
Tiga bulan sudah Dea menjalani kehidupan dirumah peninggalan orang tuannya bersama kakaknya. Deapun sudah merasa nyaman tinggal dilingkungannya,juga sudah menganal setiap satpam yang jaga dikompleks dimana dia tinggal. Atas permintaan Dea lantai ataspun sudah dibersihkan dan pot-pot tanaman yang mati sudah diganti dengan tanaman yang baru.
Di sekolahpun Dea sudah nyaman belajar disana. Hubungannya dengan Andre juga semakin akrab. Hanya ada satu yang membuat Dea penasaran seseorang yang sering mengamati dirinya diam-diam.
"Ting...tong,ting..tong..tong." Bunyi bel terdengar dipencet tiga kali.
Dea yang mencuci diatas terpaksa mematikan mesin cucinya dan berlari turun ke lantai bawah. Dikeringkan tangannya yang basah dengan serbet yang tergeletak dimeja makan.
"Ting...tong,ting..tong..tong!"kembali bunyi bel dipencet seseorang.
"Iya sebentar!"teriak Dea.
Dea membuka pintu. Seorang gadis kecil berdiri diluar pagar masih memegang terali besi.
"Sebentar ya kakak ambil kunci!"Kata Dea berbalik kembali mengambil kunci pagar yang tergantung di dinding.
Bergegas Dea melangkah menuju pagar dan membuka gembok yang terkunci. Gadis itu memberi isyarat pada seseorang. Dea melongok kearah samping,tampak si mbok pembantu Arina masih berdiri diluar pagar memperhatikan momongannya dari jarak jauh.
"Sudah mbok,biar Arina main disini,nanti Dea antar pulang!"Kata Dea. Deapun mengajak masuk dan duduk-duduk diteras depan.
Sejurus Dea menangkap kegelisahan serta kelemasan pada raut wajah polos itu.
"Arina tidak bisa mengerjakan PR?"Kata Dea menebak.
Gadis cilik itu menggeleng dan menggenggam kuat-kuat tangan Dea. Dea melorot dari kursinya yang diduduki dan duduk bersimpuh dilantai dihadapan Arina.
"Jangan takut,cerita sama Kak Dea!"Kata Dea menentramkan perasaan Arina.
"Arina merasa takut saja kak!"jawab Arina polos.
"Dimarahi mama karena dapat nilai jelek!"Kata Dea dengan selembut mungkin.
Selanjutnya Kembali Dea bertanya
"Hari ini Arin mendapat nilai jelek,terus takut dimarahi mama ya?"
Arina kembali menggeleng. Akan tetapi sorot mata dan wajahnya tidak bisa membohongi Dea. "Kak Dea janji tidak akan cerita sama siapa-siapa!"bujuk Dea kembali.
Akhirnya Arina luluh juga membisikkan sesuatu kepada Dea.
"Arina melihat orang mencurigakan,didepan rumah!"
"Haa....!"Kini Dea yang terkejut.
"Orangnya memakai baju warna gelap dan memakai topi yang sengaja menutupi wajahnya!"
"Orangnya mondar-mandir dan sekali-sekali mengawasi rumah kak!"
"Kejadiannya tadi malam, ketika Arin kebelet pipis, tidak sengaja lewat ruang tamu, kok Arin lihat sekelebat orang lewat, Arin mendekat kejendela dibalik gorden lihat orang itu, kembali lagi dan mengamati rumah Arin!"Kata Arin.
"Sepertinya orang itu tahu kak, kalau Arin melihatnya dia menatap Arin seperti mengancam"kata Arin melanjutkan keterangannya.
"Arin tidak usah takut itu hanya perasaan Arin saja!"
"Mungkin orang itu kebetulan lewat dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya, itu saja tidak usah takut".
"Kalau Arin masih takut minta ditemani simbok ya."
Gadis cilik itu menggangguk. "Oh ya, tadi Kakak buat puding yuk kedalam!"ajak Dea menggandeng lengan Arin menuju ruangan tengah. Disana selain meja makan, terdapat sofa, juga sebuah televisi selain dipakai ruang makan sekaligus ruangan santai.
Arin duduk disebuah sofa sambil mengamati Dea yang tengah membuka pintu kulkas dan mengeluarkan puding dari frizeer.
"Tra...ra, jadi sudah, yuk kita makan bersama!"Kata Dea sembari meletakkan dimeja makan.
Dipotongnya puding itu, ditaruh dipiring kecil dan diberikannya kepada Arina, Deapun duduk disebelah Arin.
