
Sudah satu minggu Annabelle bekerja di sini dan pergi dari rumah tante Katelyn. Annabelle cemas apakah tante Katelyn baik-baik saja. Tapi dirinya tidak mungkin menelepon untuk menanyakan keadaan tante Katelyn.
Annabelle menghentikan lamunannya saat Mrs. Morgan memanggilnya agar membawakan minuman untuk tamunya.
Tadi teman Dilla datang berkunjung dan saat ini Dilla sedang berbincang-bincang dengan temannya itu. Annabelle hanya bisa melihat dari jauh tadi. Dan yang nampak hanyalah punggung laki-laki itu. Sepertinya itu kekasih Dilla karena mereka terlihat sangat dekat.
Annabelle bergegas membawakan minuman itu ke meja Dilla dan temannya.
“Ini Dilla minumannya.”
“Terima kasih Annabelle.” Ucap Dilla dan tersenyum padanya.
“Annabelle?” panggil teman Dilla padanya.
Sontak Annabelle mengalihkan tatapannya pada teman Dilla dan betapa terkejutnya Annabelle saat melihat ternyata orang itu adalah Daniel.
“Maaf anda salah orang, sir. Permisi.” Dengan cepat Annabelle pergi dari sana dan bersembunyi di ruang belakang.
“Apa kamu mengenalnya Daniel?” tanya Dilla pada kekasihnya.
Enam Bulan lalu mereka bertemu saat Dilla diajak temannya menghadiri pertunjukan Daniel. Dan disanalah mereka berkenalan dan akhirnya tertarik kemudian menjalin hubungan.
“Dia Annabelle kan?” tanya Daniel kepada Dilla.
“Iya.” Jawab Dilla dan semakin penasaran bagaimana kekasihnya bisa kenal Annabelle.
“Dia bukan mantan kekasihmu kan Daniel?” tanya Dilla cemburu.
Daniel tertawa mendengar pertanyaan kekasihnya itu. “Bukan sayang, kekasihnya akan membunuhku jika aku berani menyentuhnya. Lagi pula aku hanya mencintaimu.”
“Kekasih? Jadi Annabelle punya kekasih. Tapi kenapa orang itu tidak pernah datang ke sini menjemputnya ya saat dia pulang bekerja.”
“Jadi Annabelle bekerja disini?” Daniel merasa aneh karena kenapa Marco membiarkan Annabelle bekerja padahal dia sangat kaya. Dan bukannya Annabelle bekerja kepada mamanya Marco. Daniel harus menghubungi Marco.
“Iya sejak seminggu yang lalu dan dia tinggal di apartement di ujung jalan sana.” Jawab Dilla.
“Maaf sayang aku permisi sebentar, aku ingin menelepon seseorang.”
“Baiklah.” Jawab Dilla.
Kemudian Daniel beranjak dari sana dan mengecup bibir Dilla.
Saat sudah diluar Daniel menghubungi Marco.
“Halo, Daniel apa kamu akan mengundangku ke pertunjukanmu lagi?”
Ucap Marco saat menjawab panggilan telepon darinya.
“Tidak sobat, saat ini aku sedang libur dari pertunjukan-pertunjukanku. Dan bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja Marco?”
__ADS_1
“Ya aku baik-baik saja, hanya saja mamaku saat ini masuk rumah sakit. Jadi sekarang aku sedang menungguinya.”
“Apa! Di rumah sakit mana Marco? Aku akan kesana menjenguknya.”
Daniel beberapa kali pernah menginap di rumah Marco. Jadi dirinya mengenal mama Marco dengan baik. Dan Mama Marco sangat baik kepadanya selama ini. Daniel tidak mempunyai orang tua lagi dan dia menganggap tante Katelyn sama seperti mamanya sendiri.
Marco kemudian memberitahukan Daniel di mana mamanya dirawat berserta ruangannya. “Baiklah Marco aku akan segera kesana dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu.”
Dan dengan itu panggilan telepon mereka di matikan.
Daniel kembali masuk kedalam dan berpamitan pada kekasihnya.
“Dilla, aku harus pergi dulu karena mama temanku masuk rumah sakit.”
“Baiklah Daniel, apa kamu akan datang lagi sebelum kembali ke London?”
“Ya aku akan datang lagi.” Kemudian Daniel memagut bibir Dilla dan berlalu pergi dari sana.
Setelah berkendara selama satu jam akhirnya Daniel tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar tante Katelyn.
“Halo, tanteku yang cantik, bagaimana kabarmu? “ sapa Daniel pada Katelyn yang kebetulan sedang bangun.
“Daniel!!!” Seru tante Katelyn.
“Sungguh kejutan. Apa yang sedang kamu lakukan hingga bisa berada di sini. Biasanya kamu selalu berkeliling dunia.”
Katelyn langsung merasa sedih karena teringat dengan Annabelle. Entah di mana Annabelle sekarang dan bagaimana keadaannya. Ini semua salahku. Dan Katelyn meneteskan air mata tanpa disadarinya.
“Tante! Apa tante baik-baik saja. Maafkan aku jika pertanyaanku membuat tante sedih.” Ujar Daniel.
“Tidak apa-apa ini bukan salahmu. Untuk menjawab pertanyaanmu satu buku sudah berhasil di selesaikan dan akan segera terbit.”
