MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
2. TEMAN YANG TAK TERDUGA


__ADS_3

Dea menatap gedung megah didepannya. Dihalaman sudah ramai lalu-lalang siswa yang memakai seragam seperti dirinya,putih, abu-abu. Dea masih mematung dipintu gerbang. Tubuhnya terhuyung,ketika tiba-tiba seorang cowok menabraknya dengan keras,entah disengaja atau tidak. Tubuhnya yang sudah terlatih dengan mudah kembali berdiri tegak.


Seorang cowok tersenyum sinis."Maksud lu apa?"balik Dea menatap sinis kearah cowok yang punya penampilan amburadul itu.


"Lu...!"


Dea mundur dua langkah saat cowok itu akan mendorong tubuhnya. Ganti Dea tersenyum mengejek.


Melihat dua orang siswa yang tengah ribut seorang satpam mendekati mereka dan melerai.


"Siswa baru ya?"Pak Budi sekilas Dea membaca nama yang tertera didada pak satpam.


"Iya pak"jawab Dea.


Cowok itu segera berlalu dari hadapan Dea dan pak satpam masuk halaman. Sedang Dea menuju ruangan guru yang ditunjukkan oleh Pak Budi.


Bel masuk berbunyi. Beberapa saat terdengar suara gaduh,para siswa memasuki kelasnya masing-masing. Para guru pengajar juga mulai meninggalkan ruangan guru, tinggal Bu Rena wali kelas dua IPS 1.


"Bu Rena,tolong antarkan Dea murid baru kita kekelas Bu Rena"kata bapak kepala sekolah kepada bu Rena.


"Baik pak!"


Bu Rena membimbing Dea melewati lorong-lorong kelas, kemudian naik kelantai dua kembali melewati lorong-lorong kelas dan berhenti dikelas dua IPS 1.


Bu Rena mengetuk pintu. Guru laki-laki peruh baya membuka pintu dan bicara sebentar dengan bu Rena, kemudian menyilahkan bu Rena masuk kelas yang diikuti oleh Dea.


"Selamat pagi anak-anak".


"Pagi Bu!"anak-anak menjawab serempak.


"Ini teman baru kalian, namanya Dea".


Dea menganggukkan kepala.


"Untuk perkenalan lebih lanjut, silahkan nanti berkenalan sewaktu istirahat".


"Untuk waktunya saya serahkan kembali ke Pak Herman".


"Terima kasih pak atas waktunya"Bu Rena kemudian meninggalkan kelas.


Dea mengedarkan pandangannya keseliling. Semua bangku penuh,hanya tinggal satu kosong disebelah seseorang yang mendelik menatapnya.


"Kamu Dea duduk satu bangku dengan Andre!"perintah Pak Herman kepada Dea.


Dengan langkah berat Dea menuju kebangku yang satu-satunya kosong.


Refleks Andre mendorong bangku kosong itu jauh kepinggir.


"Sungguh-sungguh sial,kenapa sebangku sama setan"Dea menggerutu.


"Lu,yang setan Kunti"balas Andre. Jemari tangan Dea mengepal ingin menjotos wajah cowok menyebalkan itu,namun ditahannya dan memilih diam serta duduk disebelah Andre dengan hati dengkol.


"Anak-anak untuk perkenalan lebih lanjut silahkan nanti waktu istirahat"Bapak lanjutkan pelajaran kembali!"kata Pak Herman kembali menerangkan kelanjutan pelajaran.


Dikolong meja kaki Dea dan Andre masih saling tendang dan injak.


Bel waktu istirahat berbunyi. Suasana gaduh,Pak Herman segera mengakhiri pelajarannya dan meninggalkan kelas.

__ADS_1


"Lu..ya!"kembali Andre memancing keributan.


"Kamu itu Ndre, berbagai bangkulah sama Dea teman baru kita"seorang gadis menghampiri Dea dan mengulurkan tangannya,dan menyebut namanya "Risma!".


Dea menyambut uluran tangan Risma dan menyebutkan namanya pula"Dea!"


"Hu...resek lu,yuk Fa kita cabut!"ajak Andre pada Rafa teman cowoknya. yang sudah sedari tadi menghampirinya.


"Jangan ladeni urusan cewek,ribet"komentar Andre sebelum melangkah pergi.


"Dea..boleh nanya sesuatu?"tanya Risma agak ragu.


"Boleh"Dea mengangguk.


"Sudah kenal Andre sebelumnya?"Dea menggeleng.


"Sepertinya dia sebel banget sama kamu?"


"Tadi sih semat ketemu dipintu gerbang,dia nabrak aku sampai jatuh".


"Oh...!"Risma manggut-manggut.


"Sekarang kekantin yuk"ajak Risma pada akhirnya.


Suasana kantin sangat gaduh. Ternyata Risma sudah ditunggu teman-temannya dikantin. Risma segera bergabung dengan temannya.


"Sory telat!"


"Dea kenalan sama teman-teman!"Pinta Risma. Dea pun berkenalan juga dengan teman-temannya.


Rumah besar itu sepi. Tinggal Dea dalam kesendirian. Sedang Dika pulangnya larut,karena harus berkerja disebuah kafe sepulang kuliah.


Iseng Dea naik ke lantai atas,bangunan khusus untuk mencuci sekaligus menjemur pakaian dan beberapa pot tanaman yang terbengkalai karena tidak dirawat. Sepertinya tempat inipun jarang digunakan. Diatas sana dia bisa mengintip tempat tinggal Arina.


