
Saat sampai di rumah Marco mencari Tiara. Dan menemukannya di kolam renang sedang bersama Jacob.
Marco menarik lengannya dengan kasar dan agak menjauh dari Jacob sebelum berbicara dengannya.
"Dengarkan baik-baik Tiara, lain kali jika kamu menganggu Annabelle lagi, aku akan langsung menendangmu dari rumah ini dan menjauhkan Jacob darimu. Apa kamu mengerti?"
"Apa salahku Marco, aku tidak melakukan apa pun terhadap Annabelle. Dan bagaimana dengan bayinya?"
"Tidak usah berpura-pura Tiara aku muak dengan sikap pura-puramu dan Annabelle kehilangan bayinya karenamu!" Bentak Marco marah.
"Benarkah?" Tanya Tiara pura-pura terkejut dan pura-pura bersimpati.
"Aku turut berduka Marco. Jangan bersedih Marco, lagipula kamu masih memiliki Jacob." Hibur Tiara.
"Aku tidak butuh kepura-puraanmu Tiara." Marco melepaskan lengan Tiara dengan kasar dan berlalu pergi dari sana.
Satu orang sudah aku singkirkan. Senyum Tiara setelah kepergian Marco.
"Jacob, ayo kita masuk ke dalam dan bermainlah dengan papa ya sayang. Karena papa lagi sedih sekarang ini."
"Apa Om Marco sedih karena tante Annabel cakit mama?" tanya Jacob.
"Iya sayang."
Tiara sangat kesal karena anaknya tidak mau menurutinya memanggil Marco papa. Jika Jacob mau memanggilnya papa mungkin Marco akan semakin lebih terikat dengan mereka. Apalagi Annabelle telah kehilangan bayinya.
Dan Tiara mengirim anaknya untuk menghibur Marco yang saat itu berada di ruang kerja. Dan berharap agar Marco semakin dekat dengan anaknya.
Selangkah lagi aku sudah mendapatkan kemajuan. Tinggal langkah berikutnya, pikir Tiara. Saat mendengar tawa Marco ketika bermain dengan anaknya.
***
Tiga hari kemudian Annabelle sudah diizinkan pulang ke rumah. Marco mencemaskan istrinya itu karena kehidupan seperti berlalu darinya.
Saat masuk ke dalam mereka di sambut oleh Tiara.
__ADS_1
"Annabelle, aku turut berduka cita." Ucap Tiara dengan nada sedih.
Marco melihat sesaat api seperti membara di mata istrinya.
Plakkk
Terdengar suara tamparan yang sangat keras. Dan Tiara memegang pipinya.
"Simpan simpati pura-puramu itu wanita iblis." Sembur Annabelle dengan berapi-api.
Dan kemudian Annabelle mencekik Tiara.
"Annabelle hentikan." Perintah Marco dan menariknya menjauhi Tiara.
"Ayo...Annabelle kita ke kamar." Ajak Marco memegang lengan Annabelle. Dia tidak ingin Annabelle kembali mencekik Tiara. Dia cemas nanti terjadi sesuatu pada istrinya.
"Lepaskan aku, Marco. Semua ini juga salahmu. Jangan pernah menyentuhku lagi."
"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu. Tapi kamu istirahatlah karena aku tidak mau sesuatu terjadi kepadamu."
Annabelle mendengus. "Seperti kamu peduli saja." Sindir Annabelle.
Dengan bergegas Annabelle naik ke atas dan menuju ke kamar yang pertama kali di tempatinya. Dia tidak ingin berada di kamar Marco saat ini.
Annabelle kembali menangisi kehilangannya.
"Kenapa sayang? Kenapa kamu meninggalkan mama? Ini salah mama karena tidak menjagamu dengan baik." Ratap Annabelle di sela-sela isakannya dan tidak menyadari Marco masih berada di luar pintu kamarnya.
Haruskah aku memberitahunya? Aku tidak tahan lagi mendengarnya. Tapi jika aku mengatakannya sekarang... Marco menjadi dilema.
Aku harus segera menyelesaikan semuanya. Satu minggu lagi aku harus bertahan dengan keadaan ini. Agar semuanya sempurna. Ujar Marco di dalam hati.
Marco baru pergi dari sana setelah tidak lagi terdengar tangisan Annabelle.
Sepertinya Annabelle sudah tertidur. Aku bisa meninggalkannya sekarang dan mulai menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
***
Beberapa jam kemudian Annabelle terbangun dan ternyata hari sudah sore.
Setelah mandi dan merapikan diri Annabelle memutuskan untuk turun. Dia memutuskan tidak akan terus meratapi kehilangannya.
Dan saat ini dia mempunyai misi baru. Dia akan membuat Tiara keluar dari rumah ini. Setelah itu dia akan meminta Marco menceraikannya.
"Halo mama." Sapa Annabelle saat sampai di meja makan.
"Annabelle, apa kamu baik-baik saja?" tanya Katelyn heran melihat Annabelle yang sudah turun untuk ikut makan.
"Iya mama, aku tidak bisa terus merasa sedih. Semuanya sudah terjadi. Dan Annabelle ingin membasmi hama di rumah ini agar tidak menyebar." Sindir Annabelle dan menatap Tiara dengan sinis.
"Marco, sayang kamu ingin makan apa?" tanya Tiara dengan manis dan pura-pura tidak mendengar perkataan Annabelle.
"Oh ya mama." Potong Annabelle.
"Apa mama tahu. Sebagian orang memang tidak tahu malu dengan terang-terangan ingin merebut suami orang lain." Sindir Annabelle.
"Iya sayang, mama sangat tahu sekali. Seperti itulah ular berbisa." Dukung Katelyn.
"Marco, sayang jangan mau menerima makanan dari ular berbisa, karena nantinya kamu bisa mati keracunan oleh bisanya." Sindir Annabelle lagi sambil mengambilkan makanan untuk Marco.
Sekuat tenaga Marco menahan senyum. Sepertinya rencanaku berhasil.
Sepanjang waktu makan malam Tiara hanya bisa cemberut karena perlakuan Annabelle dan dia tidak berani membalas karena takut Marco akan menendangnya dari rumah ini.
Aku akan membalasmu nanti Annabelle. Rutuknya di dalam hati.
Setelah naik ke atas, Annabelle bergegas menuju kamar mandi dan memuntahkan semua makanannya. Dia tidak tahan lagi harus berakting seperti tadi terlalu lama hingga pasti hal itu membuatnya muntah. Dan dirinya memutuskan akan tidur di kamar Marco agar Tiara tidak berpuas diri.
Berjam-jam Annabelle membaringkan dirinya di ranjang. Tapi dirinya tidak bisa tidur dan Marco tidak juga kembali. Saat malam sudah larut Marco baru masuk. Dan dengan cepat Annabelle pura-pura tidur.
Marco masuk ke kamar dan menatap istrinya yang sudah tertidur, kemudian dia membuka bajunya dan hanya memakai celana lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Annabelle. Aku harap nanti kamu akan mengerti." Bisik Marco di telinga istrinya.
Annabelle menahan napas saat Marco mengucapkan semua itu. Apa maksud Marco sebenarnya. Annabelle sungguh tidak mengerti. Dan karena tidak ingin Marco tahu jika dirinya belum tidur dia tidak berani melepaskan pelukan Marco. Akhirnya Annabelle ikut tertidur saat menunggu Marco tidur lelap.