Mr. Cool & Angel by Yessy Lie

Mr. Cool & Angel by Yessy Lie
23


__ADS_3

Setelah tante Katelyn mendiskusikan tentang pernikahannya, Annabelle memilih menyerahkannya saja semuanya ke tangan Tante Katelyn, karena bagaimana pun ini bukan pernikahan yang sebenarnya.


Annabelle hanya meminta agar pernikahannya sederhana dan meminta Tante Katelyn mengundang orang tuanya dan keluarga Morgan saja.


Dan Annabelle senang karena Tante Katelyn bahagia. Itu sudah cukup bagi Annabelle.


Tak terasa akhirnya tiba juga hari di mana Annabelle akan menikah. Selama seminggu ini Marco terus menjauhinya dan mungkin itu yang terbaik. Karena dia tidak ingin Marco tahu kalau dirinya masih mencintai Marco.


Mereka memilih menikah di rumah saja dan setelah sumpah pernikahan di ucapkan di saksikan Kedua orang tua Annabelle yang sudah datang sejak kemarin, Tante Katelyn, Keluarga Morgan, Daniel dan Para pelayan.


Akhirnya Annabelle sah menjadi istri Marco dan Marco mengecup bibirnya.


Tadi saat akan menghampiri Marco, Annabelle sempat merasa ragu. Tapi raut bahagia di wajah Tante Katelyn membuatnya memutuskan jika ini adalah hal yang benar untuk dilakukannya.


“Selamat Annabelle, aku senang akhirnya kamu akan mendapatkan kebahagiaan.”


“Terima kasih, Dilla."


"Dan Mr. Xavier, jaga temanku baik-baik.” Ancam Dilla pada Marco.


“Tentu saja.” Jawab Marco.


“Selamat sayang, mama harap kamu bahagia.” Ucap Mamanya sambil memeluknya.


“Terima Kasih mama, maaf kalau selama ini Annabelle tidak menceritakan apa-apa kepada mama dan papa.”


“Tidak apa-apa sayang, yang penting kamu bahagia, selamat ya.” Ucap papanya dan juga memeluknya.


Dan Marco mengajaknya berbulan madu ke hotel yang berada tidak jauh dari rumah hanya agar mamanya dan keluarga Annabelle tidak curiga. Saat akan menuju kendaraan Marco, Annabelle mencari mertuanya.


“Oh…Annabelle, selamat sayang sekarang kamu sudah menjadi putriku.”


“Terima kasih Mama.” Ucap Annabelle dengan sedikit gugup karena sekarang harus memanggil Katelyn mama.


“Pergilah suamimu sudah menunggumu.”


“Baik mama.” Dan Annabelle bergegas pergi ke tempat Marco sudah menunggunya.


Saat sampai di hotel Marco memintanya naik terlebih dahulu ke kamar karena ada yang harus dia lakukan.


Saat di kamar Annabelle berusaha membuka baju pengantinya tapi dirinya tidak berhasil. Akhirnya dia menyerah dan menunggu Marco.


“Annabelle, apa yang kamu lakukan tidur di sini.” Panggil Marco saat masuk kamar dan menemukan istrinya tertidur di meja rias.


“Marco, kamu sudah datang. Maaf, aku kelelahan hingga tanpa sengaja tertidur saat menunggumu.”


“Ada apa kamu menungguku?” Marco heran kenapa Annabelle menunggunya padahal dia tahu pernikahan mereka bukanlah pernikahan sesungguhnya.


Annabelle merona merah.


“Maaf aku tidak bisa membuka baju ku, dapatkan kamu tolong membukanya?”


“Oh…baiklah.”


Marco membuka resleting baju pengantin Annabelle dengan perlahan dan dengan perlahan punggung Annabelle nampak di hadapannya. Dirinya tadi sangat terpesona saat Annabelle muncul dengan baju pengantinya. Mamanya memang sangat hebat dalam hal memilih baju pengantin ini.


