada diibu kota, jauh dari sini !"kata Andre sekali lagi.


"Rupanya ada yang pedekate, Anes mau kamu taruh mana !"kata Risma pula.


"Huss... dibilangi jangan berisik !"kata Dika sekali lagi menginggatkan.


Jam besuk pun berlalu, ruangan kembali sepi dan hening. Hanya beberapa perawat yang kebetulan lewat memeriksa pasien. Waktu terus berputar menemani malam. Pelan-pelan mata Dea terkatup, dan akhirnya terlelap.


Kembali ada seseorang yang memanggil namanya


"Safitri.... Safitri...!"


Dea berdiri dibawah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dengan daunya yang lebat menghalangi sinar matahari jatuh kepermukaan tanah.


"Safitri.... Safitri...!"kamu sudah lama ditunggu-tunggu Safitri. Kembali Dea menatap sekeliling hanya kelebatan hutan yang mengelilinginya. Terperanjat tak jauh darinya tergeletak sesosok tubuh. Dea mendekati dan membalik tubuh yang tersungkir itu.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim !"


Kembali Dea tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke arah ranjang pasien sebelahnya gadis itu tetap tenang dalam komanya. Untuk kedua kalinya dia bermimpi ditempat yang sama dan dia bertemu dengan gadis itu pingsan dalam mimpinya. Dilihatnya Dea masih terlelap dilantai. Yang ada didalam pikirannya mengapa suara laki-laki itu memanggil Dea, dengan Safitri nama belakangnya.


Sudah satu minggu Dea menerima perawatan dirumah sakit, hari ini diperbolehkan pulang.


Sebelum pulang Dea menyempatkan mendekati pasien itu. Lestari ternyata nama pasien itu. Wajahnya tenang seperti terlelap tidur dalam jangka waktu yang lama.


Dea menggenggam jemari tangan Lestari, bermaksud mengucapkan selamat tinggal, tetapi Dea seakan dibawa ke suatu tempat dan sperti tidak asing lagi baginya, gadis itu dalam keadaan terikat di sebuah tiang ditengah-tengah lapangan.


"De....mari pulang !"kata Dika mendekati tempat Dea. Jiwa Dea kembali ketempat semula.


"Kamu kenapa ?"tanya Dika.


"Semoga saja kekuatan jahat segera membebaskan jiwanya !"kata Dea kemudian.


Dipintu keluar rumah sakit sudah menunggu Andre dengan mobilnya.


"Sudah lama nunggu ?"tanya Dika kepada Andre.


"Baru saja sampai Kak !"jawab Andre.


"Lain kali jangan minta bantuan Andre ya Kak !"kata Dea kepada Dika ketika mereka sudah sampe rumah.


Dika menatap adiknya penuh tanya. Dan Dea mengerti arti tatapan Dika.


"Dea hanya tidak ingin merasa berhutang budi padanya Kak !"kata Dea membela diri.


"Ya, Kakak mengerti !"kata Dika membelai lembut rambut adiknya.


Berkali-kali Dea selalu memimpikan hal yang sama. Terjebak ditengah-tengah hutan belantara.


Berdiri di sebuah mata air yang jernih dan suara laki-laki yang memanggil namanya.


Dan keberadaan seorang gadis yang tergeletak di tepi mata air. Ada apa sebenarnya dengan itu semua.


Mungkinkah itu sebuah awal perjalanan sebenarnya dalam menguak misteri demi misteri.


Jiwa-jiwa yang terbelenggu oleh sebuah kekuatan yang kasat mata dan ingin di bebaskan olehnya.


Itu pertanyaan yang sering menggelayuti pikirannya.


Hingga suatu malam Dea kemukakan kepada Kakaknya.


"Kak aku tidak mau selalu dihantui mimpi-mimpi itu Kak !"


"Aku harus cari tempat itu, datangi tempat itu apapun yang terjadi."


"Tapi De itu sangat berbahaya siapa yang menjaga keselamatanmu !"kata Dika.


"Allah yang akan menjaganya !"kata Dea menatap.


"Kakak tidak usah merasa bersalah, melepas Dea, Dea meminta doa serta dukungan kakak !"kata Dea menyakinkan kakaknya.


Dika memeluk adiknya


"Jaga diri kamu baik-baik kalau itu sudah menjadi pilihanmu."

__ADS_1


Dika semakin erat memeluk adiknya, rasanya tidak tega melepaskan adiknya memulai pertualangan seorang diri. Dan dia harus melepasnya tidak ada pilihan lain.


__ADS_2