Moon Among The Stars

Moon Among The Stars
Sedikit kebahagiaan


__ADS_3

tiga minggu sudah Ali di rawat di sebuah rumah sakit di negri tetangga.


Tak ada kabar yang menunjukan kemajuan kondisi suami tercinta nya,


batin bulan begitu tersiksa,setiap detik ia lewati dengan penuh kerinduan, rindu pada sosok yang selama ini ada tuk menjaga dan melimpahkan cinta kasih padanya, sosok yang selalu membuat nya kuat mengahadapi ujian yang sedang ia alami.


tapi Bulan tak bisa berbuat banyak selain memperbanyak doa kepada sang penciptanya, mengingat kondisi nya sendiri saat ini bulan hanya bisa berserah diri.


Bulan selalu menangis, memohon agar Ali segera sembuh dan ada keajaiban yang menghampiri kisah hidup nya.


Dia hanya ingin suami nya lekas pulih dan bisa bersama nya kembali.


"Bu.... ibu... !! bu Aku melihat ada cahaya samar,samar bu. " suara bulan terdengar gemetar tak percaya, bulan segera meraba mencari sumber cahaya yang mulai terlihat samar di depan nya.


"benarkah nak...?kamu udah mulai bisa melihat ?pekik bu nilam bahagia.


"alhamdulillah ya nak... !! "segera bu nilam berhambur memeluk tubuh bulan yang masih diam bingung dengan keadaan di sekeliling nya.


"iya bu nampak nya bulan mulai bisa melihat, walau belum terlihat jelas. " jawab bulan,


tetesan demi tetesan air mata mulai membasahi pipinya.ada rasa bahagia dan haru didalam batin nya.


tiba tiba bulan teringat kembali tentang suami nya. bagaimana keadaan nya saat ini....?tentu ia akan sangat bahagia jika tau bulan terkasih nya mulai bisa melihat cahaya walau masih samar samar.


tapi sekarang keadaan sangat berbeda, Ali masih belum sadarkan diri. walau sudah dua kali menjalani oprasi di Singapura.


Bulan segera meminta ibu nya untuk menelfon bu soraya, iya ingin segera memeberitahukan bahwa ia mulai bisa melihat dan ingin pergi menemui suaminya.


°°°°°°

__ADS_1


"Jangan dulu nak, Kamu harus tetap menjalankan perawatan mu disana. biar mama jaga ali disini, jika kamu sudah benar benar sembuh kamu bisa segera berangkat kemari, ok!!!" suara seseorang di sebrang telfon itu terdengar sangat lemah, ia meminta agar bulan tetap melanjutkan pengobatan nya di surabaya, hingga benar benar pulih seperti sediakala.


"baiklah ma, jika itu yang mama mau" jwab bulan lembut. mencoba patuh pada pinta mama mertuanya itu.


°°°°🌛🌜°°°°°


" Sebuah kemajuan yang sangat pesat bulan. kamu memang gadis yang kuat dan penuh semangat, aku yakin kamu akan segera sembuh seperti sedia kala. " ujar dokter utama sambil terus memeriksa kondisi mata Bulan.


"aamiin, trimkasih dokter. ini semua berkat kerja keras dokter dan ridho Allah. "jawab bulan lembut, suara bulan terdengar parau di indra pendengar dokter utama.


"apa kamu baik baik saja bulan?" tanya dokter utama mencemaskan kondisi wanita yang selama ini ada dalam hati nya itu.


"Keadaan fisik saya baik dokter, tapi tidak dengan perasaan saya. saya begitu mencemaskan suami saya. " butiran bening itu membasahi sudut mata bulan,ia mulai menundukan kepala nya.


tiba tiba suasana ruangan dokter utama menjadi sangat hening, bahkan bu nilam hanya terdiam mendengar keluh putrinya itu.


"Semua yang terjadi pasti ada hikmah nya, saya berharap kamu tetap tabah dan kuat menghadapi semua ini" ujar dokter utama, sambil mengelap dengan tissu air mata yang terus meluncur deras di pipi lembut bulan malik.


Hati dokter utama terasa tak karuan, saat menyapu air mata wanita cantik itu.


ada rasa yang tak bisa ia gambarkan. senyum bulan, suara nya, mata nya, bibirnya, pipinya, lesung pipinya. membuat Dokter muda itu semakin jatuh cinta.


Dan entah apa yang ada dalam pikiran bulan, dia hanya terdiam mendapati Dokter utama menyapu air mata di pipi nya. hati nya begitu remuk redam, pikiran nya kacau entah kemana.


"Do you want coffe or tea ?" tanya dokter utama sambil duduk di dekat bulan.


"I want coffe, dokter " jawab bulan singkat, seketika tersadar dari lamunan nya.Dan mulai berdiri dari tempat duduk nya. mencoba menghindari sentuhan dari dokter itu.


ia berharap dengan meminum secangkir kopi bisa membuat hati dan pikiran nya sedikit tenang.setidaknya untuk sesaat.

__ADS_1


Bu nilam hanya bisa diam, tak ada persaan janggal apapun terhadap sikap Dokter utama pada putrinya.


ia merasa perhatian yang dokter utama berikan pada bulan hanyalah wujud dari rasa iba seorang dokter pada pasien nya.


"Duduklah bulan" ujar dokter utama, ia tak hanya menyuruh bulan untuk duduk tapi juga membantu nya menarikan sebuah kursi untuk tempat bulan menjatuhkan lelahnya.


"trimkasih dokter. !!!" ucap bu nilam.


"sama sama ibu"jawab dokter utama singkat.


mereka segera memesan makanan dan minuman, bulan dengan coffe latte nya, ibu nilam dengan green tea nya. dan tentu saja dokter utama mengekor pesanan bulan. satu cangkir coffe latte tanpa gula. Dan tiga buah croissant waffel teman setia saat bulan menikmati kopi.


"ibu boleh titip bulan sebentar gak nak dokter? ibu mau ke toilet sebentar saja!!!" pamit bu nilam pada dokter utama.


"tentu saja bu, silahkan "


Perlahan tapi pasti bulan meniup coffe latte nya yang terasa masih panas di lidah. pandangan nya kosong,ia mulai beranikan diri memandang wajah dokter utama yang masih sedikit buram.


"Dokter, kenapa anda hanya diam?"tanya bulan heran melihat dokter yang biasa nya banyak bicara itu hanya membisu.


"hehe... maaf aku hanya sibuk memandang wajah mu yang begitu ayu. "


"maaf dokter, bukan berarti karna saya mau anda anjak minum kopi lalu anda bisa memuji istri orang seperti saat ini, itu sangat tidak etis dokter. " tegur bulan dengan suara lembut namun tegas dan sangat berwibawa. ia mulai terbiasa dengan gaya bicara Ali saat sedang berbincang dengan karyawan nya.


"maaf bulan, tak ada maksut apapun. aku hanya memuji penciptanya, betapa ia sangat sempurna menciptakan seorang wanita secantik dirimu. beruntunglah tuan Ali yang bisa memiliki mu" jawab dokter utama dengan suara memelas, menyesal telah salah bicara pada nyonya Ali itu.


"Masyallah, cukup ucapkan itu dokter. " jawab Bu nilam menengahi perbincangan bulan dan dokter utama.


"hehe iya bu" Dokter utama merasa malu mendengar perkataan bu nilam. ia merasa dirinya sudah tertangkap basah memuji Bulan putri nya.

__ADS_1


__ADS_2