
Beberapa bulan kemudian
"Dapat undangan dari Rena, De?" tanya Andre
"Iya !" jawab Dea singkat.
"Hai Ndre, nanti jemput aku ya !"kata Anes manja dan tersenyum sinis ke arah Dea.
" Seru ya De !" kata Andre berlalu bersama Anes.
"Memang gue pikir!" jawab Dea
"Kebetulan yuk naik aku anterin sampai rumah!"ajak Risma.
Dea segera membuka pintu mobil dan duduk disebelah Risma.
" Nanti malam aku jemput ya jam delapan!"kata Risma.
"Apa nggak ngerepotin kamu !" kata Dea.
"Ya sama sekali tidak De !"kata Risma.
Mobil terus melaju sampai didepan halaman rumah Dea. Melewati rumah Arin yang kosong membuat Risma bergidik ngeri, dan dia tidak ingin membahasnya kepada Dea.
" Terima kasih ya Ris, atas tumpangannya!"kata Dea sebelum membuka pintu mobil.
"Pak Udin terima kasih ya !"kata Dea turun dari mobil.
"Iya sama-sama non !"jawab Pak Udin sopir pribadi keluarga Risma.
Risma membuka kaca pintu mobil dan melambaikan tangannya kepada Dea.
" Sampai nanti malam !"kata Risma.
Siang bergulir menggantikan malam. Sedari tadi dia menghubungi kakaknya belum mendapat jawaban mungkin ponselnya kehabisan baterai. Akhirnya Dea menulis pesan di selembar kertas.
Kak Dika, Dea pergi menghadiri ulang tahun teman. Maaf kalau nanti pulang terlambat.
Didepan terdengar mobil berhenti. Pastilah Risma sudah menjemputnya. Terlihat ponselnya bergetar.
"Sudah siap, aku sudah didepan !" pesan dari Risma.
Sekali lagi Dea mematut diri didepan cermin, melihat riasan di wajahnya dan tersenyum geli melihat raut wajahnya.
Melihat kemunculan Dea yang mengenakan Longdress warna brown dengan sepatu hak tinggi membuat Risma terpana. Dan tatanan rambut diikat.
"Prempuan banget !" kata Risma histeris karena selama ini Dea selalu berpenampilan natural dan sedikit tomboy.
"Ternyata kamu bisa tampil secantik ini De !" puji Risma setelah Dea berada didalam mobil.
"Kamu bisa aja Ris !" kata Dea merendah.
"Jalan pak !"perintah Risma kepada supirnya.
Dea menoleh ke belakan, sebelum masuk kedalam mobil tadi Dea sempat melihat mobil warna hitam parkir tak jauh dari rumah Arin yang kosong, mungkin tamu kali.
" Lihat apa De, kok panik ?"tanya Risma.
"Nggak cuma pastikan kita tidak ddiikuti !"kata Dea.
Mobil pun memasuki sebuah hotel tempat berlangsungnya ulang tahun Rena. Mobil berhenti dimuka lobi menurunkan Risma serta Dea.
"Mbak Rena silakan masuk !"kata resepsionis yang undangan.
menerima tamu ketika Risma menunjukkan kartu undangan.
Risma serta Dea memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan untuk ulang tahun Rena.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun ya !"kata Risma dan Dea bergantian memeluk Rena.
"Terima kasih sudah datang, silahkan bergabung dengan yang lain !"kata Rena.
" Tuh si Andre datang sama pacarnya !"kata Risma menunjuk kesuatu arah.
Terlihat Andre berjalan bersama Anes yang dengan manja bergelanyut di lengan Andre.
"Sudah lama mereka pacaran ?"tanya Dea tiba-tiba
" Baru tiga bulan !"jawab Risma.
"Pasti Andre playboy, terlihat dari tampangnya!" kata Dea.
"Begitulah tampang punya, modal menunjang siapa cewek yang nolak !"kata Risma.
" Eh... dia berjalan kemari tuh !"kata Risma.
"Hai !" sapanya kepada Risma dan Dea.
Pandangan terhenti pada Dea.
"Cakep banget tuh anak"batin Andre.
Anes tidak merasa risi masih juga memeluk lengan Andre memamerkan kemesraannya.
"Nanti pulangnya bisa bareng aku De !"kata Andre menawarkan diri.
" Nggak usah cari kesempatan !"kata Dea ketus.
"Dasar kunti !"kata Andre.
"Udah-udah kalian kumat lagi ya !"kata Risma melerai keduannya.
Risma menarik tangan Dea menjauh dari Andre, mencari tempat yang agak sepi. Dea menoleh sedari tadi dia merasakan ada seseorang yang menguntitnya.
Hanya pelayan yang mengantar minuman, Dea mengambil satu gelas dan meminumnya. Pelayan itu pun pergi dan tersenyum licik yang di sembunyikan.
Risma yang kembali dari toilet menemukan tempat duduk Dea kosong, yang tertinggal hanya gelas yang sudah kosong. Risma mencari-cari Dea berkeliling, melihat Risma yang kebingungan Andre segera mendekatinya.
"Ada apa Ris, mana Dea ?"tanya Andre.
"Ini aku lagi cari dia tadi aku ke toilet sebentar aku balik sudah tak ada !"kata Risma mulai panik.
" Apa kalian melihat Dea ?"tanya Andre mulai diliputi rasa panik.
Seseorang mendekat dan menyerahkan sebuah tas kecil milik Dea.
"Ini tas milik Dea !"kata Risma menerima tas tersebut.
Risma mengecek isinya, ponsel, dompet masih utuh di dalam tas.
