
Satu Minggu sejak kejadian itu, Dea masih sering diam-diam mengintip diteras atas. Orang yang mencurigakan itu masih sekali dua kali berjalan mondar-mandir disekitar rumah Arina. Sepertinya Arina sudah melupakan peristiwa itu. Dia kembali menjadi Arina yang ceria kembali.
"Kak Dea berangkat sekolah ya?"sapanya pagi itu saat bertemu dihalaman.
"Arin juga mau berangkat sekolah!"kata Dea.
"lho kok nggak diantar Mama?"tanya Dea saat ada taksi berhenti. Dimuka halaman rumah Arina.
"Mama keluar kota, yang mengantar si mbok !"jawab Dea.
"Daa....Arin berangkat dulu kak!"kata Arina berlari kecil meninggalkan Dea menuju taksi yang telah menunggu.
"Daa....!"kata Dea melambaikan tangannya kepada Arin.
Dea masih mematung dihalaman, menunggu Dika yang masih mengeluarkan motornya. Sertepatan dengan itu sebuah motor berhenti mendadak sengaja mau menyerempetnya.
"Ya...sudah ketinggalan!"katanya seraya membuka kaca helm. Dea segera mengenalinya.
"Kamu...?"
"Pagi ini aku disuruh mbak Rima, nganterin Arin sekolah, eh...malah keburu berangkat"Kata Andre memberi komentar.
"Lu...masih nunggu kak Dika!"sejenak Andre menatap kehalaman. Terlihat Dika masih sibuk memakai sepatu.
"Kak Dika...biar Dea bareng aku saja!"teriak Andre dari atas motornya.
"Terserah dialah!"jawab Dika.
"Sialah kak Dika, dilarang kek!"maki Dea dalam hati.
"Ayo naik, bakalan telat nanti!"kata Andre yang melihat Dea masih mematung.
Dea merasa enggan naik ke boncengan Andre.
Beruntung juga dia tidak membawa motor tongkrongannya.
Sehari-hari, dia hanya membawa honda matic.
"Kak Dika berangkat dulu!"teriak Dea.
Dika hanya melambaikan tangannya.
"Pelan-pelan, jangan ngebut, nanti cari kesempatan lagi!"kata Dea dari belakang.
Andre melajukan motornya normal saja, dalam skala standar. Dea hanya mematung dibelakang. Sekilas Andre menatap dari kaca spion.
"Ngapain lihat-lihat !"kata Dea ketus. Tak pelak lagi sebuah tinju mendarat dilengan kanannya.
Andre meringis menahan sakit. Niat Dea tak seberapa keras meninju Andre, tetapi membuat cowok yang duduk dimukanya meringis juga, dan Dea sempat melihatnya.
"Sorry nggak sengaja !"kata Dea menepuk-nepuk pundak Andre. Andre sempat kehilangan keseimbangan membawa motornya. Dari kaca spion Andre melihat Dea tersenyum.
"Rasain tuh jadi cowok!"kata Dea dalam hati.
"Gila tuh anak, mau ngajak mati apa!"umpat Andre dalam hati.
"Lu harus berpikir dua kali untuk menawari kebaikan!"kata Dea masih dalam hati.
Beruntung mereka tidak sampai terlambat sekolah. Begitu memasuki parkiran bel berbunyi.
Secepat Dea turun dari boncengan dan melesat pergi meninggalkan Andre yang masih memarkir motornya. Setengah berlari Dea menuju kelasnya, Andre masih jauh dibelakang.
"Benar-benar tidak sopan, norak!"maki Andre.
Dipintu masuk hampir saja Dea bertabrakan dengan Risma.
"Kenapa dikejar hantu!"tanya Risma.
"Maaf,maaf,takut telat!"jawab Dea mengatur napasnya. Dibelakang Andre masih berjalan dengan santainya.
__ADS_1
Dea duduk di bangkunya masih mengatur napas.
Andre memasuki kelas hampir bersamaan dengan Pak Slamet guru matematika.
Andre duduk di bangkunya tanpa memperdulikan Dea.
