Mr. Cool & Angel by Yessy Lie

Mr. Cool & Angel by Yessy Lie
14


__ADS_3

Keesokan harinya klien Marco pun tiba. Ada 3 orang kliennya yang datang dan mereka semua laki-laki.


Annabelle bersembunyi tidak ingin mempermalukan Marco dengan kehadirannya. Jadi dia hanya bisa melihat mereka dari jendela. Dirinya bisa melihat Marco yang memakai jas saat menyambut mereka dan betapa Annabelle terpesona saat melihatnya.


Setelah itu mereka semua masuk kedalam rumah dan pasti Marco mengajak semua tamunya kedalam ruang kerjanya. Karena biasanya disanalah Marco bekerja. Dan sepertinya mereka mengadakan rapatnya disana.


Sebaiknya aku menemui tante Katelyn untuk melihat apakah ada yang bisa aku bantu.


“Tante, apakah ada yang bisa aku bantu?” tanya Annabelle saat tiba didapur.


“Oh … Annabelle tante mencarimu dari tadi. Sana ganti pakaianmu dengan ini.” Dan dengan itu tante memberikan kantong belanjaan kepada Annabelle.


“Baik tante.”


Saat sampai dikamar Annabelle membuka kantong belanja dari Tante Katelyn dan disana ada gaun musim semi yang indah tanpa lengan yang bagus sekali. Untuk apa tante Katelyn memintaku memakai baju ini. Tapi ya sudahlah aku ikuti saja. Saat sudah selesai Annabelle kembali menemui Tante Katelyn.


“Selanjutnya apa tante?”


“Ini Annabelle, tolong antarkan kue-kue dan minuman-minuman ini ke ruang kerja Marco untuk diberikan kepada para tamunya.”


“Tapi tante, kenapa harus saya? Bagaimana kalau saya gugup dan mengacaukan semuanya?”


“Tenang saja Annabelle, apa kau tidak melihat betapa tampan-tampannya mereka. Jadi siapa tahu mereka akan jatuh cinta padamu dan kau bisa menikah dengan salah satunya dan menjadi kaya.” Tante Katelyn tersenyum saat mengatakannya.


“Tapi saya belum ingin menikah tante untuk saat ini.”


“Sudah Annabelle bawa saja, jodoh itu tidak tahu akan ketemu dimana, nanti kalau kamu tolak dan ternyata diantara mereka ada yang menjadi jodoh kamu bisa-bisa kamu perawan tua loh.” Canda Tante Katelyn.


“Oh … Baiklah tante.” Annabelle lebih baik menurut saja meski dia tidak mengerti apa yang Tante Katelyn inginkan.


Annabelle ini adalah strategi tante yang pertama. Semoga sukses.  Ucap Katelyn didalam hati.


Annabelle mengetuk pintu kerja Marco.


“Masuk…” jawab Marco.


Annabelle masuk dengan membawakan kue dan minuman yang diminta Tante Katelyn untuk ia antarkan.


Setelah selesai menghidangkan semua kue dan minuman yang berjalan dengan lancar tanpa kekacauan apapun juga meski dibawah tatapan


Marco yang tajam kepadanya. Annabelle merasa lega sehingga dia memberikan senyum yang sangat cerah kepada tamu-tamu Marco.


“Mr. Xavier apakah Anda akan mengenalkan wanita cantik ini kepada kami? Ujar Mr. Renald.


“Tuan-tuan kenalkan ini asisten Mama saya. Annabelle Rose.”


“Annabelle kenalkan ini Mr. Renald, Mr. Bardon dan Mr. Baker.”


“Senang berkenalan dengan kalian Tuan-tuan." Annabelle menerima uluran tangan dari mereka kepadanya. Tapi Mr. Renald mengenggam tangannya terlalu lama dan bahkan mencium tangannya.


“Senang juga berkenalan dengan wanita secantik anda, miss.” Ujar Mr. Renald masih sambil menggenggam tangannya.


“Saya harap kita dapat berjumpa lagi nantinya?” Tanya Mr. Renald dengan berharap.

__ADS_1


Annabelle tidak tahu mau menjawab apa. Dan saat dirinya menatap Marco, pandangan Marco sangat marah saat menatap tangannya yang digenggam Mr. Renald. Sontak Annabelle segera menarik tangannya dengan perlahan tanpa ingin membuat tersinggung Mr. Renald. Karena bagaimanapun dia adalah klien Marco.


“Oke tuan-tuan. Maaf bisa kita kembali ke diskusi kita yang terganggu. Dan Annabelle kau bisa kembali mengerjakan pekerjaanmu.”


