
Kreeeet..kriit...kreet...kriit...kreet...kriit kembali suara itu terdengar memecah keheningan malam. Dea tersentak bangun dan turun dari tempat tidur. Seperti ada yang menuntun Dea membuka pintu kamarnya berjalan keluar menuju ruang depan dan membuka pintu. Pintu terbuka, diluar Arin melambaikan tangannya, mengajak Dea untuk mengikutinya.
"Kak Dea, tolong Arin sini kak, Arin tunjukkan sesuatu!"kata Arina menuntun Dea untuk mengikutinya.
Dea terus melangkah mengikuti Arin masuk rumahnya, melewati ruang tamu, ruang tengah melihat Si Mbok yang meronta-ronta diikat dikursi dengan mulut tersumpal kain.
Dea terus melangkah mengikuti Arina menuju sebuah ruangan dibelakang, tepatnya sebuah gudang. Dea seperti dalam keadaan tidak sadar.
"Arina tunjukkan sesuatu kak!"kata gadis cilik itu menyentuh kedua tangan Dea.
Dea seperti berada dalam dunia lain dan Arina yang membawanya. Dea berdiri diantara dua orang, Arina dengan wajah yang menakutkan dan seorang laki-laki dengan muka sadis, dengan erat tangan kanannya memegang sebuah palu. Suasana sangat mencekam dengan badan yang menggigil ketakutan dan suara tangis yang tercekat Arina mundur sampai bersandar di dinding.
"Tolong Arin maa...Arin takut !"jerit Arina histeris. Pintu digedor-gedor dari luar.
"Jangan mas, jangan sakiti Arin, dia anak kamu mas !"suara mama Arin diantara tangisnya.
"Maafkan aku mas, tolong jangan sakiti dia !"kata mama Arin disela-sela tangisnya.
Tubuh Dea seraya kaku dan tak bisa digerakkan untuk mengeluarkan suarapun tak mampu. Dia hanya menatap apa yang selanjutnya terjadi.
"Diam sayang jangan menangis, aku akan mengantarkanmu dialam kedamaian !"kata laki-laki itu mendekati Arina dengan palu ditangannya yang diusap-usapkan kewajah Arin.
"Tidak mau, takut maa...tolong ma !"ratap Arin ketakutan.
"Diam, jangan berisik !"bentak laki-laki itu. Arina semakin ketakutan.
Sedang diluar pintu mamanya semakin histeris dan sekuat-kuatnya menggedor pintu.
"Diam Rima, sebentar lagi giliranmu. Setelah wanita tua tak berguna itu !" haaa....
"Sayang ini tak sakit !"kata laki-laki itu mengusap kening Arina dengan telapak kirinya.
Tangan kanannya diangkat keatas, sementara Arina semakin menggigil ketakutan dan sekali ayun.
"Aaaaahhh...... !"jeritan Arin histeris memecah keheningan. Darah segar muncrat dari kepalanya mengotori dinding. Tubuh Arin jatuh kelantai dengan berlumuran darah, tidak sampai hanya disitu laki-laki itu masih dengan bengis mengayun palunya berkali-kali.
Dea melihat itu semua dalam diam dan menahan rasa mual yang tercekat di tenggorokan.
Melihat tubuh Arin yang diam dengan berlumuran darah, laki-laki itu segera menggendongnya.
"Aku akan menidurkan mu sayang !"katanya seraya. Membawanya ke ruang bawah dengan cara melewati lemari. Laki-laki itu menggeletakkan tubuh Arin dan segera kembali ke atas.
__ADS_1
Dea masih terpaku di tempatnya di ruangan yang telah kosong, Arina tiba-tiba kembali dihadapannya dengan wajah pucat. Arina kini diam dan memberi isyarat dengan kepalanya untuk mengikutinya. Dea melangkah mengikuti Arin di ruangan tengah.
Dea mendapati laki-laki itu tengah berputar mengelilingi Simbok yang meronta-ronta dan menggeleng-ngelengkan kepalanya.
Laki-laki itu menarik kursi kebelakang hingga kedua kaki Simbok yang terikat ikut terangkat.
Dengan keras diletakkan!"kembali kursi itu dan laki-laki itu tertawa puas.
Ha...haa....haaa...haa.....haa
Kemudian wajahnya menyelingai menarik kabel dan melingkarkan di kedua pergelangan tangannya wajah Simbok pucat dan semakin meronta-ronta. Laki-laki itu memeragakan dengan melilitkan kabel itu dileher nya dan pura-pura menarik kedua tangannya.
"Haah !"katanya. Wajah Simbok kian pucat ketakutan. Kini laki-laki itu melilitkan kabel itu keleher Simbok dan dengan wajah dingin menariknya, Simbok gelagapan kesulitan bernapas, dengan tubuh meregang menahan sakit. Laki-laki itu melepaskan kedua tangannya dari leher Simbok. Dengan dingin dilemparkan begitu saja, kini dia mengambil gulungan kabel dan menyanyat kabel sehingga terkelupas, dan melilitkan ke tubuh Simbok. Simbok meronta-ronta ingin berontak dan mulutnya yang disumpal ah...uh..ah...uh..ingin bicara.
