MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
12. BISIKAN-BISIKAN GAIB


__ADS_3

Matahari telah condong ke barat ketika Dea kembali berjalan menuju sumber mata air. Ada bisikan di telinganya yang menuntun Dea untuk melangkah kesana.


"Safitri... Safitri....!"bisikan di telinganya Dea begitu teduh dan membuat dia terlena. Dea terus melangkah dan melangkah. Akhirnya langkah Dea sampai juga ke sumber air sementara alam sekitarnya mulai redup.


"Minumlah air dari sumber air itu Safitri !"bisikan halus di telinganya.


Dea menggeleng-nggeleng kepala mengusir pengaruh bisikan di gendang telinganya.


"Minumlah.... kamu kehausan !"bisikan di telinganya.


Dea merasakan kerongkongannya begitu kering, akhirnya Dea melangkah mendekati mata air dan melekatkan kedua telapak tangannya sebagai wadah mengambil air dan meminumnya. Rasa dingin, sejuk mengalir di kerongkongannya. Tak puas berkali-kali Dea membasuh mukanya dengan air dingin yang ada dihadapannya.


Tanpa disadari oleh Dea alam sekitarnya mulai gelap. Dea menatap kesekeliling, pohon-pohon dihadapanya berubah semakin rapat dan tumbuh besar-besar dari sebelumnya. Daunya semakin lebat serta rindang, semak-semak semakin rapat dan suara gemerincik air kian deras suaranya. Dea menatap sekeliling disekitarnya adalah hutan jati yang lebat serta pandan-pandan berduri bertebaran disekitar Dea berdiri, berderet memanjang sepanjang aliran air yang mengalir kebawah.


"Ini mimpi... ini hanya mimpi !"gimana Dea lirih.


"Safitri ini bukan mimpi, ini nyata !"kembali Dea mendengar suara itu.


"Melangkahkan lewat jalan setapak yang berada dihadapmu !"suara itu memandu Dea.


Dea mendengarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. Dia menemukan jalan setapak yang dimaksud hanya cukup satu orang lewat. Sekelebat mata Dea menangkap sesosok bayangan lewat jalan yang ada dihadapannya.


"Hai....tunggu, siapa disana !"teriak Dea. Tidak ada jawaban hanya kesunyian yang tercipta.


Dea berlari menerobos jalan setapak yang cukup muat untuk dirinya itu didepan hanya kegelapan yang tampak.


Malam benar-benar turun, masih beruntung dirinya sinar rembulan masih bisa menerangi jalanan didepannya cukup lama Dea berjalan belum juga jalan yang dilaluinya berakhir. Tak dihiraukan gesekan semak belukar dikiri kanannya yang menghalangi jalannya, rumput yang diinjaknya terasa kian liar diinjaknya. Begitu pula lengannya juga terasa perih terkena gesekan semak-semak sepanjang gag dilaluinya.


Rasa putus asa, sedih, kecewa menghinggapinya. Mendadak di hadapannya terlihat kerlip cahaya, Dea mempercepat langkahnya menuju arah cahaya.


Sosok laki-laki setengah tua mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala dari kain juga warna hitam berbentuk segitiga berdiri ditepal batas seperti menuju desa selanjutnya. Sepertinya laki-laki itu sengaja menunggu kedatangannya.


Setiba di hadapan laki-laki itu, Dea mengatur napasnya yang turun naik merasakan capek serta ketakutan yang baru lepas dari jiwanya.


"Bapak menunggu siapa ?"tanya Dea.


"Menunggumu Safitri !"jawabanya.


"Dari mana bapak mengetahui kalau saya Safitri, sedang Safitri itu hanyalah nama belakangku !"kata Dea. Menjelaskan sekaligus bertanya.


"Dari tuanku Panji Laksana, yang menyuruh aku untuk membawamu !"


"Membawaku kemana ?disekitar sini hanya ada hutan belantara !"kata Dea.


"Ke padukuhan kami !"kata laki-laki itu.


"Kalau aku tidak mau !"kata Dea menyelak.


"Itu sudah menjadi takdirmu, bukankah kamu mempunyai tanda dua bercak merah diatas pusarmu !"kata laki-laki itu.


"Aku tidak punya tanda yang kamu maksud !"kata Dea mengelak.


"Tuanku Panji Laksana yang memberitahu, tak mungkin beliau salah orang !"jawab laki-laki itu.


"Bertemu dengan tuanmu saja aku belum pernah, kapan dia pernah membuka pakaianku, sehingga dia mengetahui ada tanda lahir yang tersembunyi letaknya !"kata Dea pula.


