
Keesokan harinya Annabelle merasakan sakit disekujur tubuhnya. Dan dia merasa akan mati saja. Dia tidak bisa bangun. Hingga Tante Katelyn mengirimkan Emily untuk mengecek keadaannya.
“Nak, apa kamu baik-baik saja?”
“Bibi Emily, tolong aku merasa tulangku akan rontok dan badanku sakit semua.”
Emily menyentuh dahi Annabelle. “Kamu tidak panas sayang. Jadi ada apa dengan tubuhmu.”
Emily baru akan membuka selimut saat Annabelle sadar ada apa dengan tubuhnya. Setelah berenang berjam-jam kemudian bercinta berkali-kali dan berlari pulang kerumah tanpa berhenti wajar saja jika dia merasa tulang-tulangnya akan lepas.
“Tidak!”
Hacihhh….
Annabelle pura-pura bersin.
“Sepertinya aku hanya flu saja bi. Tolong sampaikan kepada tante Katelyn kalau aku tidak bisa kerja hari ini.”
“Ohh… Baiklah nak. Nanti aku bawakan sup untukmu agar kamu bisa segera baikkan.”
“Terima kasih bibi, kamu memang yang terbaik.” Annabelle tersenyum dengan sangat cerah.
Huuu… hampir saja aku ketahuan. Kalau sampai bibi Emily melihat bekas-bekas yang ditinggalkan Marco ditubuhku. Bisa habislah aku.
Setelah sarapan Marco pergi keruang kerjanya. Dan disana Marco kembali memikirkan Angel dan apa yang terjadi semalam. Dan tanpa bisa dikontrol miliknya ikut bereaksi.
Bagaimana aku bisa berkonsentrasi jika hanya wanita itu yang aku pikirkan. Marco berusaha untuk tidak memikirkannya. Tapi tanpa dia sadari dirinya malah beralih memikirkan Annabelle.
Tadi bibi Emily bilang Annabelle sakit sehingga tidak bisa ikut sarapan dan tidak bisa kerja. Apa sakitnya jadi tambah parah. Dan Marco kembali bereaksi saat memikirkan Annabelle.
Sial… ada apa dengan diriku. Aku rasa diriku sudah tidak normal.
Menginginkan dua orang wanita disaat bersamaan. Sungguh sangat berengsek dirinya sekarang. Padahal dirinya selalu memutuskan wanita yang satu jika ingin bersama wanita lainnya. Atau dia tidak akan menginginkan lagi wanita yang sudah bersamanya dan akan berpindah ke wanita selanjutnya. Tapi ada apa dengan dirinya sekarang. Dia bahkan menginginkan dua orang wanita secara bersamaan.
Dan dengan itu Marco memutuskan akan berolahraga saja.
Saat kembali dari ruang olahraga dirinya melihat Annabelle mengendap-ngendap dengan memakai pakaian yang sangat tertutup dan syal yang menutupi lehernya. Ada apa dengan wanita itu. Bukankah dia sedang sakit.
Annabelle mengendap-ngendap keluar dari kamar, dia tidak ingin bertemu Marco. Tadi dia berusaha bangun dari tempat tidur karena baru ingat jika handphonenya tertinggal di ruang kerja. Hari ini adalah jadwal dia menelepon papanya. Dan jika tidak dia lakukan papanya akan panik dan datang kemari.
Ya… begitulah papanya. Terlalu protektif terhadap anaknya.
__ADS_1
Saat berjalan mundur karena terlalu fokus pada bagian belakang Annabelle menabrak sesuatu yang keras dan berotot. Sial…
Tentu saja orang itu adalah Marco. Orang yang paling ingin dia hindari. Kemudian Annabelle berbalik ke arahnya.
“Apa kamu mencuri sesuatu?”
“Haa……”
“Jangan berpura-pura tidak tahu. Apakah kamu mencuri sesuatu?”
Kemarahan Annabelle tersulut. Tidak menyangka jika pertemuannya kembali dengan Marco malah disodori dada telanjang Marco dan kemudian di hantam dengan tuduhan seperti itu.
Tapi apa yang dia harapkan Marco kan tidak tahu kalau itu dirinya dan begitulah Marco saat bertemu dengannya selain menyulut kemarahannya dan sekarang juga menyulut gairahnya. Haruskah dirinya menuduhnya mencuri.
“Anda sudah gila ya. Memangnya apa yang aku curi.”
