MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
20. KI DARTA


__ADS_3

Panji dan Dea, keduanya larut dalam keheningan. Diam-diam Dea melirik Panji yang tengah menatap lurus kedepan kedua lengannya menyilang diatas pangkuannya. Dea mengakui ketampanan yang dimiliki Panji, berdekatan dan bersentuhan dengannya akan menimbulkan aliran darahnya menghangat seketika. Dea berusaha menjaga jarak dengan duduk agak menjauh dari Panji supaya tidak saling bersentuhan.


Merasa dirinya diperhatikan oleh Dea, Panji tetap memandang lurus kedepan membiarkan Dea menikmati wajahnya sepuasnya. Hingga pada suatu saat gadis itu menarik pandangannya dan menatap hampa kedepan seperti halnya Panji. Seperti halnya Dea, Panjipun merasakan perasaan yang gelisah bila terlalu dekat dengan Dea, bilamana mereka bersentuhan Panji tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk merengkuh dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Karena alasan itu pula dia menjaga jarak supaya tidak terlalu dekat dengan Dea.


Tanpa mereka sadari dikejauhan sepasang mata terus mengawasi mereka berdua. Orang yang tidak lain Ki Darta mencari kelengahan Panji untuk menculik Dea. Ki Darta tidak sabar ingin mendapatkan Dea untuk dipersembahkan pada penguasa kegelapan supaya dirinya bisa menguasai dusunya kembali dan memperbudak arwah yang penasaran sekehendak hatinya.


Alam disekitar Panji dan Dea semakin pekat.


"Dee......ini sudah menjelang malam, sebaiknya aku antarkan kamu kepondok ni Asih !"kata Panji tiba-tiba memecah keheningan.


Panji berdiri, Dea mengikutinya. Ki Darta dari tempat persembunyiannya terus memperhatikan gerak-gerik buruannya. Diam-diam dia tersenyum licik dan meleset pergi mendahului mereka.


"Sekarang pejamkan matamu De, aku akan membawamu ke pondok ni Asih !"


Dea menuruti perintah Panji. Dea memejamkan matanya, diraihnya pergelangan tangan Dea dan dalam sekejap tubuh mereka berdua lenyap dari rumah Panji.


Ki Darta yang sudah siap menunggu kedatangan Panji dan Dea disekitar pondok ni Asih menunggu kesempatan pagar pelindung disekitar pondok terbuka dan secara tersembunyi ikut masuk bersamanya dengan Panji yang membuka pagar pelindungnya.


"Sekarang buka matamu De !"perintah Panji. Dea membuka kelopak matanya dan dia mendapati dirinya sudah berada didalam pondok ni Asih.


Panji segera melepas pergelangan tangan Dea kembali. Ni Asih yang mengetahui kedatangan tuanya segera mendekat.


"Ni, saya titip Dea ya, tolong jaga dia saat ini belum saatnya dia tinggal dirumah saya !"kata Panji.


Wanita tua itu hanya menundukkan kepala


"Iya tuanku !"


"Dea untuk sementara waktu, kamu tinggallah disini bersama ni Asih !"


"Tapi kamu punya janji untuk membantuku mencari Lestari !"


"Iya aku masih ingat, besuk aku bantu kamu mencarinya !"sekarang aku pergi dulu


"Jaga dirimu ya !"


Panji mengusap lembut pipi Dea. Dia berbalik arah dan melangkah sebelum kakinya melangkah melewati pintu, sosok bayangan hitam secepat kilat mendekati Dea dan membawa tubuh Dea melesat pergi.


"Tolong, tolong aku Panjiiii !"teriak Dea histeris.


Panji membalikkan tubuhnya kembali dan mendapati Dea telah raib entah kemana. Dilihat ni Asih tergugu ditempatnya.


Kekegaran Panji luruh, tubuhnya lunglai tak berdaya.


"Tu....tuanku Panji tolong nakmas, kejadian ini jangan sampai terulang kembali, selamatkan nakmas !"

__ADS_1


Sepertinya Panji mendapatkan kekuatannya kembali. Ditatapnya wanita setengah abad itu yang berharap dirinya. Dalam sekejap tubuh Panji meleset hilang dari hadapan ni Asih yang memohon padanya.


Bayangan hitam itu terus melesat membawa tubuh Dea yang sudah tak sadarkan diri. Bayangan itu berhenti disebuah tempat dan memasukkan Dea dalam sebuah ruangan berjeruji dari sinar hitam.


Dea masih tak sadarkan diri. Tubuhnya meringkuk ditanah yang lembab. Tak jauh darinya seorang gadis yang lebih dewasa darinya duduk ketakutan memeluk lututnya. Disudut yang agak tersembunyi sosok tubuh kecil tengah mengeliat menahan rasa sakit saat mengikuti sosok hitam itu. Saat sosok hitam itu menampakkan diri kembali tubuh kecil itu ikut jatuh dan terpental menyentuh tanah.


Masih menahan sakit pandangan tubuh kecil itu tertuju kearah Dea yang masih tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian tubuh Dea bergerak pula, kelopak matanya mengerjup-ngerjap dan terbuka.


"Dimana aku ?"tanya Dea kepada diri sendiri. Tanpa sengaja matanya menatap seseorang yang tengah ketakutan tak jauh darinya.


Dea tersenyum merasa merasa senang, bukankah yang tengah ketakutan itu gadis yang selama ini dia cari, Lestari.


