MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
17. PANJI LAKSANA


__ADS_3

Kita kembali ke dusun misterius.


Pagi itu ni Asih yang mendapati Dea masih terlelap tidur segera melakukan aktivitasnya di dapur. Asap dari kayu bakar yang memenuhi ruangan membuat Dea mengeliat dan terbatuk-batuk kecil. Dea membuka matanya dan segera duduk disisi amben.


"Sudah pagi kah ?"


Mendengar suara batuk ni Asih tergopoh-gopoh mendatangi Dea.


"Rupanya nakmas sudah bangun !"


"Apa ini sudah pagi ni ?"tanya Dea. Dia merasa keheranan mendapati pintu masih tertutup dan dipalang. Dari celah-celah dinding bambu juga tak terlihat sinar matahari masuk.


"Iya, ini sudah pagi, tapi keadaan diluar masih berkabut nakmas !"


Dea dibuat heran oleh ucapan ni Asih.


"Tunggu sebentar saya buatkan wedang jahe !"


"Tidak usah repot ni, air hangat saja sudah cukup !"


Ni Asih kembali menuju dapur. Dea kembali dalam kesendirian. Sekilas Dea merasakan hawa hangat, dan itu nanya sebentar hawa dingin kembali dirasakannya. Lamat-lamat dari arah belakang Dea mendengar ni Asih berbicara dengan seseorang lalu semua kembali hening seperti semula.


Ni Asih datang lagi membawa gelas berisi air hangat dan menyerahkan kepada Dea.


"Ini air hangatnya nak mas !"


"Sepertinya tadi saya mendengar ni Asih berbicara dengan seseorang ?"


"Oh.... tadi tuanku yang datang !"


"Panji maksud nini ?"


"Iya, sekarang dia dimana, ni ?"


"Tuanku Panji sudah pergi lagi !"


"Pergi untuk apa menemui nini ?"


"Mengantar makanan untuk nakmas !"


Dea kembali terdiam, kemudian meminum air hangat bikinan ni Asih. Tubuhnya sedikit merasa hangat oleh aliran air hangat yang diteguknya.


"Saya tinggal ke belakang dulu nakmas !"


"Sebentar ni !"cegah Dea.


" Boleh saya ke kamar mandi !"kata Dea mencari alasan.


Ni Asih terkejut oleh permintaan Dea barusan.


"Saya ingin cuci muka ni !"kata Dea.

__ADS_1


Dengan berat hati Ni Asih mengajak Dea menuju ke belakang rumah. Melewati dapur dan membuka pintu-pintu terbuka hawa dingin menusuk kulitnya. Gumpalan-gumpalan kabut menyelimuti tempat itu membuat kabur pandangan mata Dea.


"Tempat macam apa ini sinar matahari tidak bisa sepenuhnya menerobos terhalang kabut !".


"Ini tempatnya nak mas, nini masuk dulu !".


Ni Asih mengantar Dea kesebuah tempat air mengalir dari ketinggian tanah yang dialirkan dari batang bambu dibawahnya membentuk kecil dimana air itu tertampung dan mengalir lagi kebawah. Sungguh pemandangan yang Indah seandainya alam sekitarnya diterangi sinar matahari. Dea mencelupkan kedua telapak tangannya kedalam air. Yang dirasakan air itu sedingin es. Dia mengurungkan niatnya untuk membasuh mukanya.


Sekelebat Dea menangkap bayangan. Benar nalurinya semenjak berada ditempat itu dia merasa tidak nyaman seperti ada yang mengawasi dalam kabut dia melihat sosok yang membelakanginya.


"Panji kaukah itu !"teriak Dea. Tidak ada jawaban dari sosok itu. Dea melangkah mendekati sosok itu, yang berjalan menjauh. Langkah Dea semakin lama semakin jauh meninggalkan pondok Ni Asih. Sementara Dea tidak bisa melihat alam sekitarnya, selain kabut dan kabut. Hingga disuatu tempat sosok itu hilang dan kakinya melayang tanpa pijakan, tubuhnya meluncur jatuh kebawah.


"Aaaaa........!" Dea berteriak sekencangnnya.


Dea pasrah bilamana maut menjemputnya. Tubuhnya terus meluncur kebawah, sebelum tubuh Dea membentur batu-batu cadas sekelebat bayangan menangkapnya dan membopong tubuhnya kembali ke atas. Di dasar jurang sosok yang diikutinya itu menggeram menahan amarah Kehilangan buruannya.


"Bangsat kau panji !"teriaknya.


Sementara itu sosok yang menolong Dea kembali membawa Dea ke pondok Ni Asih. Diletakkanya tubuh yang terkulai pingsan itu diamben. Sebelum Dea sadar sosok itu telah melesat pergi kembali.


Dea tersadar setelah mencium aroma wangi daun kayu putih yang diremas-remas ni Asih dan didekatkan ke hidung Dea.


"Ni..... sudah matikah aku ni ?"


"Nakmas bicara apa, tadi tuanku Panji yang sudah menolong nakmas dari pengaruh Ki Darta !".


