
Bergegas Marco mengambil kendaraannya dan segera menuju alamat yang diberitahukan oleh Daniel.
Dan hanya dalam waktu 45 menit Marco sampai ke sana.
Saat masuk ke dalam café itu Marco mencari-cari Annabelle tetapi tidak menemukannya. Apakah Daniel mempermainkannya? Tapi tidak mungkin karena Daniel tidak mungkin melakukan itu padanya.
“Maaf Anda mau pesan apa?” tanya seorang wanita muda di café itu.
“Aku datang kesini untuk mencari seseorang. Apakah kamu Dilla?”
“Maaf Anda siapa? Dan bagaimana Anda bisa tahu namaku?” tanya Dilla lagi dan kali ini dengan nada curiga.
“Maaf aku tidak bermaksud menakut-nakutimu. Aku Marco Xavier, temannya Daniel.”
“Oh… Anda temannya Daniel. Maaf, Mr. Xavier saya tidak tahu. Anda kemari mencari siapa?”
“Aku datang kemari mencari Annabelle. Daniel mengatakan jika dia bekerja di sini.”
“Jadi Anda kekasih Annabelle?” Dilla kembali mencurigainya. Laki-laki inikah yang membuat Annabelle kadang sering melamun dan terlihat tidak baik-baik saja selama satu minggu bekerja di sini.
“Iya, aku kekasihnya.”
“Apakah Anda menyakitinya Mr. Xavier? Karena dia tidak terlihat baik-baik saja selama bekerja di sini seminggu ini.”
“Saya rasa itu bukan urusan Anda, Ms. Morgan. Maaf bukannya saya bermaksud kasar. Saya kemarin ingin bertemu dengannya dan meluruskan masalah kami. Apakah kamu bisa tolong memanggilnya kemari.”
“Baiklah, aku akan memanggilnya. Maaf, benar kata Anda ini bukan urusanku. Aku hanya sedih melihat dirinya selalu murung dan kadang tidak berselera makan.”
“Tidak apa-apa Ms. Morgan, saya mengerti.”
“Tunggulah di sini, aku akan memanggil Annabelle.”
Setelah menunggu beberapa saat dan Marco merasa ingin menerobos masuk ke dalam dan mencarinya sendiri karena sudah tidak sabar menunggu. Akhirnya Ms. Morgan muncul tapi tanpa Annabelle di sisinya.
Apa-apaan ini!
Jika bukan karena memikirkan Daniel dia mungkin akan sangat marah saat ini. Kekasih Daniel pasti sengaja mempermainkannya.
“Di mana dia, Ms. Morgan?” geram Marco.
“Maafkan aku Mr. Xavier, aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi dia tidak ada dan aku tidak tahu dia pergi ke mana. Mungkin dia sudah pulang ke rumahnya.”
“Rumah? Di mana rumahnya?”
“Rumahnya di apartement di ujung jalan sana. Nama tempatnya Rose Garden Kamar no 288.”
“Terima kasih bantuannya Ms. Morgan, maafkan atas kelakuanku.”
“Tidak apa-apa Mr. Xavier. Jaga Annabelle baik-baik.”
Dengan cepat Marco kembali ke mobilnya dan pergi ke tempat Annabelle
Marco memencet bel pintu kamar Annabelle. Setelah menunggu sesaat pintu terbuka. “Ya, Anda mencari siapa.” jawab Annabelle sambil membuka pintu dan kemudian mengeluarkan kepalanya untuk melihat tamunya.
“Marco.” Annabelle terbelalak saat melihat siapa yang memencet belnya.
__ADS_1
Dengan cepat Annabelle akan menutup pintunya tapi Marco lebih cepat dan menghalangi pintu dengan kakinya.
“Apa yang kamu lakukan disini? Dan mau apa kamu ke sini Marco?” cerca Annabelle.
“Aku kemari ingin membicarakan tentang kehamilanmu.”
Wajah Annabelle langsung memucat. Dia tidak menyangka kalau Marco tahu tentang kehamilannya. Apakah dia datang kemari untuk memintaku mengugurkannya?
Tidak… aku tidak akan membiarkannya.
Annabelle sudah berusaha menghindari Marco. Tadi dia sedang membersihkan meja saat melihat Marco turun dari mobilnya dan dengan cepat dia pergi dari belakang café dan pulang ke rumah. Dia sudah tahu saat bertemu Daniel tadi jika Marco pasti akan tahu tentangnya. Hanya saja dia tidak menyangka kalau Marco akan datang mencarinya. Dan bagaimana caranya dia bisa tahu tentang kehamilanku.
Annabelle kembali menelusuri ingatannya. Dan dia ingat jika kertas test hasil kehamilannya terjatuh saat dia melarikan diri dari depan ruang kerja Marco saat itu. Aku sungguh bodoh. Pikir Annabelle.
“Annabelle, kenapa kamu tidak berkata apa-apa?”
Annabelle kembali memusatkan pikirannya kembali ke saat ini.
“Jika kamu memintaku mengugurkannya, aku tidak akan melakukannya Marco. Kamu harus melangkahi dulu mayatku.”
“Aku kemari bukan untuk itu.”
“Lalu kamu mau apa? Memberikan aku uang agar mengugurkannya? Aku tidak menginginkan uangmu Marco dan aku tidak akan menerima sepeserpun uangmu.”
Marco bangun dan menghampiri Annabelle.
“Please jangan mendekat Marco.” Mohon Annabelle.
