MISTERI ARINA

MISTERI ARINA
13. JALAN KEMBALI


__ADS_3

Semua yang berada dalam ruangan itu terdiam, terbawa oleh suasana pikiran mereka masing-masing, semua mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk keselamatan Dea juga Lestari yang jiwanya masih terbelenggu didunia gaib.


SiMbah muncul dari ruangan dapur dengan sepiring Ubi rebus di tangganya, meletakkan dimeja dan ikut mengobrol dengan tamunya.


"Ayo... dimakan, hanya ini yang nenek punya !"kata SiMbah.


"Kami jadi merepotkan SiMbah !"kata Risma.


"Apa SiMbah bisa bercerita sedikit tentang mimpi Dea selama ini ?"tanya Andre penasaran.


Mereka bertiga menatap SiMbah, menghadapkan sesuatu dari wanita tua itu.


Beberapa saat SiMbah terdiam. Konon menurut cerita turun-temurun ada dua desa yang hidup berdampingan. Desa ini dan satu desa yang menghilang.


"Menghilang mbah ?"tanya Risma memotong cerita SiMbah.


"SiMbah belum selesai cerita !"kata SiMbah.


Sebelum menghilang kedua itu hidup rukun. Konon desa menghilang itu mempunyai ketua yang gagah perkasa mempunyai wajah yang tampan dan masih muda.


"Panji mbah ?"tanya Andre memotong cerita SiMbah dan matanya menatap Dea.


"Iya ....!"jawab SiMbah


"Terus kelanjutannya bagaimana mbah ?"tanya Dea ingin tahu.


SiMbah menatap wajah Dea sebelum melanjutkan cerita. Panji ini naksir dari desa sini yang bernama Sekar Arum, tapi sayang Sekar Arum menolak karena tidak menyukai perilaku Panji yang kasar dan kejam. Lagi pula Sekar Arum sendiri sudah mempunyai kekasih. Dengan kekuatannya dia membakar habis desa itu dan mengutuk akan mengambil keturunan pusar. Jadi Panji masih tetap hidup didunia gaib sampai keturunan Sekar Arum yang mempunyai tanda itu terlahir.


"Kamu tidak mempunyai tanda itu kan De ?"tanya Risma.

__ADS_1


"Ini hanya kesalahan nama kamu saja yang mirip !"kata Andre pula.


Dea hanya terdiam menanggapi komentar kedua temannya.


Tak terasa waktu demikian cepat bergulir. Dan keadaan siang berubah menjadi malam. Suasana didesa jauh berbeda dengan suasana di kota. Begitu malam menjelang suasana berubah sepi, jauh dari keramaian. Penerangan hanya ada dirumah-rumah penduduk, keadaan jalan gelap tidak ada lampu penerangan satupun.


Risma dan Dea sudah sedari tadi masuk kedalam biliknya.


Tinggal Andre sendiri yang masih terjaga duduk diamben ruang tengah.


Tiba-tiba Andre merasakan hawa dingin yang menusuk kulit. Dirasakan angin tidak cukup kencang berhembus, hanya semilir tapi mampu membuat Andre menggigil kedinginan. Merasa tidak kuat menahan dingin Andre meninggalkan amben dan masuk ke biliknya dan membaringkan tubuhnya di ranjang dengan berselimut kain sarung.


Berbeda dibilik Dea dan Risma keduanya sudah tertidur lelap. Risma sangat lelap tidurnya begitu halnya dengan Dea. Beberapa detik berlalu Dea merasakan embusan angin lembut menyentuh kulitnya. Dea terjaga matanya menatap jendela tertutup rapat.


"Safitri.... datanglah !"bisikan lembut ditelinga Dea.


Ditatapnya Risma yang mengeliat disampingnya dan kembali lelap dalam tidurnya, sedetik kemudian terdengar dengkuran kecil dari nafasnya.


Tiba-tiba Dea merasakan tubuhnya menghangat, tidak ada siapa-siapa dibilik itu kecuali Risma yang terlelap. Kembali embusan lembut menyentuh daun telingannya, merambat menyentuh kulit pipinya begitu terasa hangat, Dea menikmati sensasi itu untuk kedua kalinya, embusan itu terus merambat menyusuri leher jengjangnya, merambat turun.


Dea tersentak dan bangun dari berbaringnya menghentikan sesuatu yang memancing dirinya.


"Safitri melangkahlah !"kata suara lembut di telinganya menuntun Dea untuk melangkah.


Dea melangkah mengikuti suara di telinganya, seperti ditarik oleh kekuatan yang kasat mata.


Kriieet.... terdengar pintu terbuka, Andre segera bangun dan melompat dari amben, diluar Andre mendapati pintu terbuka lebar, hawa dingin menembus kulitnya ditariknya kain sarung yang tersampir di pundaknya untuk menutupi sosok Dea meninggalkan rumah berjalan di tengah kegelapan.


"Dea... tunggu De...!"teriak Andre mengejar langkah Dea.

__ADS_1


Dea terus saja melangkah tidak mendengarkan teriakan Andre. Andre yang tidak terbiasa berjalan dalam kegelapan merasa kesulitan mengejar langkah Dea. Beruntung sinar rembulan memberi penerangan lewat cahayanya membuat jalan masih terlihat oleh Andre.


Andre terus mengikuti langkah Dea yang semakin lama meninggalkan rumah-rumah penduduk. Andre mulai merasa lelah apalagi jalan yang dilaluinya mulai menanjak. Suara gemerincik air sangat jelas terdengar. Langkah Dea semakin jauh meninggalkan dirinya, Andre kesulitan mengejar langkahnya.


"Dea kamu mau kemana, tunggu De !"teriak Andre sekali lagi.


Andre setengah berlari mengejar langkah Dea yang semakin jauh meninggalkannya.


Andre berhenti dia sudah kehilangan jejak Dea. Yang ada dihadapannya hanyalah hutan berlantaran yang sangat lebat.


Pohon-pohon besar menjulang kokoh bagaikan raksasa, tak mungkin Dea menerobos lebatnya hutan didepannya. Andre berputar matanya mencari sesuatu cuma ada satu jalan yang membawanya ketempat kini dia berada.


"De.. kamu dimana De !"teriak Andre berkali-kali.


Sepi tidak ada suara apapun. Hening Andre dicekam ketakutan. Tiba-tiba angin cukup keras menhempasnya dia jatuh menelungkup dan pingsan.


Sementara itu Dea terus melangkah seiring bisikan di telinganya. Dia tidak merasa kesulitan melewati jalan setapak yang pernah dilaluinya. Dea merasa ada yang menuntunnya. Dikejauhan terlihat kedip cahaya, Dea terus berjalan mendekati sumber cahaya.


Laki-laki yang sama telah menunggunya, laki-laki berbadan kekar dengan pakaian serba hitam memakai ikat kepala.


"Aku telah kembali !"kata Dea


"Kamu sudah siap untuk bertemu tuanku ?"tanya laki-laki itu.


"Ya aku siap !"jawab Dea mantap.


"Kamu masih mempunyai kesempatan keduniamu sebelum kamu melewati tapal batas ini !"kata laki-laki itu.


"Aku tidak mempunyai pilihan kan?"tanya Dea.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap Dea. Memang tidak ada pilihan untuknya karena itu sudah takdirnya.


Dia gadis yang terpilih untuk bersanding dengan tuannya dengan tanda lahir yang dimilikinya.


__ADS_2