"Kamu temukan dimana ?"tanya Andre peganggan tangan Anes yang masih erat memeluknya.
"Andre...!" kata Anes protes.
"Aku temukan tergeletak di pintu samping!"
Andre segera melangkah menuju pintu samping. Kosong tidak ada satupun ora lewat atau sesuatu yang mencurigakan.
"Bagaimana Ndre ?"tanya Risma yang menyusul Andre.
"Itu mobil Pak Udin !"tunjuk Risma.
"Mungkin dia melihat sesuatu !"kata Risma pula.
Andre dan Risma berjalan menuju mobil Risma yang masih parkir.
__ADS_1
Melihat kedatangan Risma, cepat-cepat Pak Udin keluar dari mobil.
"Non Risma !"kata Pak Udin.
"Pak Udin tadi melihat seseorang keluar dari pintu itu ?"kata Risma dengan menunjuk ke suatu arah.
"Ya, seseorang memakai pakaian pelayan tengah memanggul seseorang katanya pingsan !"kata Pak Udin memberi keterangan.
"Mereka ke arah mana tuh ?"tanya Andre.
"Kearah sana tadi !"kata Pak Udin.
Andre dan Risma berjalan mengikuti arah yang ditunjuk Pak Udin. Ditempat sampah mereka menemukan pakaian pelayan hotel yang dibuang. Jelas tadi orang itu menyamar dan mengikuti mereka dengan menyamar pula.
Sebuah mobil hitam meluncur dari halaman parkir dengan kecepatan tinggi mengagetkan Andre serta Risma yang masih terpaku.
Andre berlari menuju mobilnya yang kebetulan terparkir dipinggir, Risma berlari mengejar Andre.
Mobil Andre sampai jalan raya sudah kehilangan jejak. Posisi mereka terlalu jauh dari mobilnya.
"Bangsat !"maki Andre kesal.
"Kita terus bagaimana ?"tanya Risma bingung.
"Bagaimana tanggung jawab aku pada kak Dika !"katanya kemudian.
" Ya terus terang Dea diculik !"kata Andre.
"Okay.. aku kembali ke Pak Udin !" kata Risma kemudian turun dari mobil Andre.
"Kamu masih punya tangung jawab tuh disana !"kata Risma yang melihat Anes celingak-celinguk mencari Andre.
"Bagaimana non ?"kata Pak Udin melihat Risma kembali. Risma segera masuk dalam mobil.
"Aku kasih tahu kak Dika saja !"kata Risma cemas.
Berkali-kali Risma menelpon Dika tetapi tidak diangkat segera Risma mengirim pesan di WA Dika mengabarkan penculikan Dea.
Dea terbangun ketika kilau mentari menerpa wajahnya. Pelan-pelan matanya terbuka dan menangkap sosok laki-laki berwajah dingin menatapnya.
Kedua tangan Dea diikat kebelakang dan begitu pula dengan kedua kakinya.
"Sudah sadar juga. Itu balasan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Dasar ****** !"katanya seraya berdiri dan melangkah mendekati Dea.
Dea menata perasaannya dan menguatkan hatinya. Dia harus tegar, tidak boleh takut atau menangis histeris. Ketakutan akan membuat laki-laki di hadapannya semakin berambisi untuk segera menyiksa dan membunuhnya. Dea berusaha melepaskan ikatan tangannya dengan memutar pergelangan tangannya pelan-pelan.
Laki-laki itu berdiri tepat dihadapan Dea, tangan kanannya memegang belati. Jantung Dea berdesir melihatnya apalagi telat melihat laki-laki itu dengan bruntal membunuh korbannya.
"Kau sama jalangnya dengan Rima !"katanya, tubuhnya kian mendekati Dea yang tetap diam. Saat laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Dea spontan Dea meludah ke arahnya, tepat mengenai pipinya.
Laki-laki itu menarik tegak tubuhnya dan mengusap pipinya bekas ludahan Dea dan dia sendiri muludah di lantai.
"Bagaimana dengan ini !"laki-laki itu kembali mendekati Dea. Dijilatnya punggung belati dengan lidahnya. Dan mengusap-usap pipi Dea dengan punggung belati.
Napas Dea turun naik menahan amarah sekaligus menahan takut. Dia belum bisa berbuat banyak karena ikatan tangannya masih kuat. Kalau dia melawan saat ini kematian akan segera menjemputnya, maka dia hanya diam menanti.
Melihat Dea yang hanya diam, laki-laki itu semakin penasaran sejauh mana gadis dihadapannya bertahan.
"Punya nyali juga kamu !bagaimana dengan ini sayatan kecil di lenganmu."kata laki-laki dengan memberi sayatan di lengan atas Dea.
Dea meringis menahan sakit dengan menggigit giginya. Otaknya berputar keras bagaimana dia bisa lepas dari laki-laki itu.
"Ayo teriak jangan diam !"kata laki-laki itu geram, dan dengan kesal memukul kening Dea dengan genggam belati.
"Auw !"kata Dea segera menggigit giginya menahan sakit. Darah mengalir di pipinya.
Laki-laki itu kelihatan frustasi dengan kesal dilemparkan belatinya membentur dinding. Dan Dea tidak mengira laki-laki itu membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali, hingga darah segar keluar dari kepalanya yang terluka.
__ADS_1
Untuk sementara waktu Dea merasa tenang dirinya terhindar dar8 penganiayaan laki-laki itu. Kini dia kembali fokus melepas ikatan pergelangan tangannya.
Laki-laki itu terduduk dilantai, entah apa yang terlintas dikepalanya.