
Sejak hari itu Marco menjauhi Annabelle dan Annabelle tidak tahu sebabnya. Dirinya jadi stress karena memikirkan itu semua. Dan karena stress membuat dia tidak nafsu makan serta sering mual dan muntah, mungkin anaknya tahu jika mamanya sedang sedih.
Suatu hari Annabelle tanpa sengaja melihat saat Marco bermain bersama Jacob dan dirinya tertawa begitu bahagia dan ada Tiara juga di sana. Annabelle merasa tersingkirkan. Dan Annabelle hanya semakin menyembunyikan dirinya di kamar.
Hari ini Annabelle memutuskan akan turun untuk sarapan. Dan dengan tidak bersemangat Annabelle turun ke bawah. Marco terlihat tidak mempedulikannya dan hanya mama yang menanyakan keadaannya. Dan Annabelle bisa melihat kalau Tiara tersenyum penuh kemenangan.
"Tiara, hari ini aku ingin mengajak Jacob jalan-jalan untuk membelikan mainan untuknya. Apa tidak apa-apa?" tanya Marco.
"Tentu saja Marco, aku akan menyiapkan Jacob dan juga aku akan bersiapa-siapa." Jawab Tiara tersenyum bahagia.
"Tidak, aku hanya ingin berduaan dengan Jacob agar kami bisa lebih dekat. Apa tidak apa-apa?"
Dan senyuman hilang dari wajah Tiara. "Tidak apa-apa tentu saja, bagaimanapun dia adalah anakmu." Tiara kembali tersenyum.
"Baiklah kami akan berangkat jam 10:00 nanti. Tolong siapakan dia."
Annabelle hanya terdiam mendengarkan percakapan yang berlangsung. Selesai sarapan Annabelle langsung naik ke atas dan kali ini kembali memuntahkan makanannya. Dia sangat sedih dan membuat dirinya semakin stress. Berat badannya semakin turun karena semua itu.
Bahkan sekarang Marco tidak pernah memeluknya saat tidur dan Marco selalu masuk larut malam ke dalam kamar.
Annabelle jadi berpikiran yang tidak-tidak.
Lebih baik aku istirahat saja dari pada terus memikirkan semua itu.
Annabelle terbangun karena merasa ada yang mengawasinya tidur.
"Halo, Annabelle apa kamu bisa tidur nyenyak." Ucap Tiara saat Annabelle membuka matanya.
"Mau apa kamu kemari Tiara?" tanya Annabelle.
"Hanya ingin memberitahumu agar kamu tidak usah mengharapkan Marco akan mencintaimu. Karena dia masih mencintaiku. Apalagi dengan adanya Jacob di antara kami, aku rasa kamu dan anakmu hanya menjadi penganggu."
"Sebaiknya kamu keluar dari kamarku. Aku muak melihatmu."
"Kenapa Annabelle apa kamu sudah merasa kalau aku benar? Dan apakah kamu tahu jika setiap malam dia ke kamarku. Dan setelah kami bercinta dia baru kembali kepadamu."
"Pembohong!" Teriak Annabelle.
"Aku tidak berbohong Annabelle, bagaimana kamu menjelaskan dirinya yang selalu masuk larut malam."
"Dia pasti sedang bekerja." Tukas Annabelle.
Gelak tawa Tiara terdengar. "Kamu hanya menipu dirimu sendiri sayang." Ujar Tiara kembali.
__ADS_1
"Lihat dia bahkan tidak memperhatikanmu lagi."
"Keluar." Teriak Annabelle dengan air mata yang mulai mengalir.
"Baiklah...baiklah... jaga bayi mu baik-baik karena Marco tidak menceraikan mu hanya karena bayi itu." Dan Tiara berlalu pergi dari saja dengan senyum kemenangan.
Annabelle hanya bisa menangis pilu setelahnya. Dirinya tidak ingin percaya tapi sejauh ini perlakuan Marco padanya memang berubah. Apa yang harus aku lakukan.
Sedangkan dikamarnya Tiara tersenyum dengan sangat bahagia. Saat ini Marco sudah mengakui Jacob sebagai anaknya dan dirinya hanya tinggal menyingkirkan Annabelle dan dia akan segera menjadi Mrs. Xavier.
Satu langkah sudah ku lakukan untuk membuat Annabelle menderita dan perlahan dia akan semakin tertekan hingga dia akan kehilangan bayinya dan dengan itu Marco akan menceraikannya dan menikahiku. Tiara tersenyum puas.