"Ki Darta, siapa juga dia ni ?".


"Tadi saya benar-benar jatuh kedasar jurang ni, aku merasa ada seseorang yang menangkapku !" kata Dea segera duduk di amben.


"sekarang dia dimana ni, saya akan mengucapkan terima kasih !"


"Dia sudah pergi kembali, sebaiknya nakmas makan dulu ya !"kata ni Asih.


Wanita itu hendak melangkah, buru-buru Dea mencengkal lengannya.


"Sebentar ni, boleh saya tahu siapa itu Panji ?"


"Tuanku Panji itu ketua dusun ini. Beliau tampan dan masih muda juga mempunyai hati yang welas asih, yang pasti belum beristri !"


"Lalu mengapa Safitri menolaknya ?"


"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan nakmas, suatu saat kalau berjumpa tuanku nakmas bisa bertanya langsung soal itu !"


"Ni... kalau dia berhati welas asih, mengapa dia menahan jiwa Lestari, itu artinya dia berhari jahat !" kata Dea menahan geram.


"Saya disini pun tidak tertarik pada Panji !"untuk mengucapkan kalimat itu rasanya tercekat ditenggorokan dan akhirnya keluar kalimat itu.


"Saya kemari ingin membebasakan Lestari yang jiwanya dibawah oleh Panji !"


Mendengar perkataan Dea ni Asih seperti kebingungan. Sebelumnya dia tidak mendengar ada manusia yang masuk wilayah dusunya selain gadis yang kini berada dipondoknya.

__ADS_1


"Manusia seperti dia mempunyai hati welas asih, ni !"katanya menahan amarah.


"Coba saja nakmas bertanya langsung pada tuanku sendiri !".


"Ni bagaimana saya harus bertanya sementara dia sendiri tidak mau secara lansung menemuiku ?"


"Nakmas ingin ditemui oleh tuanku Panji ?" wanita tua itu tersenyum penuh arti.


"Sebenarnya nakmas juga mencintai tuanku Panji ?".


Kalimat yang dilontarkan ni Asih benar-benar membuat wajahnya memerah menahan perasaan malu.


"Tidak ni saya tidak mempunyai perasaan apa-apa !"


"Ya sudah sekarang makan dulu, nini ambilkan didapur, kasihan tuanku yang susah payah membawahnya kesini !" kata ni Asih. Kemudian wanita itu melangkah ke belakang.


Dengan hati-hati Dea melangkah mendekati pintu dan menarik palang kayu yang menahan pintu. Pintu terbuka sedikit pemandangan di luar pondok terhalang oleh kabut. Dan dikejauhan nampak kerlip cahaya yang berjalan menjauh.


"Itu tuanku nakmas yang memeriksa keamanan dusun dari setiap sudut !"kata ni Asih.


Rasa dingin benar-benar menusuk kulit.


"Sebaiknya ditutup pintunya nakmas !" kembali Dea menutup pintu dan meletakkan palang kayu ketempatnya semula.


Dea kembali menuju amben disana sudah tersedia nasi putih serta lauk ayam panggang dan segelas air putih.


"Ayo dimakan !"


Sejak tadi Dea yang menahan perutnya melilit segera menyantap hidangan yang disuguhkan ni Asih. Dengan lahap akhirnya beralih juga nasi berserta lauknya ke perut Dea. Wanita tua itu menatapnya dengan senyuman. Air putih yang disuguhkanpun telah habis beralih ke perut Dea.


"Ayamnya benar-benar enak dan gurih nih !"puji Dea.


Tanpa disadarinya untuk kesekian kalinya dia memuji Panji dihadapan ni Asih. Wanita tua itu untuk kesekian kalinya hanya membalas Dea dengan senyuman pula.


Rasa tenang dan damai serta nyaman dirasakan oleh Dea setelah beberapa hari tinggal dipondok itu. Sampai detik ini pun kabut masih saja menyelimuti dusun tersebut.


Hingga suatu saat sebuah ketukan pintu mengagetkan mereka berdua.


"Aki yang datang ni !"kata suara dibalik pintu.


Ni Asih membuka pintu dan Aki Karta masuk dengan membawa oncornya yang sudah padam dan meletakkan disudut ruangan.


"Nakmas bersiaplah tuanku Panji ingin bertemu, aki diminta mengantar nakmas ketempat kediamannya !"


Mendengar penuturan aki Karta Dea terkejut.


"Ki kenapa harus aku yang bersusah payah harus menemuinnya. Padahal kalau dia mau dia bisa menemuiku disini, karena aku merasa dia sering kemari !"


"Aki tidak bisa menolak perintah tuanku !"


Ni Asih yang masuk baliknya kembali lagi dengan membawa sesuatu ditangannya.

__ADS_1


"Ini dari tuanku, saat menghadap nanti pakailah ini !"katanya menyerahkan pada Dea. Dea menerimannya dan melihat kebaya serta kain batik yang diberikan ni Asih dalam genggamannya.


"Dia serius harus memakai pakaian tradisional itu, Dea bertanya dalam hatinya?"


__ADS_2