MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
14. TEPAL BATAS


__ADS_3

Laki-laki bernama aki Karta itu masih tetap berdiri ditempatnya. Laki-laki penjaga tapal batas. Tidak ada bangunan gapura atau papan nama yang menunjukkan memasuki wilayah daerah lain kecuali sebuah batu bulat berbentuk hitam legam yang menandai tempat itu.


Aki Karta memandang lekat wajah gadis yang ada dihadapannya. Wajah yang mengingatkannya kepada mendiang Safitri keturunan Sekar Arum yang tewas menerjunkan dirinya kejurang. Mungkinkah ada keturunan Sekar Arum yang lolos dari tuannya. Hanya tuannya yang bisa mengetahui semuannya, hanya dia yang bisa melintang menjelajahi dunia manusia.


"Kamu sudah siap bertemu dengan tuanku ?" tiba-tiba aki Karta melontarkkan sebuah pertanyaan yang membuat kaget Dea.


"Aki aku sudah siap ataupun tidak siap, aku tidak bisa menolaknnya, ada suatu urusan yang harus aku tuntaskan secepatnya dengan Panji, tuanmu itu !"jawab Dea menatap.


Dada aki Karta berdesir mendengar penuturan Dea yang tidak sedikitpun mengisyaratkan rasa takut. Aki Karta mempunyai penafsiran suatu saat gadis yang ada dihadapannya kelak akan membawa masalah bagi tuannya.


"Bagus.....!"kata aki Karta.


Aki Karta menyederkan pandangannya kesekelilingnya. Selama dia bercakap-cakap dengan gadis yang berada pembicaraannya dan dia tidak mengetahui keberadaan penyusup itu dengan pasti.


"Kita secepatnya harus pergi dari sini !"

__ADS_1


"Pesanku yang harus kamu ingat Safitri, selama kamu melangkah meninggalkan tempat ini jangan sekali-kali kamu menoleh kebelakang. Apapun yang kamu dengar, kamu rasakan jangan kamu hiraukan ingat itu baik-baik !"


"Iya aki !"jawabnya.


Kabut tipis pelan-pelan muncul dari permukaan tanah dan naik. Kepermukaan menyelimuti sekeliling mereka. Wajah aki Karta sedikit cemas. Secepatnya dia harus meninggalkan tapal batas dan mengantar Dea menuju dusunya. Sebelum sesuatu menimpa kepada kekasih tuannya itu.


"Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini !"kembali aki Karta berkata.


Laki-laki itu melangkah meninggalkan tapal batas yang diikuti Dea. Sebelum pergi laki-laki itu komat-kamit merapal mantra meniupkan dikedua belah tangannya dan menaburkannya disekitar tapal batas.


Dea terus saja melangkah di belakang aki Karta dengan membawa oncor sebagai alat penerangan. Di belakangnya Dea mendengar berbagai suara memanggil namanya, orang-orang berlarian menjerit meminta pertolongan Dea tak berpaling sedikitpun, kakinya tetap melangkah mengikuti langkah aki Karta yang berjalan didepan. Kembali Dea mendapat godaan ada tangan lembut mencolek-colek pundaknya, berbisik sesuatu.


"Kak Dea tolong Arina takut kak !"


Hampir saja Dea tergoda oleh bisikan itu, seketika dia berhenti melangkah.

__ADS_1


Tiba-tiba Dea merasa hawa hangat menyelimuti tubuhnya, Dea hafal betul dengan sensasi yang di rasakan. Kembali dia melangkah mengikuti Aki Karta dalam pekatnya malam yang berkabut.


Akhirnya mereka bedua terlepas dari kabut tebal yang menyeramkan. Dihadapannya kini terhampar bengunan-bangunan hitam dengan kertip pelita disetiap bangunan. Hawa hangat yang menyelimutinnya pun sirna.


"Dia menolongku karena mengharapkan sesuatu dariku !"kata Dea dalam hati.


''Kita telah sampai ini adalah pedukuhan kami !"kata aki Karta bernapas lega.


"Aku tahu kamu mendapat pertolongan dari tuanku, aku merasakannya !" kata aki.


"Aku tahu ki !"


"Apa aku sudah boleh melihat apa yang ada di belakang aku, aki ?"tanya Dea.


"Kamu telah memasuki pedukuhan kami, maka kamu bebas untuk melihat apa yang berada disekitarmu !"

__ADS_1


Dea menoleh kebelakang. Yang terlihat hanyalah kabut-kabut tebal dan gelapnya malam. Pendukuhan tempatnya berada kini dikelilingi oleh kegelapan. Dea berpikir keras bagaimana cara dia kembali keduniannya ?"


__ADS_2