
Setiba nya di rumah sakit bukan segera mendapatkan pertolongan pertama.
Amira juga mendapatkan pertolongan dari pihak medis. tangan nya terus mengeluarkan darah, namun amira tidak memperdulikan nya, dia begitu cemas dengan keadaan saudara nya itu. "ya Allah" keluh nya sendu
"nona apa anda saudara dari pasien yang tidak sadarkan diri itu?" tanya seseorang yang nampaknya perawat.
"iya, saya saudaranya.. "jawab amira dengan bibir bergetar... "bagaimana keadaan saudara saya?"tanya nya lagi dengan tatapan mata kosong... matanya kini dipenuhi air mata. tak sanggup rasa nya membayangkan buruk terjadi pada saudara nya itu. apa yang harus ia katakan pada bu nilam dan abah nya sendiri. paman dari bulan.
"Kondisinya sangat memprihatinkan nona. banyak darah yang keluar dari kepala nya akibat benturan hebat, kami harap anda segera menguhungi ibu atau ayah nya untuk menandatangani persetujuan oprasi darurat demi menghentikan pendarahan yang terjadi di kepala saudara anda"ucap dokter itu dengan lembut namun penuh wibawa.
"Ya allah, bulaaaannn.... "teriak amira. sembari mencoba turun dari tempat tidur nya di IGD untuk melihat saudaranya itu.
"Nona tenanglah... !!!" ucap dokter itu sambil memegang erat pundak amira, menahan agar amira tidak turun dari tempat tidur nya. "anda juga cidera nona, sebaiknya anda tetap tenang disini. anda bisa berikan saya nomer ibu atau ayah nya agar bisa saya hubungi segera.
tanpa menunggu lama amira segera memberikan nomer abah nya, tuan ibrahim untuk segera dihubungi oleh dokter itu.
5 jam berlalu... Bulan masih berada di ruang oprasi.
tuan ibrahim abah dari amira telah menandatangani surat persetujuan oprasi. dengan segala pertimbangan yang matang. sedang amira sedang berada di IGD bersama dengan dua orang polisi yang sedang meng introgasi penyebab dari kejadian naas itu.
"nampak nya anda tidak bersalah nona. Sebaiknya persiapkan pengacara, karna orang yang telah menabrak anda bukan orang sembarabgan. jika dia tidak mau bertanggung jawab anda harus melakukan pekerjaan extra". bisik salah satu oknum petugas itu pada telingan Amira. hati amira begitu tak karu karuan apalagi ini, kami yang ditabrak kenapa kami harus berkerja extra juga.
"dimana Kedua gadis itu"Tanya seseorang dibalik horden tempat Amira berada pada petugas. nampak nya suara seorang wanita yang begitu lembut. tak. lama kemudian terdengar suara seseorang membuka Horden Amira, "Nak... apa kamu baik baik saja?" tanya wanita paruh baya yang nampak begitu cantik diusianya yang terbilang tak lagi muda itu.
"iya... Saya baik baik saja bu. "jawab Amira lirih sambil menahan sakit di tangan nya.
__ADS_1
"apa saudara mu juga baik baik saja nak?" tanya nya kembali. sebenarnya siapa ibu ini, kenapa dia banyak sekali bertanya.
"tidak bu, saudara saya tidak sedang baik baik saja. dia sedang menjalani oprasi darurat demi menyelamatkan nyawanya" jawab amira dan tanpa terasa butiran butiran bening kembali menghiasi wajahnya. lalu ibu itu maju menyeka lembut pipi Amira... dan mengecup keningnya penuh kasih, dan berucap. "tenang nak, semua akan baik baik saja. begitupun saudaramu, dia akan selamat. kami akan menanggung semua biaya nya. dengan semua penanganan terbaik... " ucap wanita itu sambil mengenggam tangan amira.
"ibu siapa? "tanya amira heran dengan ucapan wanita itu.
"aku ibu dari pemuda yang yang menabrak mu, maafkan anak ku nak. dia juga sedang tidak baik baik saja. saat ini dia juga sedang menjalani oprasi darurat nak" jawab wanita itu sambil terisak menangis.
amira terlihat iba pada ibu itu, di usianya yang tak lagi. muda ia harus melihat anak nya dalam bahaya yang di akibatkan dirinya sendiri.
"Smoga Dia selamat dan sembuh " ucap amira pada ibu itu.
"trimkasih nak, kamu gadis yang baik"
"bagaimana dengan putra saya dokter?" tanya ibu itu sambil menahan butira kristal nya untuk mengalir terus menerus.
"oh ya... maaf saya juga lupa mengabarkan bu. bahwa Tuan Ali sudah selesai dari oprasi nya, beliau sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap bu" jawab dokter itu sambil membungkukan badan nya.
siapa wanita ini sebenarnya, nampak nya dia bukan orang sembarang, gumam amira dalam hati.
"Baiklah dokter, saya senang dengan hasil kerja anda. lanjutkan. mari nak kita sama sama naik ke ruang rawat inap... !!" ujak wanita itu lembut sambil membantu amira turun dari ranjang nya.
°°°🌛🌜°°°°
Bulan kini sudah berada di ruang rawat inap, tapi dia masih belum sadarkan diri. ada tuan ibrahim yang duduk disamping nya sambil membacakan ayat ayat suci Al Qur'an. dan Amira yang duduk di sofa sambil berdzkir memohon keselamatan untuk saudara nya.
__ADS_1
"Abah... !!!" panggil amira
"ya nak" jawab tuan ibrahim seketika menghentikan bacaan nya.
"Abah tidak memeberikan kabar pada Ibu nilam?" tanya amira.
"tidak nak. abah hanya memeberi kabar pada Abas.dan dia bilang tidak usah memberi tahu ibunya... dia takut ihu nya akan syok dan jatuh sakit. lebih baik memeberitahunya saat bulan sudah membaik " jawab tuan Ibrahim dan melanjutkan bacaan nya.
amira hanya mengangguk tanda faham atas apa yang di ucapkan abah nya.
"Awhhh... " ucap Bulan lirih ketika mulai terbangun dari pingsan yang lumayan panjang nya.
"kenapa nak" tanya tuan ibrahim pada ponakan nya itu begitu cemas.
"Sakiiiit.... !!!"keluh bulan sambil memegang kepalanya yang masih terdapat perban.
"apanya yang sakit bul.... maafin aku ya bul.... hiksss hikssss hiksss... " ucap amira seketika memeluk tubuh saudaranya itu.
"Ra.... raa..... aku dimana ini?? kenapa begitu gelap... apa barusan aku mendengar suara paman ibrahim., raa... amira... coba jawab ra.... dimana ini?" tanya bulan sambil mencoba bangun dari tidur nya...
"Ya Allah, apa yang terjadi.... ???" ucap Pak ibrahim
"Bul kamu kenapa. kita dirumah sakit bul, kita mengalami kecelakaan tadi.... disini gak gelap bulan" jwab amira sambil memeluk tubuh saudaranya .
"dokter, dokter.... !!!"tuan ibrahim berlari keluar dari kamar mencoba mencari bantuan dan mencari tau apa yang sedang terjadi pada ponakan nya. mengapa dia bilang gelap... apakah keponakan nya itu mengalami kebutaan... !!!
__ADS_1