MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
11. MIMPI NYATA


__ADS_3

Dea Safitri terus melangkah menyusun jalanan berbatu yang semakin dia jauh melangkah semakin meninggalkan perdesaan. Kini hanya satu dua rumah yang tampak, jalanan yang dia lewati kian menanjak. Dikanan-kiri jalan mulai tumbuh semak-semak dan rerimbuhan panda berduri yang lebat. Didepan kiri jalan terdapat sebuah sendang tempat penduduk desa. Mandi suara air terdengar gemerincik mengalir Dea terus mengayunkan langkah kakinya, dihadapannya berdiri kokoh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dari jalan perbatuan itu habis disitu, selebihnya adalah hutan belantara dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi.


Dea terpaku disebuah bendungan kecil dengan airnya yang jernih, air keluar dari calah-celah berbatuan diantara akar-akar pohon yang menjulang itu, begitu bening dan sejuk. Dea menyatukan kedua telapak tangannya dan meminum air dari mata air itu. Dea terkejut ternyata dia tidak sendiri di tempat itu, seorang gadis tersungkur tidak jauh darinya. Dea segera mendekati dan membalik tubuh gadis itu, wajahnya persis dengan wajah pasien disebelahnya Lestari.


Dea tersentak terbangun dari mimpinya keringat membasah ditubuhnya. Dea keluar kamar yang tidak mempunyai pintu itu hanya bertirai sekelambu wanita tua pemilik rumah tempat dia menginap itu terbangun juga rupanya. Melihat Dea yang duduk termenung di sebuah amben yang terbuat dari bambu itu gegera mendatanginya, dan ikut duduk disebelahnya.


"Tidak bisa tidur nduk, cari Ayu ?"tanya wanita yang pantas dipanggil Si Mbah itu.


Dea menoleh sebentar dan mengangguk.


"Si Mbah pernah dengar ada seseorang gadis yang pingsan di dekat sumber mata air ?"tanya Dea ingin menyelesaikan misteri mimpinya malam itu juga.


"Besuk aja ceritanya cah ayu, ini masih malam, sebaiknya ndhuk tidur dulu tentu masih capek habis melakukan perjalanan jauh !"tutur SiMbah mengajak Dea kembali masuk biliknya.


"Sudah tidur saja, jangan mikir yang aneh-aneh !"kata wanita tua itu kembali.


Dea menuruti, dia adalah tamu didesa itu dan oleh pak lurah dititipkan sementara waktu dirumah wanita tua itu untuk menumpangnya menginap.


Dea terbangun ketika indra penciumannya mencium bau asap kayu terbakar. Sejenak diaterbatuk-batuk merasa dadanya sesak. Dea segera keluar biliknya dan melangkah menuju arah dapur. Terlihat SiMbah tengah duduk berjongkok didepan tungku dari tanah liat dengan api yang membara membakar kayu kering. Didapur itu Dea juga melihat ada kompor gas yang di biarkan begitu saja tidak terpakai.


"Sudah bangun ndhuk ?"tanya SiMbah ketika mendapati Dea berdiri tak jauh darinya. Dea tersenyum mendengar perkataan SiMbah. Dia teringat kepada neneknya sendiri yang amat menyanyanginya.


Alam yang tadi remang-remang cepat berubah menjadi terang benderang. Mentari mulai menampakkan wujudnya dikaki langit timur. Kicauan burung bercicit dan dahan ke dahan menambah liuh suasana.


Dihalaman belakang Dea merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menghirup udara segar pedesaan sepuas-puasnya. Mata Dea mengarah kesekeliling dan berhenti di selatan terlihat pohon-pohon teramat lebar serta rindang disana. Akal sehatnya cepat menangkap disana pasti letak Mata air itu. Dea tidak menyadari kehadiran SiMbah telah berdiri dibelakangnya.


"Ndhuk jangan bertindak sembrono bila berada disendang lawas, ya disumber mata air itu !"kata SiMbah seakan tahu jalan pikiran Dea.


"Tempatnya disana Mbah ?"tanya Dea, menunjuk jauh kearah pohon-pohon yang tumbuh lebat.


"Seperti dugaan ndhuk !"jawab SiMbah.


