
"Kamu bisa ceritakan siapa Safitri ?"
Tiba-tiba Dea bertanya memecah keheningan diantara mereka. Tanpa Dea ketahui wajah tampan Panji mengalami ketegangan walau sesaat.
"Maaf kalau pertanyaan ku barusan membangkitkan kenangan kamu yang telah lewat !"
"Masih ada satu lagi, dimana kamu menawan jiwa Lestari ?"tanya Dea lagi.
Mendengar pertanyaan Dea,Panji tidak bisa menguasai emosinya lagi. Panji mengepalkan kedua tangannya dengan keras.Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Dea dengan tatapan tajam menghujam. Mendapat tatapan yang menghujam muncul keberanian Dea untuk angkat bicara.
"Oh.....ini wujud aslimu ?"ternyata benar kamu itu hanya arwah jahat yang yang penasaran !"
Panji melangkah mendekati tempat Dea berdiri. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Dea menatap kembali tatapan Panji yang menahan amarah menatapnya,tidak merasa takut sedikitpun.
"Dimana jiwa Lestari kamu sembunyikan.Didunianya sana dia berjuang antara hidup dan mati !"kata Dea.
"Oh...jadi ini sifat aslimu !"kata Panji mengangkat kedua tangannya hendak menampar wajah Dea. Dea hanya mampu memejamkan matanya siap menerima tamparan Panji.
Entah mengapa melihat wajah Dea yang pasrah membuat amarahnya melunak.
"Sudah buka mata kamu !"Panji menurunkan tangannya kembali. Mendengar suara lembut Panji Dea membuka kelopak matanya pelan-pelan, terlihat Panji tersenyum menatapnya.
"Aku memang arwah penasaran,seperti katamu kamu ingin cerita tentang Safitri,aku bisa cerita,tapi untuk Lestari maaf aku tidak tahu menahu soal itu. Tapi tenang aku siap membantumu mencari tahu !"
Panji meraih kedua tangan Dea dan menggenggamnya.
"Kamu harus percaya padaku, aku tidak sejahat yang ada dipikiranmu !"
"Kamu benar-benar keras kepala, aku menyukai itu !"kata Panji tak pernah lepas menatap Dea. Ada getar-getar halus mengalir dalam tubuh Dea, dan Dea tidak mau itu terlalu lama menguasainya.Dea dengan lembut berusaha melepas tangannya dari genggaman Panji, Panji segera tanggap dan melepaskanya.
"Katanya mau cerita tentang Safitri !"kata Dea malu-malu.
Panji menarik napas panjang ingin rasanya dia membawa tubuh Dea dalam pelukannya.
Panji segera sadar membuang pikiran buruk yang ada di otaknya.
"Sebaiknya kamu duduk biar lebih santai !"
"Panji dari tadi muter-muter, kapan mau cerita ?"
"Kamu itu ya pintar menggoda juga galak !"kata Panji.
Seketika Dea terdiam terjebak oleh kata-katanya sendiri.
"Aku tahu kamu merasa tidak nyaman, sebaiknya kita duduk diluar, supaya perasaan kamu agak nyaman !"kata Panji seakan tahu isi hati Dea.
Panji melangkah membuka pintu dan berjalan keluar, Dea mengikuti dibelakangnya. Mereka duduk disebuah bangku panjang yang ada di teras ditengah-tengah kabut, yang ada disekitar mereka hanya putih dan putih.
"Kamu mau tahu kisah Safitri ?"tanya Panji. Dea menganggukan kepala.
Seperti apa yang dialami oleh Dea.
Safitri terbangun dari tidurnya saat mendengar bisikan lembut memanggil -manggil namanya.
"Safitri....Safitri !"
Safitri terbangun dan melangkah mengikuti bisikan lembut ditelinganya sampai menuntunya ke sumber mata air. Safitri melihat sekelebat bayangan orang yang berjalan dijalan setapak didepannya. Sepertinya bayangan itu memanggilnya dan menuntunya kesuatu tempat. Safitri terus melangkah menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin menyempit tak terjamah manusia. Dia terus melangkah menerobos semak dan ranting yang menghalangi langkahnya hingga dia keluar dari jalan itu dan menemukan tempat yang agak lapang.