Dan dengan itu Annabelle terbebas dari keharusan menjawab pertanyaan Mr. Renald sekaligus dirinya tahu bahwa Marco mengusirnya dari ruangan itu. Dasar menyebalkan apa tidak bisa meminta baik-baik tanpa harus mengusir.


Annabelle langsung bergegas ke kamarnya dan bersembunyi disana. Dia saat ini tidak ingin lagi bertemu tamu-tamu Marco maupun bertemu Marco. Sampai akhirnya Bibi Emily memanggilnya turun untuk makan malam karena diminta oleh Tante Katelyn.


“Ini dia yang ditunggu-tunggu.”


Saat sampai diruang makan Annabelle sudah disambut Tante Katelyn dengan gembira. Dan tentu saja ada Marco disana.


“Bagaimana Annabelle, apakah para bujangan itu ada yang tertarik padamu? Mungkin saja satu dari mereka adalah jodohmu. Benarkan Marco? Kamu tentu akan membantu merekakan kalau mereka ingin menghubungi Annabelle lagi?”


“Iya mama,” jawab Marco dengan kaku.


“Apakah kau tertarik dengan salah satu dari mereka Annabelle?”


“Aku…” dengan itu Annabelle menatap Marco dan tentu saja Marco menatap dirinya dengan tatapan yang sangat dingin.


“Bisakah kita mulai makannya mama? Aku sudah sangat lapar karena seharian membicarakan bisnis.”


“Oh… Baiklah Marco. Besok kamu ke kamar Tante ya Annabelle kita bahas semuanya dan jika ada yang membuat kamu tertarik katakan kepada Tante, nanti tante minta bantuan Marco untuk menjodohkan kalian.” Tante Katelyn tersenyum sangat bahagia.


Marco semakin kesal saat mendengar kata-kata Mamanya, ingin dia meneriakkan kalau Annabelle adalah miliknya. Dirinya semakin marah saat mengingat bagaimana tadi Mr. Renald terus menanyakan Annabelle kepadanya. Sampai akhirnya karena tidak tahan lagi dia mengatakan kalau Annabelle sudah punya kekasih. Ya dia harus menjadikan Annabelle miliknya.


Mungkin itu sepadan dengan kehilangan sebagian hartanya jika hanya itu yang wanita itu inginkan darinya.


Berhasil!!! Katelyn berseru didalam hatinya. Jika tidak mengingat umur mungkin dia akan berjingkrak-jingkrak bahagia. Marco terlihat akan meledak karena cemburu. Dan ini adalah ronde kedua.


“Tante, aku permisi keatas dulu.  Sepertinya aku ingin tidur cepat hari ini karena begitu lelah.”


“Oke, baiklah Annabelle. Tante juga akan segera tidur.”


Katelyn menatap kepergian Annabelle dengan sendu. Mudah-mudahan aku bisa berhasil menyatukan mereka lagi.


Apakah Marco tidak bisa melihat Annabelle sama sekali tidak menyentuh makanannya. Lama-lama dirinya bisa tinggal tulang kalau seperti ini. Jika tidak berhasil mungkin aku harus merelakan dirinya pergi meninggalkan rumah ini.


Saat dikamarnya Annabelle mengganti bajunya dengan baju tidur dan segera masuk kedalam selimut. Sampai tengah malam dirinya masih belum bisa tidur karena memikirkan tatapan Marco yang marah kepadanya.


Sebenarnya apa salahku padanya sampai dia harus begitu marah kepadaku. Akukan tidak sengaja membohonginya. Dan aku tidak mengira kalau semua pertemuan kami akan berlanjut begitu jauh. Selain itu dirinya kan sudah membalas semuanya. Apa itu masih belum cukup baginya?


Karena merasa haus Annabelle turun ke ruang makan untuk mengambil minum. Saat berbalik betapa terkejutnya Annabelle karena disana sudah berdiri Marco yang sedang mengawasinya. Annabelle merasa takut saat menatap mata Marco, dirinya bisa melihat kalau Marco masih sangat marah kepadanya dan dirinya juga bisa melihat gairah dimata Marco.


Annabelle pun tanpa bisa mengendalikannya juga ikut merasakan gairah yang timbul didalam dirinya. Tapi dirinya tidak mau dihina oleh Marco lagi seperti kemarin malam.


Annabelle mencoba menghindar untuk lari kembali ke atas menuju kamarnya, saat Marco melangkah mendekat kepadanya. Tapi langkah Marco lebih cepat daripada dirinya sehingga tiba-tiba Marco sudah berdiri dihadapannya dan menghadang langkahnya.


“Katakan Annabelle apakah kau sengaja merayu klien-klienku?” Marco bertanya sembari berjalan mendekati Annabelle yang berjalan mundur menghindarinya.