"Dea pergi jalan-jalan dulu ya Mbah !"kata Dea dengan riang melangkah meninggalkan rumah.


Tidak ada jalan berbatu, semua jalan sudah beraspal bahkan gang sempitpun juga beraspal. Sepertinya perangkat desa benar-benar membangun kesejahteraan warganya. Dea berjalan kaki menuju arah selatan. Jalan yang dilewatinya beraspal dikiri kanan jalan banyak berdiri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tembok bukan lagi dari bambu dalam mimpinya. Jalanan mulai menanjak ada jembatan kecil dibawah rumpun bambu dengan air yang jernih mengalir dibawahnya. Dea terus melangkah dikanannya terdapat hamparan ladang yang luas bukan semak-semak atau pohon-pohon jati. Disisi kiri jalan terdapat bekas pemandian (sendang) yang sudah usang terbengkalai tidak dipergunakkan lagi dan sudah banyak tumbuh rumput disana-sini. Tetapi Dea yakin ini adalah tempat dimana dulu-dulu sekali ramai oleh warga yang mandi disini.


Kembali Dea melangkahkan kakinya, tidak ada tumbuhan pandan-pandan berduri yang lebat tetapi ladang petani yang ditanami cabai yang tengah berbuah lebat. Dea terus melangkah seperti jalan itu tidak ada ujungnya menghubungkan desa lain. Dea berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang. Sebuah kolam kecil ada disana dibawah pohon-pohon yang tinggi menjulang dengan airnya yang jernih.


"Ini tempatnya, tapi sangat jauh berbeda !"batin Dea.


Pohon-pohonnya tidak selebat. Dulu sudah banyak yang berkurang balikan sudah dibangun sebagai tempat wisata hutan lindung. Tetapi ini benar-benar tempat yang ada di dalam mimpinya.


Melihat ada gadis yang berdiri ditepi sumber air seorang laki-laki tua mendatanginya.


"Mbak pagi-pagi sudah sampai disini, kelihatnnya tidak warga sini ?"tanya laki-laki itu menghampiri Dea.

__ADS_1


"Memang bukan pak, bapak mau ke ladang ?"tanya Dea.


"Iya tuh ladang bapak !"kata laki-laki itu menunjuk ke seberang jalan. Memang disana terdapat hamparan ladang-ladang petani yang saat itu ditanami jagung.


"Mari mampir ke ladang bapak !"kata laki-laki itu kepada Dea.


Untuk mendapatkan sebuah cerita Dea mengikuti langkah laki-laki memasuki ladangnya.


"Bapak dengar ada seorang gadis pingsan ditepi sumber air ?"tanya Dea di belakang laki-laki itu.


Bapak itu menghentikan langkahnya dan menatap Dea penuh selidik.


"Mari kita ngobrol di gubuk itu !"kata bapak itu menghampiri sebuah gubuk kecil beratap daun jati. Dea mengikuti dari belakang dan ikut duduk di sebelah bapak itu.


"Beberapa minggu yang lalu ada rombongan anak-anak muda dari kota, mereka wisata ke sendang sebelah balai desa sana !"bapak itu mulai bercerita sambil menyulut sebatang kretek dan menghisapnya.


"Maaf ya mbak !"katanya.


Dea hanya tersenyum, dan bapak itu kembali bercerita.


"Entah mengapa mereka datang kesini, seperti mbak tadi, mereka asyik berfoto-foto dihutan lindung itu bapak sendiri kurang tahu secara persis mereka terdengar ribut-ribut panik ada yang minta tolong mendengar keributan itu bapak lari mendatangi mereka seorang gadis mengerang-ngerang dengan mata mendelik seperti kesurupan dan bicara ngawur yang kami semua tidak mengerti !"


"Bicara apa pak?"tanya Dea memotong ceritanya. Laki-laki itu menatap Dea dan kembali bercerita tidak menjawab pertanyaan Dea.


"Akhirnya kami membawanya kerumah Mbok Ni, perempuan tua didesa ini, disana gadis itu masih mengerang-ngerang dan mengomel menyebut nama Safitri !"


"Iya.... katanya, Safitri kami semua menunggu kedatanganmu sebagai gantinya aku tahan jiwa gadis ini sampai kamu datang !"katanya berulang kali, dan tiba-tiba gadis itu pingsan seperti tidur dan tak bangun-bangun. Dan gadis itu dibawa pulang kembali oleh teman-temannya. Bapak itu mengakhiri ceritanya.