Sepertinya laki-laki itu sudah kehilangan kesabarannya. Dia mendekati Dea dan berkata


"Kalau kamu masih mengingkari coba aku lihat sendiri !"


Tanggan laki-laki itu terulur, untuk menghindari perbuatan kurang ajar laki-laki itu Dea sudah pasang kuda-kuda. Mendadak angin yang cukup kencang lewat, hampir membuat nyala obor padam. Mendadak orang itu mundur dan menunduk.


Dea menoleh kebelakang tidak ada siapa-siapa dibelakangnya.


Tetapi laki-laki dihadapanya itu seperti tunduk, dan menghentikan niatnya. Dea berpikir siapa yang barusan lewat dan menyebabkan angin sekencang itu.


Sementara didesa laki-laki pemilik ladang dekat sumber air tergopoh-gopoh mendatangi rumah Mbok Ni yang kebetulan tempat Dea menginap.


"Mbok... Mbok Ni, gawat mbok !"kata laki-laki disela nafasnya yang memburu.

__ADS_1


"Apanya yang gawat ?"tanya SiMbah heran.


"Ada gadis yang sengaja datang ke sumber air, wayah Candikala lagi mbok !"kata laki-laki itu.


SiMbah melangkah kebilik Dea dan membuka kelambu, kosong tidak ada siapa-siapa didalam !"


kembali Simbah menemui laki-laki itu dan berkata.


"Kita harus secepatnya menuju sumber air sebelum terlambat !"


"Bawa beberapa pemuda dan siapkan obor untuk penerangan disana !"kata Simbah lagi.


Beberapa anak muda berkumpul dan membawa obor yang terbuat dari bambu dan diisi minyak tanah yang diatasnya disumbat dengan kain sebagai alat penerangan. Mereka mengikuti langkah SiMbah yang berjalan didepan menuju sumber air.


Sunyi senyap suasana di sumber air. Hewan-hewan melampun tiada yang bersuara, bahkan angin pun enggan berhembus, benar-benar keheningan tercipta.


SiMbah mendekat kemata air dan mulutnya komat-kamit membaca doa entah mantra. Angin perlahan berhembus menciptakan hawa dingin menusuk kulit.


SiMbah memberi isyarat supaya yang ikut bersamanya turut memanggil nama Safitri.


Suasana berubah riuh memanggil, nama Safitri.


"Safitri.... Safitri.... Safitri....!"


Mereka terus-menerus memanggil nama Safitri sampai naik ke hutan lindung dan berkeliling dengan menyeruhkan nama Safitri.


Sementara ditempat lain, Safitri yang masih bersama laki-laki dengan pakaian serba hitam itu lamat-lamat dia mendegar namanya dipanggil.


"Aku disini, tolong aku, aku ingin pulang !"teriak Safitri tanpa menghiraukan laki-laki didepannya.


Laki-laki itu akan mendekat dan mendadak undur diri. Dea merasakan embusan lembut angin di mata air terus berkomat kamit merapal mantra.


Dea masih diliputi tanda tanya oleh sikap laki-laki didepannya.


"Tolong bawa aku ke tempat ku semula !"


Angin lembut menyelimuti sekujur tubuh Dea. Dea merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Ada tangan kekar merengkuhnya dari belakang, membawa Dea kesebuah suasana yang belum pernah dia alami sebelumnya, membawa Dea melayang dalam dekapannya.


Diantara kesadarannya Dea diletakkan dengan lembut diatas rerumputan dan jemari yang kokoh mengusap keningnya.


"Aku tunggu kembali janjimu !"bisikan lembut di telinganya dan sesat Dea merasakan embusan lembut di pipinya.


"Hai.... dia pingsan disini !"teriak salah satu pemuda kepada temannya yang lain. Beberapa orang segera berlari menuju pemuda yang berteriak itu dan mengangkat tubuh Dea keluar dari hutan lindung membawa ketempat SiMbah.


Dan dibaringkan diatas rerumputan dekat sumber air. SiMbah duduk dan mencelupkan tangannya ke air dan dia percikan ke muka Dea.


Dea membuka mata oleh percikan air diwajahnya.


"Alhamdulillah kamu sudah siuman dhuk !"kata SiMbah.


Pelan Dea bangun dan ikutan duduk di sebelah SiMbah.


"Terima kasih mbah telah menolong Dea !"kata Dea akhirnya.


Akhirnya mereka semua kembali ke desa dan pulang kerumah masing-masing dengan diliputi sebuah tanda tanya.