Ruangan menjadi gaduh sesaat Pak Slamet mengumumkan ulangan harian. Anak-anak banyak yang protes, tetapi Pak Slamet masih tetap putusannya. Pak Slamet menyuruh anak-anak mengumpulkan buku catatan ke depan.
"Kamu Andre, yang hampir terlambat masuk kelas, tolong kumpulkan buku catatan teman kalian!"Kata Pak Slamet. Mulai memberi kertas ulangan.
Sementara Andre mengambil buku catatan teman-temannya dan menaruh di meja guru.
Andre kembali duduk di bangkunya. Diliriknya Dea dengan tenang menekuni soal-soal yang diberikan Pak Slamet. Andre mengamati satu-satu soal dihadapannya dan dengan tenang menjawab.
Satu-satu dilembar jawaban. Bel berbunyi waktu pelajaran matematika telah usai. Anak-anak bernapas dengan lega, terbebas dari pelajaran yang memusingkan kepala.
Malampun menjelang. Dea merasa waktu demikian lambat berputar. Udara terasa gerah dirasakan oleh Dea. Dia membuka pintu depan dan duduk diteras, sengaja Dea mematikan lampu teras, suasana jadi remang-remang.
Dirumah Arin seperti ada kesibukan. Sepertinya Arin tengah bermain ayunan, bunyi Kraat...kreet ayunan terdengar, sesekali sesekali diterdengar tawa Arin yang ceria.
Timbul keinginan Dea untuk melongok ke halaman samping. Dea berjingkat mendekati halaman samping. Sekilas matanya menatap kursi plastik diangkatnya dan dibawa ke dekat pagar samping.
Dea naik keatas kursi itu untuk dapat mengintip kerumah sebelah dia harus berjinjit. Ada dua buah mobil masih parkir dihalaman, Dea tahu satu milik Arina dan satu tidak mengenal pemiliknya, mungkin masih kerabat dengan mama Arin. Arin masih bermain ayunan ditemani Si Mbok.
Kreet...kriit...kreet...kriit.
"Ajak Arin masuk Mbok!"terdengar teriakan dari dalam rumah.
Sekilas Si mbok berbincang dengan Arin, beberapa saat anak itu turun dari ayunan dan melangkah masuk rumah. Dea segera turun dari kursi tempat dia berdiri dan ditinggalkan begitu saja, dia melangkah menuju teras dan duduk disana.
Lama-lama Dea merasa bosan juga, melangkahlah dia ke kamar. Entah pada menit keberapa dia terlelap.
Dea mendengar suara-suara orang ribut-ribut saling dorong, langkah-langkah kaki yang tengah berlari, suara pintu digedor-gedor dengan keras, suara bentakan, makian, semuanya terjadi seperti dibawah alam sadar. Dan tiba-tiba aaahh...suara jeritan melengking. Dea tersentak kaget dan bangun dari tidurnya.
Peluh membasah disetubur tubuhnya. Dea menajamkan telinganya. Sepi, hening tidak terdengar suara apapun. Dari pos satpam terdengar bel dipukul satu kali, teng...
"Siapa?"suara Dea tersekat.
"Kak Dika!"jawab suara dibalik pintu.
Dea bangun dari ranjangnya dan menarik hardle pintu.
"Kamu mimpi buruk De?"tanya Dika begitu adiknya membuka pintu, Dika masih diambang pintu.
"Kamu yang tadi menjerit, keras sekali lho De?"
"Entahlah kak, Dea sendiri bingung tadi itu mimpi atau nyata!"
Dika menatap lekat-lekat adiknya dan bertanya.
"Maksudnya?"
"Dea seperti mendengar keributan dan yang terakhir suara jeritan!" kata Dea memberi keterangan.
"Dan Dea tersentak bangun oleh jeritan tadi!"lanjut Dea.
"Jadi bukan kamu?"Dika penuh tanya.
"Sekarang tidur lagi, gih"kata Dika.
Dika menunjuk sofa yang bertepatan dimuka kamar Dea dan berkata.
"Kak Dika tidur disini!"
Dea kembali menutup pintu dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Dea hanya membolak-mbalik tubuhnya, dipertajam pendengarannya tetap hening, sunyi. Sekelebat Dea menangkap sosok dibalik jendela. Dea memperjelas penglihatannya, benar ada seseorang berdiri dibalik jendela menatapnya.