"Rumah mbok Ni itu sebelah mana pak ?"tanya Dea tiba-tiba.


"Rumah yang sering digunakan menginap bila ada anak yang KKN atau tamu dari luar daerah yang tidak mempunyai sanak keluarga disini !"kata bapak itu memberi penjelasan.


" Oh.... terima kasih pak atas ceritanya, saya mohon pamit dulu !"kata Dea sebelum pergi meninggalkan ladang petani itu.


Dea mempercepat langkah kakinya, kembali ketempat dia menginap. Ternyata mbok Ni nama Simbah itu telah menunggu kedatangannya.


"Tak kira nyasar ndhuk !"katanya.


"Tidak mbah, sekarang banyak perubahan didesa ini ya mbah, penduduk sudah mempunyai kamar mandi sendiri jadi tidak ada yang mandi disendang. Airpun sudah dialirkan kerumah-rumah penduduk lewat pipa-pipa yang dialirkan dari mata air ya mbah,pandan-pandan berduri pun sudah tidak tersisa !"


Simbah menatap Dea tidak mengerti dengan jalan pikiran Dea.


"Dari mana kamu tahu semua itu ?"tanya Simbah penasaran.


"Tentang pandan-pandan berduri, sumber mata air !"kembali Simbah bertanya.

__ADS_1


"Dari mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang dalam tidurku mbah, Suara-suara yang memanggil Safitri !"kata Dea.


"Ndhuk cah ayu !"kata Simbah.


"Iya... mbah !"jawab Dea.


"Namamu Safitri ndhuk, punya tanda lahir dua bercak merah diatas pusar ?"kembali Simbah bertanya.


"Iya... mbah !"jawab Dea terheran-heran.


"Sebuah kutukan dari keturunan Sekar Arum yang mengingkari perjodohananya dengan Panji Laksana !"


"Maksud SiMbah ?"tanya Dea tak mengerti.


"Sebuah saat anak buah dari Laksana akan datang menjemput keturunan dari Sekar Arum, itu menurut cerita yang mbah dengar dari biyung Simbah !"kata Simbah mengakhiri ceritanya.


Dea bergidik membayangkan dia harus menikah dengan laki-laki tua dengan wajah yang menyeramkan didunia gaib lagi.


"Kenapa ndhuk ?"tanya Simbah melihat perubahan pada diri Dea.


"Tidak Mbah !"jawab Dea.


"Mungkinkah mereka akan menjemput Dea mbah, bagaimana caranya ?"


"Dea pun tidak ingin menikah dengan siapa itu Panji Laksana !"Memikirkan itu semua Dea duduk dengan merangkul kedua lututnya erat-erat, Dea mengginggil ketakutan.


Sementara itu Andre dan Risma yang sudah menganggap Dea teman baiknya, merasa kehilangan atas kepergian Dea yang tiba-tiba tanpa memberi tahu mereka berdua.


Akhirnya mereka berdua mendatangi tempat Dika berkerja di sebuah Cafe.


Beruntung mereka malam itu suasana Cafe lumayan sepi, jadi punya kesempatan untuk ngobrol.


"Jadi Kak Dika membiarkan Dea pergi begitu saja ?"tanya Andre setelah mendengar cerita dari Dika.


"Dea itu ya, masih saja percaya sama mimpi !"kata Risma pula.


"Ini masalah kselamatan Dea kak, kalau terjadi sesuatu bisa dia mengatasi sendiri, sok jagoan tuh anak !"kata Andre kesal.


"Besuk aku akan menyusul !"kata Andre mantap.


"Aku jangan ditinggal Ndre, aku ikut !"kata Risma.


"Kita bikin kejutan untuknya !"lanjut Risma kemudian.


"Ndre tolong jaga Dea ya !"kata Dika akhirnya sebelum mereka berdua benar-benar meninggalkan Cafe.

__ADS_1


Esuk harinya mereka berdua benar-benar meninggalkan kota Surabaya menyusul Dea yang tengah mengejar mimpi-mimpi aneh yang menghantuinya.


__ADS_2