**


Annabelle menegakkan punggungnya saat merasakan sentuhan Marco di kulitnya. Dia sangat mendambakan sentuhan Marco tapi tidak ingin kehilangan hatinya yang tersisa.


Saat Marco sudah selesai membuka pakaiannya dengan kelelahan Annabelle keluar dari dalam baju pengantinnya dan ingin melangkah ke kamar mandi.


Tapi tiba-tiba Marco mengangkatnya.


“Marco, apa yang kamu lakukan?”


“Aku bisa melihat kalau kamu sangat kelelahan Annabelle dan aku tidak mau nanti kamu terjatuh jadi aku yang akan membawamu ke kamar mandi.”


Setelah menurunkan Annabelle ke dalam bathtub , Marco keluar dari sana.


“Panggil aku jika kamu sudah selesai Annabelle dan jangan tertidur di bathtub. Apa kamu mengerti Annabelle?” ucap Marco sebelum keluar.


“Iya Marco. Terima kasih.”


Marco keluar dari sana dan menunggu di dalam kamar. Hingga lima belas menit kemudian Annabelle tidak memanggilnya dan tidak juga keluar.


Dirinya mulai cemas.


“Annabelle, apa kamu sudah selesai?” panggil Marco. Tapi tidak ada jawaban.


Marco memutuskan untuk masuk dan tidak peduli jika Annabelle akan marah.

__ADS_1


Dan seperti yang di duganya Annabelle tertidur dan untung saja dia tidak tenggelam. Jadi dia mengangkatnya dari bathtub, mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan membawanya ke ranjang agar Annabelle bisa tidur di sana. Sebelum meninggalkan Annabelle di ranjang Marco mencium kening istrinya.


**


Keesokan harinya Annabelle terbangun sendirian di kamarnya dan tidak ada Marco di sana.


Kemanakah Marco? Batin Annabelle.


Dan saat turun dari ranjang Annabelle baru menyadari jika dirinya telanjang.


Apa yang sudah terjadi semalam?


Annabelle mencoba mengingat kembali dan dia ingat kalau semalam dia sedang mandi dan saat sudah selesai dia merasa lelah dan berbaring sebentar tapi malah tertidur lelap.


Pasti Marco yang membawaku ke sini. Jadi semalam tidak terjadi apa-apa. Samar-samar dirinya merasa Marco mencium keningnya. Tapi dia pasti hanya bermimpi.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu dan Annabelle segera naik keranjang dan masuk dibawah selimut untuk menutupi tubuhnya. Ternyata itu Marco.


“Marco, aku kira dirimu sedang pergi.”


“Aku hanya keluar sebentar berjalan-jalan di sekitar hotel."


“Oh...”


Mereka menikah tapi bersikap seperti dua orang asing akan jadi apa pernikahan ini, batin Annabelle. Dan dirinya mulai tidak tahan dengan keadaan ini.


“Mandilah, Annabelle. Sebentar lagi pelayan akan datang membawa makanan, tadi aku sudah menelepon untuk membawakan makanan ke kamar kita.”


“Baiklah.” Tapi Annabelle masih tetap diam di atas ranjang.


“Jangan katakan kau malu Annabelle. Aku sudah melihat semuanya lagi semalam. Dan aku tidak akan minta maaf untuk hal itu. Kalau aku tidak masuk ke dalam mungkin kamu akan mati tenggelam.” Ujar Marco dengan suara dan wajah yang kaku.


Annabelle merona merah. Dia tahu apa yang di katakan Marco itu benar. Jika bukan karena Marco mungkin dirinya sudah mati.


“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku.” Dan Annabelle beringsut turun dari ranjang dengan membawa serta selimut yang menutupi tubuhnya.


“Demi Tuhan Annabelle. Apa yang kamu lakukan. Apa kamu ingin terjatuh?” geram Marco saat melihat Annabelle tetap membawa selimut yang berat itu.


“Sh*t, sudahlah.” Dengan itu Marco menghampiri Annabelle dan menggendongnya.


“Kamu mau apa Marco?” jerit Annabelle dan secara refleks memeluk leher Marco.