Rumah itu berhalaman luas,ada kolam renang yang lumayan besar,tempat bermain jungkat-jungkit,serta sebuah ayunan dibawah pohon mangga.


Masih ditempatnya sembunyi Dea terus mengamati. Sebuah mobil hitam masuk halaman. Seorang anak kecil yang ternyata berlari menghampiri wanita yang tengah keluar dari mobil hitam itu. Arina mencium punggung tangan wanita cantik itu dan bergelanyut manja dilengannya. Tidak tertangkap pembicaraan mereka ditelingaku.


Kembali gadis cilik itu keluar dan bermain ayunan dibawah pohon mangga yang lindang. Wajahnya kelihatan ceria. Tangan Arina melambai-lambai kedalam rumah. Sosok pemuda jangkung melangkah ketempat Arina main ayunan.


"Tunggu,cowok itukan,tak salah lagi"Dea mengomel sendirian. Cowok itu tadi pagi yang ngatain dia Kunti.


"Wait..wait,kalau diperhatikan dia nggak norak amat.Tuh..tuh,dia dengan penuh kasih bermain ayunan dengan Arina".


Dea terus saja mengamati mereka ditempat sembunyinya. Rasa pegal menyelimuti dirinya. Dea melangkah turun, kebetulan sampai dilantai bawah terdengar bel berbunyi. Setengah berlari Dea menuju depan.


"Assalamualaikum"terdengar suara nyaring.


"Waalaikumsalam"jawab Dea muncul diambang pintu. Cowok jangkung itu melongo.


"Masuk saja,pagarnya tidak dikunci!"


Sepertinya terjadi perdebatan kecil diantara mereka. Akhirnya cowok jangkung itu menyerah dan membuka pintu pagar. Arina dengan riang menarik narik tangan cowok jangkung yang enggan melangkah.


"Kak Dea sendirian?"tanya Arina,Dea menjawab dengan mengganggukkan kepala. Meletakan pantatnya dikursi teras.


"Kak Andre duduk sini,ini teman baru Arin yang barusan Arin cerita".

__ADS_1


"Ayo kak,ini kak Andre sepupu Arin!"kenalkan kak"Andre masih juga berdiri,begitu pula dengan Dea.


"Udah kenal"meraka berdua menjawab serempak. Arina menoleh bergantian kearah Andre dan Dea.


"Kalau begitu,Kak Andre dan Kak Dea satu sekolah.


Asyik...Kak Andre sering main kerumah Arin nanti".


"Ih...gadis cilik ini doyan omong ternyata"Dea membatin.


Gadis cilik itu terus berceloceh tak henti-henti,tercinta suasana akrab diantara mereka. Ternyata Andre juga tidak senorak penampilan tadi pagi. Dia cowok yang mudah bergaul.


"Napa,natap gue kayak gitu?"naksir gue,terus terang ya gue ogah ditaksir sama Lu"kata Andre dengan entengnya.


"Kamu kira aku bakalan naksir kamu,nggak bakalan terjadi,bukan tipe aku"kata Dea tak kalah pedasnya.


"Kakak...kakak,kakak berdua ngomong apa sih?"


"Disini ada Arin lho"kata Arin berdiri dan mendekati Andre. Ditarik-tarik lengan cowok itu.


"Kakak berdua damai ya,ini permintaan Arina!"pinta gadis cilik itu seperti menyatukan tangan Andre dan Dea.


"Baik kami damai!"kami berkata serempak.


"Mari,kita duduk kak!"ajak Arina segera kembali duduk dikursi diikuti Andre dan Dea.


"Kak Andre ini, sebenarnya adik mama kak Dea"terang Arin.


"Manggilnya kenapa kak,tidak om atau pak lek?"tanya Dea.


"Nanti bisa cepat tua ya Rin!"kata Andre menimpali.


Mereka terus saja berceloteh sampai senja menjemput. Penerangan lampu-lampu kompleks sudah dinyalakan. sebelum adzan berkumandang mereka berdua segera mohon diri.


"Besuk main sini lagi bolehkan Kak Dea!"pinta Arin.


"Biarpun tanpa Kak Andre?"soalnya kak Andre jarang main kemari sibuk pacaran mulu.


"Hus..anak kecil jangan ngaco!"


"kami balik dulu Dea".


"Salam untuk Om Dika"kata Arin sebelum melangkah pulang.


Setelah kepergian mereka segera Dea menyalakan lampu teras,juga penerangan semua dalam rumah. Akan yang tadi temaran segera berubah menjadi pekat menyelimuti malam.


Untuk lima jam kedepan Dea berteman dengan kesunyian. Perasaan sunyi,sepi dalam kesendirian terasa sangat menjemukan. Dia belum terbiasa dengan semua itu.


Sementara dari rumah sebelah masih terdengar suara Arin berceloteh dengan manja. Sesekali masih kedengaran suara ayunan kriit.. kreet..kriit lama kelamaan suara itu terasa menakutkan bagi Dea. Dan waktu berjalan sangat-sangat lamban.


Dari pos satpam terdengar bunyi lonceng dipukul sembilan kali. Dan satpam yang bertugas menjaga kompleks mulai patroli berkeliling kompleks memantau keamanan.


Dea mematikan penerbangan ruang tamu. Terdengar suara motor lewat,Dea menyibak korden ruang tamu,dari tubuhnya yang jangkung dia tahu siapa pengendaranya.


Kegelapan serta kensunyian menyelimutinya.


Dea melangkah menuju kamar dan berbaring disana. Hingga tanpa terasa kantuk menyergapnya sebentar saja dirinya sudah terlalap dalam tidur yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2