"Bagaimana, manis?"tanya Dea.
"Manis kak!"jawabnya.
__ADS_1
"Kak Andre, tidak main ke rumah?"tanya Dea "karena sudah beberapa hari ini tidak melihat keberadaannya di rumahnya Arina".
"Kak Andre ikutan les!"Kata Arina memberi jawaban.
"Jadi dirumah sepi, cuma ada mbok dan Arina, mama lembur pulangnya malam lagi."
"Arina temannya si mbok, sedangkak kak Dea
sendiri, sepian mana hayo!"
Arina tersenyum. Dea merasa lega, bisa membuat Arina kembali ceria.
Tiba-tiba Dea mempunyai ide."Main tebak-tebakan yuk!"Arina terdiam tidak mengerti maksud dari perkataan Dea.
"Begini, kak Dea yang kasih tebakan, Arin yang nebak."
Kali ini Arin mengangguk.
Kini Dea yang terdiam, memutar otaknya berputar keras. Arin terpaku menatap Dea yang tengah berpikir.
"Begini!"akhirnya Dea membuka mulut.
"Tanaman apa yang semakin berisi semakin menunduk?"
Arin tidak tahu kak!"jawab Arin, polos.
"Yang Arin makan kak Dea juga, makan setiap hari!"kata Dea menuntun Arin mencari jawaban.
"Makanan Arin setiap hari apa?"tanya Dea.
Spontan Arin menjawab "Nasi!"
"Arin, tanaman yang semakin berisi semakin menunduk itu padi, jawabannya padi!"Kata Dea memberi penjelasan.
"Tapi setiap hari Arin memakan nasi bukan padi!"Arin mengelak.
"Iya sayang, sebelum menjadi nasi, kita olah beras dulu baru jadi nasi, beras sendiri, berasal dari tanaman padi!"Dea memberi penjelasan.
Arin mengangguk-angguk, benar-benar mengerti atau tidak dengan penuturan Dea.
"Satu kali lagi ya, buah apa yang mempunyai rambut ya?"
"Arin tahu, rambutan kak!"
Iya betul!"kata Dea
"Horee .....!"teriak Arin kegirangan.
Suasana kembali hening. Selama ini Dea jarang berinteraksi dengan anak-anak, disamping Dea tidak menyukai kehadiran anak-anak yang sering membuat kegaduhan, juga sering kali menguntit kemana-mana dia pergi. Mendadak sekarang dia mempunyai teman kecil yang membuat kesendiriannya menjadi ceria.
"Malah melamun!"ucapan Arin menyadarkan Dea dari lamunannya.
"Kak antar Arin pulang ya!"kata Arin akhirnya.
Dea menatap jam yang menempel di dinding waktu menunjukkan angka 5 lebih 10menit, ternyata sudah sore dan dia belum menyelesaikan cuciannya di atas.
"Benar Arin mau pulang?"tanya Dea.
"Iya, kak!"jawab Arina singkat, seraya berdiri.
Yang diikuti Dea pula juga ikut berdiri.
"Kakak antar pulang sampai ketemu si mbok, nanti kalau terjadi sesuatu dan si mbok nyariin, Kak Dea yang kena masalah."
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan. Lebih tepatnya Arina yang menggandeng tangan Dea. Dea membuka pintu pagar dan menutupnya kembali.
Dimuka rumah Dea kelihatan Si mbok sudah menunggu diteras. Melihat kedatangan momongannya tergopoh-gopoh menyambutnya, dibukanya pintu pagar dan mempersilahkan Dea masuk.
"Ayo, nak Dea masuk dulu, terima kasih sudah mengantar non Arina pulang."
__ADS_1
"Sama-sama mbok!"jawab Arina.
"Kak...!"Arina menarik lengan Dea.
"Main ayunan sebentar!"ajak Arin.
Arin duduk di bangku ayunan dan segera mengayun dengan kedua tangannya.
"Kraat...kreet...kraat...kreet!"bunyinya.
"Ayo kak, Kak Dea main yang satunya!"pinta Arin.
Untuk menyenangkan hati Arina Deapun duduk diayunan satunya dan mulai mengayun. Mereka berdua asyik main ayunan sementara Si mbok sibuk menyiram tanaman.
Melihat Si mbok yang tengah menyiram Deapun teringat tugasnya dirumah, dia belum menyirami bunga-bunganya bisa-bisa kena marah Kak Dika kalau ada yang layu.
"Arin kak Dea balik dulu ya, tugas kakak banyak belum kelar."
"Balik dulu ya besuk-besuk main sini lagi."