“Tentu saja membawamu ke kamar mandi, karena aku tidak mau kamu terjatuh.”


“Memangnya kamu pikir apa yang akan aku lakukan? Mengajakmu bercinta?” dan Marco menghentikan langkahnya kemudian menatap Annabelle yang ada dipelukannya.


Wajah Annabelle merona merah karena memang seperti itulah yang dipikirkannya. “Tidak.” Jawab Annabelle dengan gugup.


“Aku tidak akan bercinta denganmu jika kamu tidak memintanya Annabelle, aku sudah berjanji dan akan menepatinya."


“Baiklah.”


Marco kembali meneruskan langkahnya dan menurunkan Annabelle di kamar mandi lalu pergi dari sana agar Annabelle bisa mandi.


Setelah Annabelle selesai mandi makanan sudah dihidangkan dan Annabelle menyantapnya dan giliran Marco yang mandi saat ini.


Saat sudah selesai makan Marco belum juga selesai mandi jadi Annabelle termenung menatap keluar dari kamar hotel itu. Saat mendengar pintu kamar mandi di buka Annabelle menolehkan kepalanya dan dia menelan salivanya dengan susah payah saat Marco keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk.


Annabelle sangat tergoda untuk menyentuh Marco saat ini.


“Sentuhlah Annabelle jika kamu ingin menyentuhnya, aku tidak keberatan dan tidak akan melarangmu.”


Annabelle menatap Marco. “Tidak, terima kasih.” Ucap Annabelle dan memalingkan wajahnya dari tubuh Marco sebelum dirinya tergoda.


“Baiklah kalau itu maumu, aku akan sabar menunggu Annabelle.” Dan Marco memakai pakaiannya dan memakan sarapannya. Saat selesai sarapan Marco menghampiri Annabelle.


“Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi Annabelle? Karena kita tidak mungkin pulang sekarang. Mama dan keluargamu akan heran jika kita pulang secepat ini.”


Setelah memikirkan sejenak, Annabelle merasa tidak ingin kemanapun karena dia mudah lelah sekarang ini sejak hamil.


“Aku tidak ingin kemana-mana Marco, aku masih merasa lelah. Mungkin kita bisa pulang saja, dan mereka pasti tidak akan merasa aneh karena tahu aku sedang hamil.”


“Perlukah kita ke dokter Annabelle?” tanya Marco cemas.


“Tidak Marco, aku ingin pulang saja.”


“Baiklah jika kamu maunya seperti itu. Ayo…kita pulang.”


Setelah Checkout dari hotel mereka segera berkendara pulang ke rumah. Dan sampai di rumah mereka di sambut oleh semuanya.


“Annabelle, kamu terlihat lelah sayang. Apakah kita harus ke dokter?”

__ADS_1


“Tidak mama, Annabelle hanya perlu istirahat saja. Nanti juga akan baikkan.” Jawab Annabelle menenangkan mamanya.


“Baiklah sekarang sebaiknya kamu tidur. Mama dan Papa akan pulang nanti jam 14.00, jaga kesehatanmu dan bayimu baik-baik.”


“Iya mama pasti. Hati-hati dijalan mama.” Dan Annabelle memeluk mamanya.


“Hati-hati di jalan papa.” Kemudian Annabelle memeluk papanya.


“Iya Annabelle. Dan kamu Marco, jaga anakku baik-baik, aku akan membuat perhitungan denganmu kalau kamu menyakitinya.” Ancam papanya pada Marco.


“Siap, Pa. Marco akan menjaganya baik-baik.”


John tertawa puas mendengar jawaban menantunya.


“Baiklah sekarang bawa istrimu untuk istirahat, Marco.


“Ayo sayang.” Dan Marco menggendongnya.


“Marco, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku, aku bisa naik sendiri ke atas.” Bisik Annabelle.


“Dan membiarkan papamu mendapatkan kesempatan untuk membunuhku karena tidak memanjakan putrinya.”


