
Sebuah tempat yang sarat berbau kematian. Tempat yang landai disekelilingnya tumbuh-tumbuhan pandan berduri yang menjulang tinggi mengelilingi tempat itu. Ditengah-tengah tempat itu terdapat bongkahan-bongkahan batu belerang yang cukup luas dan terlihat satu dua bangkai burung menggelepar disana. Tumbuh juga satu dua pohon yang cukup besar serta rindang yang sudah berumur ratusan tahun berdiri kokoh menaungi tempat itu menambah kesan keramat. Dan diatas bongkahan-bongkahan belerang itu terpancing sebuah tiang persembahan.
Sebuah bayangan meleset dan tiba-tiba berhenti ditempat itu. Ternyata bayangan itu seorang laki-laki dan memanggil seseorang dipundaknya laki-laki yang ternyata Ki Darta itu segera menurunkan seorang gadis dipundaknya yang terkulai lemas. Gadis itu masih bersandar di lengan Ki Darta belum sadarkan diri. Sekali sentuh tangan Ki Darta mengusap wajah gadis itu, beberapa saat gadis itu mulai tersadar dari pingsannya dan merasa keheranan dengan indra penciumannya yang menyengat. Ki Darta menarik lengannya setelah gadis itu tersadar.
Hahahaha..........
Terdengar tawa Ki Darta.
"sebentar lagi kau akan menjadi persembahan dan menjadi milikku selamanya !"
Kini gadis yang tidak lain adalah Dea itu tersadar sepenuhnya. Bau belerang kian menusuk hidungnya membuat pernapasannya seperti tersumbat. Pelan-pelan Dea merasakan tenagannya mulai melemah, dengan langkah terhuyung dia mencoba melangkah menjauhi tempat itu.
Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan tempat itu, sebuah tangah menarik pundaknya dengan kasar. Ki Darta menghentikan langkahnnya yang akan mencoba kabur.
__ADS_1
Dea berhenti ditempatnya, dengan sisa tenaga yang dimilikinya dengan tenang diambilnya napas dan berbalik dengan mendoraratkan sebuah tendangan telak didada Ki Darta.
Laki-laki itu beberapa saat sempoyongan, dia sama sekali tidak mengira akan mendapatkan serangan mendadak dari tawanannya yang terlepas.
"Bangsat . tikus kecil, rupanya kamu punya nyali juga melawan Ki Darta !"katanya sesumbar.
"Kamu belum tahu siapa sebenarnya Ki Darta !"katanya sambil berkacak pinggang.
Sorot mata Ki Darta merah menahan amarah menatap sosok Dea yang berusaha berdiri tetap tegak karena berusaha melawan tubuhnya yang kian melemah. Bau belerang semakin tajam menusuk hidungnya. Dea berusaha untuk bernapas sehemat mungkin menekan gas belerang untuk tidak dihirupnya.
"Panji....tolong aku Panji !"terdengar suara lirih dari mulut Dea. Dalam saat-saat seperti itu Dea sangat mengharapkan kehadiran Panji menolongnya.
"Aku tidak mau jatuh ke tangan laki-laki bejat, tua bangka itu, tolong aku Panji !"ratap Dea.
__ADS_1
Akhirnya langkahnya Ki Darta berhenti tepat di muka Dea. Laki-laki itu tersenyum licik meremehkan Dea.
"Terus sebut saja pangeran penolongmu itu. Pangeran lmbekmu itu nggak bakalan menolongmu !"katanya pongah.
"Tidak, Panji menolongku dan dia akan membunuhmu !"kata Dea mengelak. Dia berusaha meronta oleh cengkraman tangan Ki Darta yang mencengkram lengannya dan menariknya dengan paksa. Ki Darta kembali membawa Dea mendekati area bongkahan-bongkahan batu belerang itu. Dea berusaha melawan dan meronta, tetapi sia-sia. Perbuatannya itu justru menguras tenaganya.
Hari semakin sore, alampun berubah semakin kelam. Dea benar-benar kehabisan tenaga. Dia hanya pasrah saat Ki Darta menyeret tubuhnya dan mengikt kedua lengannya ketiang persembahan. Laki-laki itu mengikat kedua kaki Dea. Dan sebelum pergi meninggalkan Dea, dia masih sempat berucap
"Baik-baiklah disini, sebentar lagi kematian akan menjemputmu dan aku akan memilikimu selamanya!".
"Hahahaha..............!"
Cus......Dea meludah tepat diwajah Ki Darta. Laki-laki itu dengan kesal menghapus dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Dan dengan sekuat tenagannya laki-laki itu menampar wajah Dea. Kepala Dea terkulai dan kembali pingsan untuk waktu yang lama.