Arina menghentikan ayunannya demikian pula dengan Dea.
"Kakak balik dulu ya!"Arina mengangguk.
"Kapan-kapan kita main ayunan lagi ya kak?"pinta Arin kembali mengayun ayunannya dan bunyi Kraat..kreet..kraat...kreet terdengar lagi.
Dea menghampiri Si mbok dan mohon pamit. Dea melangkah keluar pagar rumah besar itu dan menutup pagarnya kembali. Bersamaan dengan itu sebuah motor mendadak berhenti Dea berpapasan dengan pengendara itu. Dari balik kaca helm sekilas dia mengamati wajahnya.
Mendapat tatapan yang mencurigainnya cepat-cepat pengemudi motor itu melepas helmnya.
Seorang bapak-bapak tua menghentikan langkahnya dan bertanya.
"Disekitar sini ada jualan bensin mbak?".
Ternyata pengendara itu kehabisan bensin.
"Jalan lurus pak, nanti belok kiri ada kios bensin disana"kata Dea memberi keterangan.
Ah...baru saja Dea mempunyai prasangka buruk pada seseorang, gara-gara cerita Arina.
"Begonya diriku, barusan termakan cerita Arina!"maki Dea pada diri sendiri.
Cekatan tangan Dea meraih selang dan memasukkannya di kran dan diputarnya. Diujung kran muncrat air keluar, dengan sigap tangan Dea meraih selang dan mulai dengan tugasnya, menyiram. Setelah semua tanaman kebagian air diputarnya kran kembali, berhenti sudah air diujung selang.
Sayup-sayup dari masjid terdengar kumandang adzan magrib. Segera Dea menuju kamar mandi dan menggunyur dengan air. Rasa segar mengalir disekitar tubuhnnya.
Dea tidak ingin lama-lama dikamar mandi. Dengan handuk Dea mengeringkan sekujur tubuhnya hingga benar-benar kering, lalu melilitkan handuk dibadannya dan keluar kamar mandi, dan ganti baju dikamarnya.
Srat...sret beberapa detik selesai sudah. Dia sudah rapi dan kelihatan segar.
Buru-buru Dea melangkah ke lantai atas. Disana Dea meneruskan pekerjaannya yang masih belum kelar. Selesai dengan perkerjaannya Dea tidak langsung kembali turun. Dea iseng mengamati rumah tetanggannya. Dimatikan lampu penerangan, suasana agak temaram, masih bisa membantu Dea mengamati sekitar dengan leluasa tanpa takut ketahuan.
Matanya menyapu halaman rumah Dea, suasana tamaram, Dea tersentak jelas dia melihat sesosok laki-laki tegap berotot mengenakan jaket warna hitam serta topi yang melindungi kepalanya sengaja dia tekan sehingga menutupi bagian wajahnya.
Agak lama juga lelaki itu mengamati keadaan rumah Arina sekilas laki-laki itu melemparkan pandangannya kearah bangunan atas, tepatnya ketempat Dea berdiri, cepat-cepat Dea tiarap, menyembunyikan tubuhnnya.
"Sialan!"umpat Dea.
"Apa maunya orang itu?"
Sejurus kemudian, kembali Dea berjongkok dan pelan-pelan mengintip kearah laki-laki tadi berdiri.
"Sialan!"umpat Dea sekali lagi. Laki-laki itu tengah mengamati bangunan atas rumah Dea. Dea merangkak mencari perlindungan, merasa dirinya sudah berada pada tempat aman Dea berdiri dan kembali ke lantai bawah.
"Ada-ada saja orang itu, berarti Arina benar dia tidak bohong. Lalu apa kemauan orang itu, merampok!" Dea ngedumbel sendiri.
Dari pos satpam terdengar lonceng dipukul sembilan kali. Sudah jam sembilan. Dea berjalan keluar meraih kunci dan mengunci pagar. Sebelum benar-benar mengunci pagar Dea melongokkan kepalanya ke samping sepi, tidak ada siapa-siapa orang mencurigakan itu sudah kabur. Sekarang benar-benar Dea mengunci pagar dan Kembali masuk rumah. Dea pun mengunci pintu depan dan mengambil anak kunci dan meletakkan ditempatnya semula.
Dea masuk kedalam kamar dan mendekam disana. Dia tidak merasa kuatir terganggu tidurnya atas kepulangan kakaknya karena Dika sudah membawa kunci sendiri.
__ADS_1
Entah sudah jam ke berapa Dea tertidur kini yang terdengar hanya dengkuran kecilnya.