“Itu bukan urusanmu, Marco.” Annabelle mencoba mundur sejauh mungkin dari Marco sampai akhirnya dirinya tidak bisa mundur lagi karena terhalangi meja makan yang ada disana. Karena merasa terpojok Annabelle hanya bisa menahankan kedua tangannya didada Marco untuk mencoba menjauhkan Marco darinya.


Marco mengurung Annabelle dengan kedua tangannya diatas meja sehingga wanita itu tidak akan bisa kabur lagi.

__ADS_1


“Ya itu urusanku karena mereka adalah klien-klienku.”


“Memangnya Anda ibu mereka sehingga harus menjaga mereka.”


“Bukan, tentu saja. Tapi kau adalah milikku dan tidak ada yang boleh memilikimu selain diriku.”


Annabelle terkejut dengan perkataan Marco hingga hanya bisa tercengang menatap Marco.


Dan dengan itu Marco melumat bibir Annabelle dan memegang tengkuk wanita itu dengan salah satu tangannya saat wanita itu mencoba berpaling.


Sedangkan tangannya yang satu lagi merangkul pinggang Annabelle agar wanita itu tidak bisa melarikan diri dan semakin merapat kepadanya.


“Lepaskan aku Marco. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” Annabelle mencoba berbicara saat Marco berhenti menciumnya.


Marco mencium Annabelle kembali. Dirinya tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan Annabelle karena dirinya juga tidak tahu apa yang dia inginkan dari Annabelle, yang pasti saat ini dia begitu mendambakan wanita ini.


Annabelle mencoba mendorong Marco lagi dirinya harus mencoba bicara sebelum terlena dengan apa yang dilakukan Marco.


“Hentikan Marco. Bagaimana kalau nanti ada yang melih__.” Tapi belum sempat Annabelle menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya Marco sudah kembali melumat bibirnya, mengigit kecil sudut bibirnya dan menjilatinya agar mulut Annabelle membuka untuknya.


Annabelle lupa dengan apa yang ingin dikatakannya kepada Marco dan dengan perlahan Annabelle membuka mulutnya yang kemudian dimasuki oleh lidah Marco. Mereka berciuman seolah-olah sudah lama tidak saling bertemu dan sampai akhirnya baru saling melepaskan karena mulai kehabisan napas.


Marco menatap Annabelle intens. Annabelle tidak bisa memalingkan tatapannya dari tatapan Marco.


“Apakah kau menginginkan aku Annabelle? Jika kau mengatakan tidak maka aku akan melepaskanmu, tapi jika kau mengatakan ya maka aku tidak akan pernah melepaskanmu dan malam ini dan seterusnya kau hanya milikku.”


“Apakah kau akan membayarku lagi?”


Marco tertegun mendengar pertanyaan Annabelle. Dirinya sangat menginginkan Annabelle dan jika harus membayar untuk mendapatkannya itu yang akan dia lakukan.


“Ya, jika itu yang kau inginkan.”


“Kalau begitu lepaskan aku, aku tidak menginginkanmu, aku bahkan membencimu karena membayarku, aku bukan pelacur. Jadi lepaskan aku, aku sudah mengatakannya kalau tidak menginginkanmu”


“Pembohong,” bisik Marco didekat bibir Annabelle kemudian dia melumat bibir Annabelle.


Annabelle mendorong Marco, ”Aku tidak berbohong, aku tidak menginginkan dirimu.”


“Pembohong,” dan Marco kembali melumat bibir Annabelle lagi.


“Katakan yang sejujurnya Annabelle,” dan Marco terus mencium bibir Annabelle. Annabelle tidak bisa berpikir lagi dan tanpa disadarinya dirinya sudah merangkulkan lengannya dileher Marco dan membalas ciuman Marco dengan gairah yang sama.


“Katakan Annabelle, atau aku akan bercinta denganmu diruangan ini.”


“Ya, aku menginginkanmu. Please… Marco bawa aku ke atas.”


Dan dengan itu Marco menggendong Annabelle keatas kekamarnya agar mereka bisa melanjutkannya disana. Sesampainya dikamar Marco mengunci kamarnya dan membaringkan Annabelle diranjangnya. Kemudian dengan tergesa-gesa membuka pakaiannya dan dengan tidak sabar merobek baju tidur Annabelle.


“Marco, apa yang kau lakukan. Ini baju tidurku satu-satunya.”


“Maafkan aku, aku tidak bisa sabar untuk menunggu lagi.”


Dan dengan itu Marco menyatukan tubuh mereka. Dan mencapai kenikmatan Bersama-sama. Mereka kembali bercinta beberapa kali malam itu sampai akhirnya Annabelle harus kembali ke kamarnya. Karena mereka tidak ingin dipergoki yang lain keesokan harinya.

__ADS_1



Jangan lupa like & komentnya. thx ^^


__ADS_2