
Sudah 2hari Dea menghilang. Dari kepolisian belum ada bukti keberadaan Dea. Andre dengan sedikit harapan mendatangi Dika.
"Belum ada kabar tentang Dea kak ?"tanya Andre.
Dika memberi jawaban dengan gelengan kepala.
"Kita cari berdua, Andre ingat Kak Rima mempunyai sebuah rumah jauh diluar kota. Kita kesana siapa tahu Seno membawa Dea kesana !"kata Andre.
"Kamu yakin Ndre, soal ini ?"tanya Dika ragu.
"Rumah itu asli milik Seno !"kata Andre memberi keterangan.
"Kita berangkat sekarang !"ajak Dika akhirnya.
Akhirnya mereka berdua melaju dengan mengendarai mobil Andre menuju luar kota.
Sementara Dea masih terikat dengan keadaan kepala terkulai karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Melihat Dea yang terkulai lemas laki-laki itu bangkit dan mendekatinya. Dilihatnya luka Dea yang menganga masih mengalir darah.
Laki-laki itu pergi keluar dan kembali dengan membawa gunting dan perban. Nyali Dea menciut melihat gunting berada di tangan laki-laki itu. Dengan gerakan cepat dia menggunting lengan gaun Dea, dan melihat luka Dea.
Dituangnya sebuah cairan ke luka Dea.
"Aaw!" kata Dea lirih merasakan rasa perih serta kesakitan
__ADS_1
"Tahan !”katanya menyatukan luka Dea yang menganga dan membalutnya dengan perban.
"Kenapa menolong ku ?"tanya Dea.
"Karena kamu kuat menahan sakit. Aku suka itu, kamu bisa temani aku disini !"jawabnya dingin.
"Toh pada akhirnya aku mati juga, kelaparan dan kehabisan darah !"kata Dea pula.
"Aku akan keluar !"kata laki-laki itu melangkah keluar.
Dea mendengar pintu ditutup dengan keras dan bunyi klik pintu dikunci. Sebentar kemudian deru mobil meninggalkan rumah itu. Suasana kembali sepi tak satupun bunyi kendaraan lewat. Menghirup udara yang terasa segar. Dea menduga dia berada dikawasan yang jauh dari kota. Kemungkinan kecil Dea berharap pertolongan datang kepadannya. Kembali Dea berusaha melepas ikatannya terasa semakin melonggar.
Kembali terdengar suara mobil memasuki halaman. Kembali Dea terkulai lemas, habis sudah harapannya.
Laki-laki itu datang kemabali dengan membawa sesuatu diletakkan di meja.
"Kenapa kamu membunuh keluargamu ?"tanya Dea tiba-tiba.
"Itu ganjaran untuk Rima yang telah mengirimku kerumah sakit jiwa !"katanya.
"Dan Arin?"
"Dia bukan anakku, anak orang lain !"
"Darimana kamu tahu !"
__ADS_1
"Bangsat !"katanya membanting botol ke lantai .
"Kamu dikasih hati malah ngelunjak !" katanya dengan geram menempeleng kepala Dea.
"Ciih !" lumpat Dea.
Suasana kembali hening, mata laki-laki itu nanar menatap belati yang tergeletak di lantai.
"Kamu ingin mampus sekarang !" kata laki-laki itu segera meraih belati dan menghujamkan ke dada Dea.
"Aaah !"Dea menjerit mendapat tusukan yang mendadak. Beruntung tusukan itu tidak begitu dalam.
Kembali laki-laki itu membuang belatinya. Dia bersandar didinding dan melorot ke lantai dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Apa yang telah aku lakukan !" katanya meratap. Dia benar-benar frustasi merasa gila.
Dea pasrah dan menahan sakit, dengan cara mengigit giginya. Napasnya turun naik.
Tersadar dari sesuatu laki-laki itu segera mendekati Dea dan melepaskan semua ikatan Dea. Sedangkan Dea jatuh terkulai pingsan.
laki-laki itu segera mengangkat tubuh Dea dan membawanya keluar.
Saat dia membuka pintu sesuatu yang keras menghantam kepalanya dan jatuh tersungkur diatas Dea.
"Dea... Dea...!" teriak Dika segera menggulingkan tubuh laki-laki yang baru saja dipukul kepalanya.
__ADS_1
Dika segera mengangkat tubuh Dea dan memasukkan kedalam mobil Andre. Dan melarikan ke rumah sakit.
Diperjalanan mereka berpapasan dengan mobil polisi yang mendapat laporan dari Andre.