Begitu pula dengan SiMbah yang masih duduk diamben bersama Dea.


"Ndhuk...., apa sebenarnya tujuanmu datang ke desa ini, selain membuktikan mimpimu ?"tanya SiMbah menatap Dea lekat-lekat.


"Sepertinya kamu juga habis terluka !"kata SiMbah pula.


"Iya mbah.... Dea ingin membebaskan jiwa Lestari, yang waktu itu satu ruangan denganku mbah !"kata Dea menjelaskan.


"Kamu sudah bertemu Panji ndhuk ?"kata SiMbah mirip pertanyaan atau sebenarnya pengakuan SiMbah sendiri.


"Belum mbah !"jawab Dea menggelangkan kepalanya.


"Sebenarnya kamu sudah bertemu dengannya, lihatlah lukamu sudah sembuh tidak ada lukanya !"kata SiMbah pula.

__ADS_1


Dea meraba kening tidak ada bekas disana, tangannya turun meraba lengannya tidak ada bekas juga didadanya juga hilang tanpa bekas, mungkinkah yang dirasakannya seperti sentuhan angin itu adalah Panji yang telah menyentuhnya, beberapa saat Dea kembali terbawa suasana yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Melihat raut muka Dea yang bersemu merah SiMbah menjadi maklum.


"Berarti kamu akan kembali lagi ?"tanya SiMbah. Dea mengangguk memberi jawaban.


"SiMbah tidak bisa membantu kalau itu keputusan kamu, semua keputusan terletak tergantung pada diri kamu ndhuk !"kata SiMbah.


"Sekarang istirahatlah tenangkan dirimu dulu !"kata SiMbah meninggalkan Sendiri di amben.


Sesaat suasana hati Dea hanyut oleh sensasi yang barusan dialaminya sengkuhan tangan yang kekar, bisikan lembut di telinganya serta embusan nafas di pipinya. Dibiarkan anganya melayang hingga dirinya terlelap.


Keesokan harinya SiMbah mendapati Dea tertidur tanpa bantal diamben dalam keadaan lelap. SiMbah tidak bisa berbuat banyak selain menatap Dea penuh rasa iba.


"Semoga ada jalan keluar yang terbaik bagimu ndhuk !"kata SiMbah lirih penuh harapan.


Dea terbangun oleh suara ramai diluar rumah. Masih menucek-ucek matanya dengan punggung tangannya Dea keluar.


"Dee.....!"teriak Risma berlari merangkul Dea.


"Perawan macam apa bangun kesiangan ?"kata Risma melepas pelukannya dan mengguncang tubuh Dea. Risma segera melepas kedua tangannya dari lengan Dea dan menatap heran.


"Kemana lukamu ?"tanya Risma dengan meraba-raba bekas luka dikening Dea. Dea menggeleng.


"Sebuah keajaiban !"kata Dea lugas.


"Teman-temannya diajak masuk ndhuk !"kata SiMbah.


"Iya mbah.... ayo kalian masuk !"ajak Dea.


"Apa kabar ?"tanya Andre formal menjaba tangan Dea.


"Seperti yang kamu lihat !"jawab Dea.


"Duduklah anggap seperti dirumah sendiri, seperti aku !"kata Dea.


Risma lebih mendekat kearah Dea.


"Sudah kamu temukan jawaban mimpi kamu ?"tanya Risma penasaran.


"Ya... !"jawab Dea singkat.


"Maksudnya ya.. gimana?"tanya Andre.


"Ya... aku temukan situs di mimpi aku, dan semalam aku sempat menuju masa silam dan aku kembali lagi atas pertolongan SiMbah serta warga dan aneh lukaku hilang


!"cerita Dea.


"Ajaib !"guman Andre.


"Dan aku punya janji untuk kembali kedunia misterius itu, aku juga belum membebaskan jiwa Lestari !"kata Dea


"Yakin kamu akan kembali De ?"tanya Risma.


"Kita ikut !"kata Andre serta Risma kompak.


"Jangan ini perjanjianku dengan Panji !"kata Dea menjelaskan.


"Panji....?"tanya Andre dengan nada sulit dicerna.


"Begitulah !"jawab Dea.


"Sepertinya kamu tertarik pada sosok Panji !"kata Andre.


"Tidak sama sekali tidak, ini semua menyangkut rasa kemanusiaan, dimana seseorang berkorban untuk diriku !"kata Dea.


"Iya sih, kasihan juga Lestari !"komentar Risma.


Kembali suasana ruangan itu menjadi hening, semua kalut dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2