Keesokan harinya Annabelle semakin lemah karena tidak tidur dan hanya menangis semalaman menunggu Marco yang tidak kembali ke kamarnya.
Aku harus mencari Marco. Pikir Annabelle.
Dan bergegas Annabelle turun untuk mencari Marco. Tapi dirinya tidak bisa menemukan Marco di manapun. Hingga akhirnya dia mencarinya ke sana dan menyiapkan hatinya.
"Marco, apakah kamu merindukan aku, baru semalam kita bersama dan sekarang kamu sudah merindukan aku."
Annabelle menutup mulutnya tidak percaya. Dan melarikan diri dari sana. Tapi tanpa sengaja dirinya menabrak pajangan yang ada di sana.
"Annabelle...Annabelle... tunggu." Teriak Marco.
"Annabelle apa kamu baik-baik saja?" panggil Marco dengan cemas."
"Akh...perutku." Teriak Annabelle sambil memegang perutnya.
"Ayo...kita ke rumah sakit." Dan Marco menggendong Annabelle. Sebelum pergi Annabelle masih sempat melihat senyum bahagia Tiara yang mengawasinya dari atas.
Aku akan membunuhnya jika terjadi sesuatu pada anakku. Pikir Annabelle sebelum kesadarannya hilang.
**
Annabelle tersadar dan mencium bau obat-obatan. Tangannya merasa sakit dan perutnya juga masih sedikit sakit.
Di mana aku?
Ini di rumah sakit. Bayiku? Apakah dia baik-baik saja.
Spontan Annabelle menyentuh perutnya hingga membuat jarum infusnya tertarik dan membuatnya kesakitan.
"Akh..."
__ADS_1
"Annabelle, kamu sudah bangun?" tanya Katelyn.
"Mama, bayiku? Bagaimana dengan bayiku?" tanya Annabelle.
Dan Katelyn hanya bisa menangis saat menantunya bertanya.
"Tidakkk." Teriak Annabelle pilu dan histeris.
"Tidak mama, itu tidak mungkin. Kenapa? Kenapa ini terjadi sama Annabelle mama? Tidakkk..."
"Annabelle tenangkan dirimu sayang, nanti kamu akan menyakiti diri kamu sendiri."
"Annabelle mau mati saja mama. Untuk apalagi Annabelle hidup." Ujar Annabelle dengan berlinang air mata.
"Akhhh..." jerit Annabelle pilu.
"Annabelle tenanglah. Suster...suster...tolong panggil Dr. James."
"Suster, Tolong ikat tangan dan kaki Mrs. Xavier agar tidak melukai dirinya sendiri." Perintah Dr. James saat sampai di kamar Annabelle.
"Baik, Dok."
"Tidak...lepaskan aku. Aku ingin anakku Dokter. Aku mohon biarkan aku bersamanya."
"Maafkan aku Annabelle." Ucap Dr. James prihatin.
Annabelle memberontak tapi dirinya tidak berdaya karena gerakannya terbatas. Hingga dia kelelahan karena menangis dan terus berusaha melepaskan ikatannya. Dan perlahan-lahan Annabelle tenang dan kembali tertidur dengan air mata berlinang.
Hiks...hiks...hiks...
Katelyn menangis melihat keadaan menantunya.
"Bagaimana ini james? Bagaimana jika Annabelle bunuh diri nantinya? Dan kenapa kamu harus mengikatnya James bukan memberikannya obat penenang saja. Aku tidak tega melihatnya."
"Tenanglah Katelyn, nanti dia pasti akan lebih tenang dan bisa menerima semuanya. Dan saat ini obat penenang belum di perlukan."
"Ini salahku, harusnya aku langsung menyuruh Marco mengusir ular berbisa itu."
"Ini bukan salahmu Katelyn. Sudahlah ayo kita ke kantin. Kamu sejak tadi belum makan apapun dan aku tidak mau kamu sakit nantinya. Siapa yang akan menjaga Annabelle kalau kamu sakit." Bujuk Dr. James.
Di luar Marco mendengarkan semuanya dan dia memutuskan bersembunyi saat Mamanya dan Dr. James keluar. Setelah Mamanya sudah pergi jauh dia mengunjungi Annabelle.
Hatinya sakit saat melihat keadaan Annabelle. "Maafkan aku, Annabelle." Bisik Marco saat berada di dekat Annabelle.
__ADS_1
"Aku terpaksa melakukan semua ini. Aku harap kamu akan mengerti nantinya." Dan Marco mengecup kepala istrinya dan pergi dari sana.