Laki-laki tua dengan pakaian hitam-hitam menyambutnya.
"Kenapa aki malam-malam berada disini ?"tanya Safitri ketakutan.
"Tidak usah takut, saya aki Karta disuruh tuanku Panji untuk menjemput Safitri !"
"Aki tahu nama saya ?"
__ADS_1
Aki Karta mengangguk.
"Aki akan mengantar Safitri untuk menemui tuanku Panji !"
"Yang harus nak Safitri ingat setelah melangkah melewati tapal batas ini jangan sekali-kali kamu menoleh ke belakang apapun yang terjadi !"pesan aki Karta.
Safitripun melangkah mengikuti langkah aki Karta, hingga sampai ke dusun misterius. Aki Karta malam itu membawa Safitri menginap dipondoknya. Baru keesokan harinya mengantar ke rumah tuan Panji.
Panji benar-benar terpesona oleh kecantikan Safitri yang polos dan pendiam itu.
Mendengar Panji bercerita yang memuji keanggunan Safitri ada rasa iri mengiris hati Dea.
"Kamu sangat mencintainya ?"tanya Dea menyela.
Tanpa mendapat jawabannyapun Dea tahu apa jawaban Panji.
"Iya !"jawab Panji singkat.
Panji kembali melanjutkan ceritanya.
Hingga suatu pagi, Panji menemui Safitri dipondok ni Asih.
"Kamu memang laki-laki tak bermoral !"teriak Safitri dengan amarah.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Panji.
"Masih juga berani muncul disini !"
"Safitri maksud kamu apa ?"tanya Panji keheranan.
"Kamu tahu hari ini kita akan melangsungkan pernikahan.Tapi apa yang kamu perbuat semalam, kamu hampir saja menodaiku Panji !"kata Safitri setengah berteriak
"Apa...? aku tidak melakukan hal serendah itu Safitri, karena aku mencintai kamu".
Safitri lari dalam pelukan ni Asih dan menumpahkan tangis disana.
Kali ini Dea tidak bertanya hanya menatap Panji dengan meminta kejujuran.
"Kamu sependapat dengan Safitri ?"tanya Panji kepada Dea.
Buru-buru Dea menarik tatapannya dari Panji.
"Tidak, kalau kamu mau, kamu bisa melakukan hal serupa kepadaku kan ?"
"Terima kasih De, kamu orang pertama yang percaya padaku, kadang kamu galak dan menjengkelkan".
Panji yang merasa telah difitnah segera mendatangi tempat Ki Darta mantan kepala dusunya, hanya dia yang mempunyai ilmu bisa merubah diri menyerupai orang yang diinginkannya.
"Ki Darta keluar kau !"teriak Panji.
Laki-laki tua berewokan keluar rumah dengan berkacak pinggang.
"Heh....ada apa pagi-pagi datang ke rumah orang dengan berteriak, mentang-mentang kepala dusun berbuat seenak udelmu !"
"Ki Darta apa yang kamu perbuat dirumah ni Asih semalam ?"tanya Panji menahan amarahnya.
Ki Darta tertawa mendengar pertanyaan Panji.
"Ha...ha....ha...ha ternyata kamu ditolak oleh gadis itu dan batal menikah !"kembali Ki Darta tersenyum licik penuh kemenangan.
Panji maju melangkah mendekati Ki Darta. Kedua tangannya terangkat akan mencekik leher Ki Darta. Ki Darta memang licik dia sudah menyiapkan tenaga dalam hanya sekali sentuh tubuh Panji terjengkang keras kebelakang jatuh menimpa tanah.
"Dengar ya bocah, kamu tidak bisa mengalahkan aku dan Safitri akan menjadi milikku !"kata Ki Darta.
Sebelum Panji berdiri dan membalas perbuatan Ki Darta, laki-laki tua itu sudah meleset meninggalkan tawa yang membahana."Ha....ha.....ha....ha
__ADS_1
Tiba-tiba kabut perlahan-lahan muncul menyelimuti dusun itu.
"Safitri....!"
