MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
15. PEDUKUHAN MISTERIUS


__ADS_3

Laki-laki yang mempunyai nama aki Karta telah membawa Dea sampai kedusunya. Sebuah dusun yang misterius, yang ada dipikiran Dea sekarang adalah bagaimana cara dia kelak untuk kembali lagi keduniannya.


Naluri Dea mengatakan kelak kalau tiba waktunya dia pasti bisa kembali kedunianya sendiri.


"Nakmas mari kita melanjutkkan perjalanan kembali !"kata aki Karta membunyarkan lamunan Dea. Kembali Dea mengikuti langkah-lanagkah aki menyusuri rumah-rumah penduduk yang sepi. Selama Dea berjalan menyusuri permukiman penduduk hanya keheningan yang tercipta. Tidak satupun terdengar bisikan orang apalagi tangisan anak kecil. Malam itu benar-benar sunyi, sebuah dusun yang aneh dan mati seperti tidak ada tanda kehidupan.


Dea hanya diam mengikuti langkah kaki aki didepannya. Sekalipun dalam pikirannya terlintas beberapa pertanyaan dia menelan sendiri pertanyaannya kembali langkah aki Karta berhenti disebuah salah satu rumah penduduk. Sebuah rumah yang sangat sedeehana. Berbeda dari rumah-rumah zaman sekarang, yang sebagian besar terbuat dari batako. Rumah yang ada dihadapannya terbuat dari kayu dan dindingnya dari anyaman batang bambu (gedeg) dalam bahasa jawa. Aki mengetuk pintu sepelan mungkin.


"Ni... aku yang datang !"suara aki Karta lirih.


Dari dalam rumah terdengar langkah-langkah ringan mendekati pintu.


Seseorang wanita tua memakai pakaian kebaya muncul dari balik pintu yang terbuka separuh. Atas perintah aki Karta Dea muncul dari punggungnya dan berdiri dihadapan wanita tua itu. Wanita yang punya nama ni Asih istri dari penjaga tapal batas itu mundur beberapa langkah.


"Bukankah dia sudah tewas aki ?"


"Kita masuk dan bicara di dalam saja ni !"


"Mari masuk kedalam nakmas !"


Dea mengikuti aki Karta memasuki rumahnya. Ruangan luas ada dihadapannya yang hanya diisi sebuah meja panjang dan dua buah kursi kayu panjang. Sebuah amben turut mengisi ruangan itu. Cepat aki menutup pintu kembali. Meniup oncor dan meletakkan disudut ruangan.


"Ayo duduklah nakmas !"kata ni Asih melihat Dea masih berdiri.

__ADS_1


Ni Asih duduk disisi amben dan Dea mengambil duduk disebalahnya.


"Siapa dia ki, mengapa wajahnya sangat mirip Safitri ?"


"Nakmas ini punya wajah serta nama yang sama dengan mendiang Safitri !"


"Benar ni, nama saya Dea Safitri, yang kebetulan juga mempunyai tanda lahir yang selama ini dicari oleh Panji !"


"Nakmas mengapa kamu memanggil tuanku hanya dengan namanya saja, bagaimana kalau tuanku tidak berkenan !"


Dea menangkap adanya ketakutan dari raut muka wanita itu.


"Ni Asih tidak usah takut, dia yang telah memaksa saya untuk datang kemari dan saya juga punya urusan dengannya yang harus saya tuntaskan !"


"Ni Asih pernah dengar nama Lestari ?"


Ada nada kecamasan serta ketakutan dari pasangan suami istri itu.


"Maaf saya telah membuat takut Aki dan Nini !"


"Sebaiknya nakmas istrirahat dulu, sepertinya aki tidak bisa terlalu lama meninggalkan tapal batas, sudah waktunya aki berjaga kembali !"


Aki Karta kembali mengambil oncornya dan menyulutkan ke damar yang ditaruh diatas meja sebagai penerangan. Nih Asih berdiri dan mendekati suaminya.

__ADS_1


"Ajak Safitri tidur dibilikmu ni, aku berangkat dan tutup pintunya kembali !"perintah aki Karta.


Laki-laki penjaga tapal batas itu melangkah keluar. Ni Asih segera menutup pintu dan menguncinya dengan palang kayu yang dikaitkan di kedua sisi daun pintu.


"Nakmas, ayo istirahat dibilik nini !"kata Ni Asih.


"Sebentar ni, saya masih ingin disini, Ni Asih istirahat dulu, nanti saya menyusul !"


"Nakmas tidak apa-apa saya tinggal sendirian ?"


Dea menggelengkan kepalanya, waktu itu tidak berani memaksa dan dia melangkah menuju biliknya.


Keheningan kembali tercipta diruangan itu. Dea merindukan kehadiran Dika kakaknya yang selalu melindunginya. Dia juga merindukan kehadiran Andre dan Risma kedua sahabatnya yang bela-belain datang jauh-jauh dari Surabaya menyusulnya. Dan kini dia terdampar disebuah tempat yang sangat asing.


Rasa dingin yang dirasakan semenjak kehadirannya didusun itu membuat tubuhnya kian mengigil kedinginan. Angin dingin itu menerobos masuk lewat celah-celah dinding bambu. Dea menyilangkan kedua tangannya didada untuk mengurangi rasa mengigilnya.


Tiba-tiba Dea merasakan semilir angin bertiup lembut menerpa kulitnya. Rasa hangat menjalar ditubuhnya. Dea membiarkan rasa hangat itu menyelimuti tubuhnya bahkan dirinya merasa nyaman dan Dea berbaring diamben yang hanya beralaskan tikar pandan itu. Beberapa detik dia sudah terlelap tidur. Sosok yang menyerupai angin itu tetap membalut tubuh Dea.


Sementara diluar gemuruh angin bertiup kencang menerjang apa saja yang menghadangnya. Bunyi pintu dirumah aki Karta berderak-derak terkena hantaman angin. Tak sedikitpun Dea merasa terusik oleh kegaduhan diluar.


Ni Asih yang terbangun oleh kegaduhan diluar teringat telah meninggalkan tamunya sendirian segera beranjak keluar dari biliknya. Wanita itu tertegun mendapatkan Dea yang tidur pulas tanpa terganggu sedikipun tidurnya. Wanita itu masuk biliknya dan kembali lagi menenteng bantal dan sebuah kain. Dengan hati-hati diangkatnya kepala gadis itu dan menaruh bantal dibawahnya dan meletakkannya kembali. Tubuh yang tergolek tenang itu diselimuti dengan kain yang dibawahnya. Ni Asih kembali masuk biliknya.


Sosok yang menyerupai angin itu memandang wajah ayu Dea yang tertidur pulas dan meleset keluar melewati celah-celah dinding bambu. Dengan menahan amarah meleset mencari sumber kekuatan besar yang menerjang dusunya.

__ADS_1


Dua kekuatan besar saling beradu. Suara angin kencang bergerumuh menerjang apa saja yang dilewatinya suara petir menyambar-nyambar bergerumuh memekakkan telinga. Sebentar saja hujan tercurah dengan derasnya dari langit.


Suasana itu berakhir saat pagi datang. Saat ni Asih bangun dia masih mendapati Dea masih lelap dalam tidurnya tanpa terusik oleh kekacauan semalam. Wanita itu tersenyum dan dan melangkah kebelakang. Beberapa saat terdengar bunyi kemeretek kayu terbakar dan bau asap menebar dia penjuru ruangan.


__ADS_2