
Sementara itu ditepi sumber air, pagi itu seorang pemuda tengah tersadar dari pingsannya oleh sinar mentari yang menghangatkan tubuhnya. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Ya Allah...!"dia segera melompat bangun.
"Aku berada dimana, apa yang terjadi padaku semalam ?"kata Dea kepada dirinya.
Ditatapnya alam disekitarnya. Sepertinya ada hujan badai semalam, banyak ranting-ranting pohon yang patah. Sebuah pohon besar tumbang tak jauh darinya berada.
"Sedikitpun aku tidak mengetahui kejadian itu semalam, aneh ?"
Pemuda itu teringat sesuatu semalam bukannya dia mengikuti Dea.
"Dea.... Dee..!"teriaknya berulangkali.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram lengannya kuat-kuat.
"Ndre.... sadar Ndre, Dea tidak berada disini, dia sudah mengambil keputusannya sendiri. Percuma kita berteriak dia tidak mendengar teriakan kita, Dunia kita berbeda Ndre, kita kembali kerumah Simbah !"ajak Risma.
Wajah Andre benar-benar kusut dan cemas.
"Aku tidak bisa menjaga Dea, seperti harapan kak Dika Ris !"kata Andre sedih
"Semua itu diluar kuasa kita Ndre !"
__ADS_1
"Lalu dari mana kamu tahu aku berada disini ?" kata Andre kemudian
"Dari Simbah !"Risma menjawab
"Benar mas !"
"Iya Ndre mas ini yang ngantar Risma sampai disini, disuruh simbah !"
"Sebaiknya kita kembali dulu kerumah simbah !"kata Risma dengan nada sedih.
Mereka bertiga kembali menuju rumah simbah dengan hati-hati.
"Tadi malam itu Ndre hujan deras banget diselingi kilat dan petir !"kata Risma dalam perjalanan pulang.
"Disekitar tempat tadi juga banyak dahan pohon yang patah, ada yang tumbang lagi, semalam kamu berlindung dimana Ndre ?"tanya Risma.
"Masnya jangan ditanya soal itu mbak !"kata pemuda yang bersamannya.
"Memangnya kenapa mas ?"
"Kalau penunggu sumber air itu tidak menginginkan kita, ya mereka akan melindungi kita !"kata pemuda itu kepada Risma.
"Begitu ya mas !"
__ADS_1
"Iya !" jawab Risma
Andre hanya terdiam mendengar percakapan Risma dan pemuda desa itu. Semalam dia tidak bisa mengingat apa-apa selain dia jatuh oleh hempusan angin yang cukup kencang, dan jatuh pingsan.
Bertiga mereka sampai juga dirumah Simbah. Tergopoh-gopoh wanita tua itu menyambut kedatangan mereka.
"Alhamdullilah, nak Andre selamat !"
"Kalian duduklah dulu !"perintah Simbah kemudian.
Simbah duduk diamben diikuti Risma yang mengambil duduk disebelahnya. Sementara Andre duduk disebelah kursi dan pemuda desa itupun ikut duduk juga.
"Apa mbah bisa menolong mbak Safitri untuk kedua kalinya ?"pemuda desa itu mendahului mereka bertanya.
"Untuk kali ini mbah tidak bisa membantu, hanya kekuatan nak Safitri saja yang bisa menolong dirinya sendiri !"
"Begitu ya mbah, apa kita tidak mencoba dengan cara lain untuk menolongnya ?"
"Tidak nak Andre, kita hanya bisa bantu lewat doa !"
"Kalau begitu Risma, sebaiknya kita pulang, kita harus memberi tahu kak Dika bagaimanapun juga dia menitipkan keselamatan Dea kepada kita dan aku tidak bisa menjalankan amanahnya !"kata Andre sedih.
Andre bertunduk sedih merasa bersalah tidak bisa menjaga amanah dari Dika.
__ADS_1
"Itu akan lebih baik kalau kalian memberi tahu keadaan temanmu kepada saudarannya, siapa tahu saudarannya bisa mencari jalan keluar untuk menolong kesulitan saudarannya !"kata Simbah pula.
Sore itu juga Andre dan Risma segera kembali ke Surabaya dengan membawa ketidak berhasilan mereka membawa Dea pulang di Surabaya. Justru sebaliknya mereka yang membawa berita kegagalan mereka menyelamatkan Dea. Mereka berdua berduka.