“Oh…baiklah, aku jika tidak mau kalau kamu dibunuh gara-gara itu. Apalagi papa memang pernah membunuh orang yang menyakiti aku.” Jawab Annabelle dengan serius.


Marco menghentikan langkahnya dan memandang wajah Annabelle.


Seketika tawa Annabelle pecah. “Aku tidak serius Marco. Ini salahmu karena tadi begitu serius hingga aku tidak tahan ingin membalasnya.”


Marco meneruskan langkahnya, “Aku akan membalasmu Annabelle.”


Saat sampai di kamar Marco menurunkan Annabelle memeluk pinggang Annabelle merapat padanya.


“Kamu sudah berjanji Marco.”


Marco mendekatkan bibirnya pada Annabelle.


“Aku tidak pernah berjanji tidak akan menciummu, Annabelle.” Bisik Marco di bibir Annabelle dan kemudian mencium istrinya dengan perlahan lalu baru melepaskannya.


“Kamu curang Marco.” Desis Annabelle.


“Aku sudah mengatakan akan membalasmu. Itu hukumanmu karena sudah mengerjai aku.” Seringai Marco.


Annabelle cemberut dan saat itulah dirinya baru sadar jika dia ada di kamar Marco. “Kenapa kamu membawaku kesini Marco?”


“Annabelle apa kamu sudah lupa kalau kita sudah menikah? Apa aku perlu mengingatkanmu lagi?” ucap Marco sambil mendekat pada Annabelle.


“Berhenti Marco, aku tidak lupa tapi kita kan tidak benar-benar menikah jadi kenapa kamu menyuruhku tidur di sini?”


“Annabelle,” geram Marco.


“Mama kan tidak tahu kalau kita tidak sungguh-sungguh menikah, jadi tidak mungkin kan kita pisah kamar. Lagi pula kamarku lebih besar dari kamarmu. Jadi kita akan tidur di kamarku.”


“Oh…baiklah. Aku akan tidur di sofa kalau begitu.”


“Kalau kamu tidur di sofa aku akan menciummu lagi.”


“Lalu kamu ingin aku tidur di mana Marco? Di ranjangmu?”


“Iya.”


“Dan kamu?”


“Di ranjang juga. Ranjang itu cukup besar untuk kita berdua.”


“Tidak…tidak…aku tidak mau.”


“Ada apa Annabelle, apa kamu takut tengah malam kamu akan memperkosaku?”


Annabelle ternganga mendengar ucapan Marco. “Jangan besar kepala Mr. Xavier.”


“Aku tidak besar kepala Mrs. Xavier, hanya saja dirimu yang pura-pura malu tidak mau mengakui jika masih menginginkan aku juga.”


“Oh… terserah, baiklah aku akan tidur di ranjang denganmu. Kamu di sebelah kiri dan aku di sebelah kanan. Sekarang aku ingin tidur.” Ucap Annabelle dan kemudian langsung menuju tempat tidurnya dan menyudahi perdebatannya dengan Marco.


Marco hanya menatap Annabelle dan betapa dia sangat ingin merengkuhnya kedalam pelukannya.


Tapi dia harus puas dengan apa yang di dapatnya sekarang. Karena dirinya tidak bisa memberikan Annabelle apa yang diinginkannya yaitu cintanya jadi dia juga harus puas dengan apa yang akan diberikan Annabelle padanya.


Marco keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Dirinya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang tertunda karena mengurusi dan memikirkan pernikahannya. Sebelum pernikahan dirinya sengaja menjauh dari Annabelle karena tidak ingin bertindak salah hingga membuat Annabelle akan pergi meninggalkannya.


Apa yang salah dengannya, kenapa dia takut Annabelle meninggalkannya?

__ADS_1


Dan Marco memikirkan lagi perkataan Daniel yang mengatakan dia mencintai Annabelle.


Tidak…tidak…ini pasti karena aku mengganggap Annabelle sebagai milikku karena itulah aku takut kehilangannya. Sangkal Marco.


__ADS_2