"Nama kamu Lestari kan ?"tanya Dea. Gadis itu bertambah ketakutan menggigil memeluk lututnya lebih erat.


"Jangan takut, sedikitpun aku tidak mempunyai niat jahat, aku akan menolongmu, kita akan mencari jalan untuk keluar dari tempat ini !"


Dengan langkah pelan Dea mendekati gadis yang ketakutan itu. Dan melakukan hal yang sama dengan gadis itu , duduk disebelahnya.


"Nama kamu Lestari ?"Dea bertanya. Gadis itu kaget dan menatap Dea.


"Da.....dari.....ma....na kamu tahu namaku ?"katanya tergagap.


"Dari rumah sakit, tempat kamu dirawat !"jawab Dea.


"Lalu kamu sendiri mengapa berada disini, kamu juga seperti diriku ?"


Mendengar pertanyaan gadis itu sejenak Dea terdiam.


"Ha....ha.....ha....ha !"terdengar tawa membahana. Muncul dihadapan mereka sosok lelaki tua memakai baju hitam-hitam dan dengan wajah beringas menatap Dea.


"Dasar bocah bodoh kamu sudah dibohongi Panji !"


"Ha.....ha....ha...ha !"laki-laki itu kembali tertawa.


"Dia itu licik, penipu, mau memperistri manusia, supaya bisa menghancurkan tempat ini mana bisa dia berbuat semaunya. kamu mau tahu tanya dia dimana jasad kamu disembunyikan !"


Dea bangkit dan melangkah mendekati Ki Darta dengan menahan amarah. Sementara itu di tempat sembunyinya sosok tubuh kecil itu terus mengikuti setiap gerakan Dea. Melihat Dea yang melangkah mendekati Ki Darta, tangan sosok kecil itu terangkat dengan maksud menghentikan langkah Dea. Tetapi terlambat oleh dorongan amarah Dea yang bergerak cepat dan "Aaah......!"tubuh Dea terbentur sesuatu kekuatan yang kasat mata menghalanginya. Dan dia jatuh tersungkur tanpa tenaga.


"Panji....Panji, keluarkan aku dari sini Panji !"ratap Dea lemah.


"Ha .....ha.....ha....ha !"kembali Ki Darta tertawa.


"Kau meminta tolong Panji, seumur hidupnya dia tak bisa datang ke tempat ini !"


"Merataplah terus bocah selagi bisa, sebentar lagi kau akan jadi milikku selamanya !"

__ADS_1


"Ha....ha.....ha....ha !"dan lenyaplah tubuh Ki Darta dari pandangan.


Sosok kecil itu mendekati Dea dengan kasih sayang. Tangannya terjulur mengusap wajah Dea dengan kasih sayang.


"Kak Dea, Arin rindu kak !"katanya masih mengusap lembut wajah Dea. Dea seperti mendapat kekuatannya kembali.


"Arin kamu berada disini ?"tanya Dea merangkul sosok kecil itu.


"Saya selalu menjadi pelindung kak Dea, selama tuan Panji jauh dari kakak !"


"Kamu mengenal Panji ?"Arin mengangguk.


"Kak Dea tidak bisa keluar dari tempat ini karena diberi pagar oleh Ki Darta !"kata Arina.


"Coba kak Dea lihat !"


Arin mengusap kelopak mata Dea dan Dea melihat sebuah cahaya hitam seperti sel penjara dihadapannya.


"Mengapa kamu bisa masuk ?"tanya Dea penuh rasa heran.


"Dunia kita berbeda kak Dea, aku sudah meninggal menjadi arwah penasaran sedang kak Dea masih hidup. Jadi kak Dea maupun gadis itu tidak bisa melewati pagar pelindung buatan Ki Darta !"


"Bagaimana cara kita keluar dari sini ?"tanya Dea.


"Jangan panik kak,Arin sudah memberi tahu tuan Panji dimana keberadaan kita !"


"Kamu yakin Panji menemukan tempat ini !"


"Arin yakin kak, pasti tuan Panji bisa menembus pagar pelindung buatan Ki Darta !"


Alis Arin berkerut, seperti merasakan sesuatu. Cepat-cepat Arin menghilang dari pandangan Dea.


"A......!"sejenak membuat Dea kebingungan Dea kan berteriak memanggil Arin tetapi sosok bernama Ki Darta tiba-tiba muncul dihadapan mereka kembali dengan wajah geram.


"Bangsat, bajingan siapa yang telah berani memasuki wilayah kekuasaan ku !"lempat Ki Darta geram dan menyimpan rasa penasaran.


"Orang-orang yang dekat denganku, yang menyanyangiku !"kata Dea ketus.


"Kau berani menjawab kata-kata ku !"kata Ki Darta kembali marah.


Tangan kiri Ki Darta terangkat dengan telapak terbuka. Sebuah sinar hitam keluar dari telapak tangan Ki Darta terarah kearah dada Dea. Sebelum sinar itu dengan telak menghantam tubuh Dea bagian dadanya sebuah sinar putih mematahkan sinar hitam yang keluar dari telapak tangan Ki Darta. Sinar putih itu berasil mendorong sinar hitam dan membuat Ki Darta terhuyung beberapa langkah kebelakang.


"Bangsat !"sekali lagi keluar umpatan dari mulut Ki Darta.


Dia benar-benar penasaran siapa yang telah mematahkan serangannya dan dengan telak mendorong kekuatannya menghantam dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2