Panji segera bergegas melangkah menuju pondok ni Asih. Kabut tebal semakin pekat menyelimuti dusun menghambat langkah Panji.
"Jadi kabut ini perbuatan Ki Darta ?"tanya Dea tiba-tiba menyela.
"Berarti dia juga menginginkan aku !"kata Dea dihati.
Dia risih membayangkan laki-laki tua dengan wajah mesum menyentuh tubuhnya. Tanpa sadar Dea menggeser duduknya mendekati Panji dan memeluknya erat. Sesaat Panji terkejut dan larut dalam suasana yang mendebarkan jantungnya.
Panji berusaha menata detak jantungnya, dia tidak boleh hanyut dalam suasana.
"Kamu merasa takut De ?"tanya Panji. Panji menarik sebelah lengannya dan melingkarkan ke punggung Dea. Rasa hangat dirasakan oleh Dea, pelan Dea melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku merasa takut, jadi aku tadi reflek mencari perlindungan !"kata Dea.
"Mesum !"kata Panji bercanda. Sebuah senyum menghias bibirnya.
Buru-buru Dea berdiri.
"Kamu itu De, galak, cepet maram juga nyeselin !"
"Mau mendengar kelanjutan ceritanya nggak, atau berdiri saja disitu !"kata Panji.
Dea menuruti kata Panji dan duduk agak menjauh. Panji memaklumi sikap Dea karena dia juga merasakan hal sama bila terlalu berdekatan.
Panji kembali melanjutkan ceritanya.
Setiba dipondok ni Asih, pondok sudah dalam keadaan kosong.
Safitri tidak ada, ni Asih juga tidak kelihatan, pintu semua dalam keadaan terbuka. Sesuatu telah menimpa mereka. Lamat-lamat Panji mendengar ni Asih berteriak memanggil Safitri.
"Safitri..... Safitri !"
"Safitri kemana ni ?"tanya Panji tiba-tiba sudah berada dibelakangnya
"Apa yang terjadi ni ?"
Ni Asih seperti orang kebingungan, menoleh kearah Panji yang baru datang dan menoleh kearah Safitri yang melangkah ditarik-tarik oleh Panji dengan paksa.
"Kalau tuanku ada disini, siapa tadi yang bersama nak Safitri !"kata ni Asih dalam kebingungan.
"Dia Ki Darta ni, mereka kearah mana ?"tanya Panji.
Ni Asih menunjuk suatu arah. Panji cepat berjalan menuju arah yang ditunjuk ni Asih dan wanita tua itu mengikuti tuannya jauh tertinggal.
Rupanya Panji terlambat sampai tempat Safitri berada. Tubuh Safitri sudah melayang terjun ke dasar jurang dan menghantam batu-batu cadas didasar jurang tewas dengan mengenaskan.
Panji berteriak histeris. "Tidak........!"
Ni Asih yang datang terlambat teriak melihat kematian Safitri yang mengenaskan.
Tak jauh dari tempat Panji dan ni Asih berada, Ki Darta tertawa penuh kemenangan.
"Lihat Panji kamu telah kalah, jiwa Safitri telah menjadi milikku !"selamanya. "Ha....ha.....ha.....ha !"Dalam sekejap tubuh Ki Darta lenyap dari pandangan.
Dea melihat Panji tertunduk dengan menutupi wajah dengan kedua belah telapak tangannya. Dea mengangkat tangannya dengan maksud menenangkan Panji dengan menyentuh pundaknya. Niatnya diurungkan, Dea takut terjabak kembali dengan perasaannya.
"Maaf Panji, karena aku kamu harus mengenang masa lalumu !"kata Dea akhirnya.
Mendengar penuturan Dea Panji mengangkat kedua telapak tangannya yang menutupi wajah dan meletakkan dikedua pahanya.
"Kejadian itu sudah ratusan tahun yang lalu, tidak ada gunanya harus disesali, yang penting sekarang adalah dirimu, aku harus menjagamu dari incaran Ki Darta !"Panji menatap Dea, apa yang diucapkannya benar-benar tulus, keselamatan Dea adalah tangung jawabnya. Dan Panji merasa dia benar-benar mencintai gadis yang duduk bersamanya.
__ADS_1