"Si...Siapa?"kata Dea terbata.
Tidak ada jawaban. Dea bangkit dan menuju jendela, disibaknya gorden tidak ada siapa-siapa. Dea menatap sekeliling benar tidak ada sesuatu yang bergerak atau mencurigakan.
__ADS_1
Cepat-cepat Dea kembali menutup gorden dan melompat ke ranjang. Ditariknya selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya dan bergelung didalamnya.
"Kak Dea...main ayunan yuk!"lamat-lamat Dea mendengar bisikan suara.
"Kak Dea, kak Dea!" Dea mendengar bisikan itu lamat-lamat menjauh dan menjauh.
Dea menarik selimut dan menutupi tubuhnya rapat-rapat.
Dea membuka kelopak matanya pelan-pelan, sinar mentari menghalangi pandangannya.
Akhirnya matanya terbuka juga. Dilihatnya kakaknya didekat jendela menyibak tirai gorden jendela.
"Selamat pagi tuan putri!"goda sang kakak.
"Kak Dika, nggak lucu ah!"kata Dea cemberut.
"Kak Dika nanti lembur?"tanya Dea, sembari bangkit dan duduk ditepi ranjang.
"Masa sih kak, hari Minggu kerja terus!"kapan liburnya?"
"Mending sekarang kita masak, yuk!"ajak Dika pada Dea.
Dea mengikuti langkah Dika menuju dapur, mereka berdua sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Biar aku saja kak yang masak, kak Dika menyiram tanaman saja!"kata Dea mengambil alih pekerjaan Dika. Dika segera meletakkan kangkung yang dipegangnya dan melangkah menuju halaman!"sebentar saja masakan. Dea sudah masak dan terhidang dimeja makan.
Semua perkerjaan sudah selesai, meraka berdua sudah duduk dimeja makan dan menyantap makanan mereka.
"Untuk apa kursi ditaruh dipaagar samping?"
tanya Dika mengawali percakapan.
"Hee...heee!" Dea terkekah
"Kamu De, kurang kerjaan banget!"kata Dika.
"Ya, Dea bosan sendirian!"kata Dea.
"Nanti pulangnya jangan malam-malam ya kak!"pinta Dea.
"Memangnya kafe punya kakak sendiri, bisa tutup lebih awal!"
"Hee...hee!"kembali Dea terkekeh.
"Kak Dea, main yuk!"ajak Arina.
Dea mengikuti langkah-langkah Arina menuju ayunan.
"Kreet..kriit..kreet...kriit!"bunyi ayunan diayun oleh Arina. "Hii...hii...hii...hii...hii!"tawa Arina aneh. Mendadak Dea menoleh dan "aaahhh...!"Dea berteriak melihat wajah Arin yang pucat belepotan darah. Dea terbangun dengan tubuh penuh keringat. Rupanya dia bermimpi, mimpi yang aneh sekaligus mengerikan. Lagian mengapa dia harus ketiduran disofa. Dea menatap jam dinding baru jam tujuh dan dia mengalami mimpi aneh.
"Tok...tok...tok!"kak Dea!"seperti suara Arina apa tadi aku belum sempat kunci pagar."Pikir Dea".
"Iyaa...!"teriak Dea. Dea membuka pintu mendapati Arina membelakanginya.
"Kerumahku kak, Dea mau nunjukkan sesuatu!"kata Arina segera melangkah. Dea mengikuti dari belakang keluar halamannya dan berjalan kearah rumah Dea.
Seseorang memegang pundak Dea dan Dea menoleh.
"Kak Dika!"Kata Dea.
"Lagi apa disini?"tanya Dika.
"Diajak main sama Arina, lho mana anaknya kak?" tanya Dea kebingungan.
"Kakak lihat kamu berjalan sendirian, Kakak teriak-teriak panggil kamu, kamu nggeloyor terus De, jadi kakak susul!"
"Lihat tuh pagarnya masih terkunci, rumahnya juga gelap, kamu itu ada-ada saja De!"
Mendengar penuturan kakaknya Dea melihat kearah rumah Arin masih sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
__ADS_1