"Diam... !"bentaknya. Dia melangkah mendekati stop kontak listrik dan memasukkannya. Tubuh Simbok mengejang-ngejang menerima aliran listrik lewat kabel yang dililitkan ditubuhnya, sedetik kemudian meregang dengan sekujur tubuh membiru dan gosong.
Laki-laki itu kembali mengambil stok kontak dan membuangnya ke lantai. Bibirnya tersungging senyum kepuasan.
Arina kembali menuntun Dea dengan isyarat supaya mengikuti langkahnya. Dea berjalan dibelakang Arina dan membuka pintu sebuah kamar.
Dea menyaksikan Rima, mamanya Arin terikat disebuah kursi dengan mulut tersumpal.
"Kamu memang ****** Rima, kau menuduh aku sakit jiwa, memasukkan aku ke rehabilitasi rumah sakit jiwa, memenjarakan aku bertahun-tahun disana."
"Dan ini apa, cuma Simbok yang tidak berguna !"katanya melepas cincin pernikahan dan jarinya dan meletakkan dimeja. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan keluar kamar mengintip bali gorden, seorang gadis terpaku dipintu pagar. Laki-laki itu tergesa-gesa kembali ke kamar dan tanpa sengaja cincin pernikahannya jatuh mengelinding tersenggol tangannya dengan tidak sengaja.
Dea melihat kemana cincin itu menggelinding di ambilnya digenggamnya.
Laki-laki itu menggebrak meja karena merasa jengkel.
"Rupanya tikus itu mata-mata kamu !"katanya
"Sial !"umpatnya kesal mendengar ponsel Rima berdering.
Sekilas laki-laki itu membaca nama yang tertera diponsel.
"Terima dan jangan ngomong macam-macam !"katanya membuka mulut Rima yang disumpal dan mendekatkan ponsel ditelinga Rima dengan menodongkan belati dilehernya.
Dengan nada takut. Serta tertekan Rima menerima panggilan dari Andre. Rima tidak bisa bicara banyak mata belati yang mengarah keleher ditekan dan menggores lehernya. Laki-laki itu segera mematikan ponsel dan membantingnya pecah berantakan.
Laki-laki itu berjalan mondar-mandir dan waktu telah larut malam. Kamu memang ****** dan sepantasnya masuk neraka. Laki-laki itu mengtajamkam belatinya dua kali keperut Rima seperti kesetanan. Rima meregang menahan sakit dan dengan bengis satu kali ujung belati dihujamkan kearah jantung menembus jantung dibiarkan menancap. Dia meludah dan tersenyum puas.
__ADS_1
Laki-laki itu dengan bengis menatapnya.
Dea tersentak kaget, keringat membanjir disekujur tubuhnya. Dilihatnya Risma tertidur pulas disampingnya. Dea masih merasa tangannya menggenggam sesuatu, dibukanya sebuah cincin. Dea berpikir keras yang barusan dialami mimpi atau sebuah kenyataan. Kalau sekedar mimpi, kenapa pula dia menggenggam cincin. Dan laki-laki itu melihatnya dia target berikutnya, Dea bergidik dan merangkul Risma dari belakang.
Risma mengeliat kaget dan mendorong tubuh Dea menjauh.
"Ris...aku takut !"kata Dea.
"Habis mimpi buruk ya ?"tanya Risma sambil duduk.
Dea mengikuti Risma duduk dan menunjukkan sesuatu.
"Kau dapat dari mana ?"tanya Risma terkejut.
Dea menceritakan apa yang baru dialaminya kepada Risma.
"Cincin ini milik sipelaku ?"tanya Risma serius .
"Iya aku mengambilnya dari rumah Arin. Saat bangun dari tidur benda ini ada dalam genggaman ku. Aneh kan ? dan target berikutnya adalah aku karena dia tahu aku sempat melihatnya."
"Serius De ?"kata Risma penuh tanya.
"Semoga dugaanku salah !"jawab Dea pasrah
"Besuk ini kita tunjukkan kepada Andre, apa reaksinya!"kata Dea memainkan cincin ditangannya.
Andre terkejut menerima cincin dari Dea.
"Ini milik mas Seno, suami mbak Rima !"kata Andre memberi penjelasan.
"Sebuah tragedi dalam pernikahan mbak Rima, diawal kandungan mbak Rima, mas Seno berubah, sering meganiaya dan berusaha mencekik mbak Rima. Dikemudian hari baru mbak Rima tidak punya pilihan lain mengirim suaminya ke rumah sakit jiwa"cerita Andre.
"Besuk aku cek keberadaannya. Kok pihak rumah sakit tidak konfirmasi kalau pasien melarikan diri !"kata Andre kemudian.
"Mungkin sudah konfirmasi ke mbak Rima, beliau yang menyimpan berita itu dari kalian !"kata Dea.
"Dan pembunuh sebenarnya memang suami mbak Rima sendiri !"kata Risma menyela.
"Dia masih berkeliaran bebas diluar sana Ris dan sewaktu-waktu, kapan saja, dia bisa ?"Dea tidak meneruskan kalimatnya.
Risma merangkul Dea tanpa memedulikan Andre yang diliputi tanda tanya.
__ADS_1