“Wah aku senang sekali mendengarnya tante, aku sudah tidak sabar lagi ingin membelinya. Sekarang tante istirahatlah ada yang ingin kubicarakan dengan Marco. Apa tante tahu dia di mana?”
“Mungkin di kantin, cobalah kamu mencarinya kesana. Karena dia tadi belum sarapan. Tante sudah menyuruhnya pulang tapi dia tidak mau. Padahal tante baik-baik saja bahkan sore nanti tante sudah boleh pulang.”
“Baiklah tante. Lekas pulih tante.”
“Terima kasih Daniel.”
Dan Daniel menyunggingkan senyum untuk Katelyn saat pergi meninggalkannya. Daniel mencari Marco di kantin dan seperti yang dikatakan tante Katelyn dia memang ada di sana sedang melamun dan tidak menyadari tatapan gadis-gadis yang diarahkan padanya.
“Halo sobat, apa yang sedang kamu lamunkan.”
“Daniel, kamu sudah sampai?” Marco tersenyum melihat temannya.
“Iya dan aku juga sudah mengunjungi mamamu. Apa yang terjadi Marco, kenapa tante Katelyn bisa sampai masuk rumah sakit, bukannya dia selalu rajin check up dan menjaga kesehatannya.”
__ADS_1
“Ya, itu salahku. Mama marah kepadaku hingga tidak mau keluar kamar dan tidak mau makan.”
“Memangnya apa yang kamu lakukan hingga membuat tante semarah itu. Dia kan sangat menyayangimu dan dia hanya akan sangat marah jika kamu melakukan kesalahan yang sangat fatal.”
“Annabelle pergi dari rumah dan itu semua karena aku. Annabelle hamil anakku. Dan tanpa sengaja dia mendengar pembicaraanku dengan mama yang bertanya kapan aku akan menikahinya dan bagaimana jika dia hamil. Tapi aku mengatakan tidak akan menikahinya dan akan menyuruhnya mengugurkan kandungannya. Aku sudah mencarinya selama seminggu ini. Tapi tidak berhasil menemukannya.”
Daniel menaikkan alisnya. Ada apa dengan temannya ini. Kapan dia akan sadar kalau dia mencintai Annabelle.
Pantas saja tadi Annabelle pura-pura tidak mengenalinya karena takut dia akan memberitahukan Marco keberadaannya.
“Dan sekarang apakah kamu masih akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya Marco jika berhasil menemukannya?” tanya Daniel untuk melihat apa jawaban temannya itu dan apakah dia harus memberitahukan keberadaan Annabelle padanya.
“Tidak, kemarin aku mengatakan seperti itu hanya karena emosi. Aku tidak sekejam itu terhadap anak yang tidak berdosa, apalagi itu adalah anakku. Dan aku akan menikahinya demi mama.”
“Demi mamamu Marco? Bukan karena kamu mencintai Annabelle?” pancing Daniel terhadap temannya itu.
Dan gelak tawa Marco meledak saat Daniel menanyakan hal itu padanya. “Jatuh cinta Daniel? Kamu tahu bukan aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.”
“Terserah kamu Marco jika itu yang ingin kamu yakini.”
Sejenak Marco berpikir. Benarkah dirinya sudah jatuh cinta?
Itu tidak mungkin dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dia hanya akan menikahi Annabelle demi mamanya dan anak di dalam kandungan Annabelle.
Daniel akan memberikan Marco kesempatan sekali lagi untuk menyadarinya jika dia mencintai Annabelle. Semoga temannya itu tidak salah langkah hingga membuatnya kehilangan Annabelle untuk selamanya.
“Sebenarnya yang aku ingin bicarakan denganmu itu adalah tentang Annabelle.”
“Apa maksudmu Daniel?” tanya Marco curiga.
“Aku tahu di mana keberadaannya.”
“Apa? Bagaimana mungkin kamu bisa mengetahuinya. Apa kalian mempunyai hubungan?” tanya Marco dengan curiga dan dengan nada yang tinggi karena mengira Annabelle bersama Daniel.
“Wow…wow… tenang Marco. Dirimu salah paham. Aku baru mengetahui keberadaan Annabelle hari ini. Dan kami tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bahkan tadi saat melihatku dia pura-pura tidak mengenaliku.”
“Tadi kamu bertemu dengannya Daniel? Katakan di mana dia?” tanya Marco dengan tidak sabar.
“Tenang Marco, kamu seperti seorang pria yang sangat merindukan kekasihnya. Dia berada di Café-Coffee Shop milik kekasihku Dilla yang ada di 3205 Broadway, New York.”
“Terima kasih Daniel aku berhutang budi padamu.” Bergegas Marco bangun dan akan segera menuju ke sana.
“Marco,” panggil Daniel.
“Jangan sia-siakan kesempatan ini hanya karena masa lalumu, dan jangan sakiti dia hingga akan membuatmu menyesalinya seumur hidupmu.” Nasehat Daniel pada temannya.
Marco hanya menatap Daniel karena tidak tahu akan menjawab apa.
“Terima kasih. Aku pergi dulu.” Balas Marco akhirnya.
__ADS_1
Ditunggu koment & likenya. thx ^^