Marco berhenti dan menurutinya karena tidak ingin Annabelle ketakutan. Hanya dalam waktu seminggu Annabelle kehilangan banyak berat badan. Marco mencemaskannya.
“Maafkan aku Annabelle, apa yang kamu dengarkan waktu itu, aku sama sekali tidak serius, aku hanya sangat marah karena mama terus bertanya. Aku kemari ingin memintamu menikah denganku.”
Aku pasti salah dengar. Pikir Annabelle.
“Kamu tidak seriuskan?”
“Aku sangat serius. Aku ingin kita menikah.”
Annabelle tertawa. “Sudahlah Marco jangan bercanda, aku tahu bagaimana pandanganmu akan pernikahan.”
“Aku serius Annabelle, aku melakukannya demi mama. Saat ini mama sedang terbaring di rumah sakit karena mencemaskanmu dan marah padaku.”
“Apa! Tante Katelyn masuk rumah sakit?” seru Annabelle.
“Iya Annabelle. Jadi apakah kamu mau menikah denganku? Lakukan itu untuk mama. Hanya dengan ini mama akan sembuh dan tidak depresi lagi. Sejak kamu pergi mama mengurung diri di kamar dan tidak mau makan hingga kemarin aku menemukannya pingsan di dalam kamarnya. Untung aku cepat membawanya ke rumah sakit, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi.” Jelas Marco.
“Tapi pernikahan seperti apa yang akan kita jalani Marco jika itu hanya demi tante Katelyn. Aku tidak bisa.”
“Kita sangat cocok di atas ranjang Annabelle dan aku yakin pernikahan ini pasti berhasil hanya berdasarkan hal itu.”
“Tidak Marco, aku tidak bisa menikah tanpa cinta.”
“Kamu tahu Annabelle jika aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Lakukan ini demi anak kita Annabelle jika bukan demi mama.” Pinta Marco.
“Baiklah Marco, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada tante Katelyn. Tapi aku punya syarat Marco.” Annabelle setuju menikah dengan Marco setelah memikirkannya sejenak. Dia tidak boleh egois ini demi anaknya. Akan sangat kasihan jika anaknya tidak memiliki papa nantinya.
__ADS_1
“Apa syaratnya, Annabelle?” tanya Marco
“Aku tidak mau kita berhubungan intim Marco.”
“Kenapa Annabelle? Bukankah kita sangat cocok di ranjang?”
“Maafkan aku Marco, aku hanya tidak ingin terluka lagi. Apakah kamu menyetujuinya Marco?”
“Baiklah jika itu yang kamu inginkan Annabelle.”
“Terima kasih.”
“Kemasi barang-barangmu Annabelle, dan ikut aku pulang. Mama pasti akan sangat gembira.”
“Baiklah, tapi biarkan aku berpamitan dulu pada bosku.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana saat kita pulang nanti.”
Setelah selesai mengemasi semua, Annabelle pamit dengan pemilik kost itu dan kemudian mereka menuju café tempat Annabelle bekerja. Marco menunggu di dalam mobil saat Annabelle berpamitan.
“Mrs. Morgan terima kasih karena sudah mau menerimaku bekerja di sini. Tunanganku sudah datang menjemput dan kesalahpahaman kami sudah di luruskan. Maafkan aku telah menyusahkan Anda.”
“Tidak apa-apa Annabelle, aku ikut bahagia untukmu.” Ucap Mrs. Morgan.
“Terima kasih Mrs. Morgan.”
Kemudian Annabelle mencari Dilla untuk berpamitan dan menemukannya di ruangannya.
“Dilla, terima kasih untuk bantuanmu selama ini, aku akan ikut tunanganku sekarang kemarin kami memiliki sedikit kesalah pahaman dan sekarang sudah diluruskan.”
“Baiklah Annabelle, aku ikut senang untukmu.”
Dan Dilla memeluk Annabelle. “Jaga dirimu baik-baik Annabelle, jika kamu butuh sesuatu hubungi aku, aku ingin kita tetap berteman baik.” Bisik Dilla di telinga Annabelle.
“Terima kasih Dilla.” Balas Annabelle dengan mata berkaca-kaca.
“Ayo bergegaslah kasihan tunanganmu menunggu lama.”
“Sampai jumpa Dilla.”
Dan Annabelle berlalu dari ruangan Dilla. Aku harap kamu akan bahagia Annabelle. Ucap Dilla di dalam hati.
Setelah keluar dari ruangan Dilla, Annabelle menuju mobil Marco dan mereka melanjutkan perjalanan.
Hari sudah sore saat mereka sampai di rumah. Rumah yang baru seminggu lalu Annabelle tinggalkan. Dan Annabelle sudah merindukannya.
“Kamu bisa beristirahat Annabelle, aku akan menjemput mama karena hari ini dia sudah diizinkan pulang dan mama pasti akan cepat pulih saat melihat kamu.”
“Baiklah Marco.”
Bergegas Marco kembali ke mobilnya dan menuju rumah sakit tempat mamanya berada. Dan Annabelle naik ke kamar yang dulu di tempatinya, membersihkan dirinya dan merapikan barang-barangnya yang tidak seberapa.
Annabelle tidak tahu akan melakukan apa jadi dirinya akhirnya berbaring di ranjang dan terlelap tidur. Satu minggu ini dirinya sama sekali tidak bisa tidur nyenyak dan tidak berselera makan.
__ADS_1
Ditunggu koment & likenya. thx ^^