“Lalu kenapa kamu mengendap-ngendap?”
“Untuk menghindari manusia es seperti anda. Apa anda puas.” Annabelle akan pergi meninggalkan Marco.
Saat melewati Marco, Marco menarik syal Annabelle sehingga terlepas. Dan memperlihatkan tanda kissmark yang diberikan Marco semalam kepadanya.
“Wanita murahan jadi ini yang menyebabkan dirimu sakit. Karena bersama seorang laki-laki semalam.”
Annabelle menampar Marco karena perkataannya itu. “Anda tidak berhak menghina saya seperti itu. Kehidupan percintaan atau seks saya bukanlah urusan anda.”
“Hal itu urusan saya jika dirimu masih tinggal dirumah ini."
Annabelle mundur. “Anda bukan orang tua saya jadi jangan atur hidup saya."
Marco tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Tapi dirinya sangat marah saat mengetahui Annabelle bersama orang lain semalam.
Annabelle berusaha memukul Marco lagi agar menjauh darinya. Tapi Marco menangkap tangannya. Kemudian Annabelle mencoba lagi dengan tangan satunya. Tapi Marco juga menangkap tangannya. Kemudian Marco menindih dirinya ke dinding dan menjepit kedua tangannya diatas kepalanya. Dan Marco mencium Annabelle dengan ciuman kasar dan melecehkan.
“Tidakkkk…” Annabelle berusaha menolak karena tahu Marco berusaha menghinanya.
Tapi dirinya tidak kuasa menolak Marco. Dan akhirnya dia luluh dengan ciuman Marco.
Lalu tiba-tiba Marco menghentikan ciumannya. Dan berbisik dibibir Annabelle,“Wanita apa yang semalam baru bercinta dengan laki-laki lain kemudian sekarang luluh oleh ciuman laki-laki lainnya?” dan Marco melepaskan dan meninggalkan Annabelle disana dengan pertanyaannya tanpa menunggu jawabannya.
Annabelle hanya bisa menangis. Dirinya sungguh sial karena mencintai laki-laki itu. Dan saat ini dirinya membencinya. Tapi dirinya tahu itu bukan salah Marco karena Marco tidak tahu kalau laki-laki yang memberikan tanda itu adalah dirinya.
Marco kembali kekamarnya. Sia-sia saja dirinya berolahraga karena sekarang dia masih merasa tegang dibawah sana. Dan kali ini bukan disebabkan oleh Angel. Tapi disebabkan oleh Annabelle.
__ADS_1
Dirinya tidak lebih baik. Semalam bercinta dengan wanita satunya dan hari ini menginginkan wanita lainnya. Tapi wanita ini terlarang untuknya. Karena dia tidak akan memberikan
Annabelle senjata untuk menghancurkannya. Dia harus tahu tujuan Annabelle yang sebenarnya.
Annabelle kembali ke kamarnya dan menelpon papanya setelah mengambil handphonenya di ruang kerja tante Katelyn.
“Halo, Papa.”
“Annabelle, kemana saja kamu. Kamu telat 15 menit menelepon papa. Hampir saja papa memesan tiket pesawat untuk pergi ke sana.”
“Maaf, papa tadi Annabelle sedang ada sedikit kesibukan jadi terlambat.”
“Lain kali jangan terlambat ya sayang agar papa tidak mencemaskanmu.”
“Iya papa, siappp...”
Dan Annabelle terus mengobrol dengan papanya dan sekali-kali dengan mamanya juga. Walaupun ya papanya selalu merebut kembali teleponnya dari mamanya. Begitulah mereka sangat menyayangi dirinya. Dan jika bukan karena tekad bulatnya. Papanya tidak akan membiarkan dirinya pergi ke kota untuk bekerja. Karena itulah dia tidak ingin pulang tanpa hasil apa-apa setelah dengan keras kepala menentang papanya untuk bekerja di kota.
Annabelle jadi merindukan kedua orang tuanya dan intraksi mereka. Mereka sangat saling mencintai dan meskipun sudah menikah puluhan tahun hal itu tidak mengurangi rasa cinta mereka terhadap satu sama lain.
Hal itulah yang juga Annabelle inginkan untuk dirinya. Laki-laki yang akan bersamamya seumur hidup dan mencintainya selamanya. Tapi Annabelle tahu jika tidak mungkin hal itu akan didapatkannya dari Marco.
Annabelle memutuskan untuk berendam air panas saja untuk menghilangkan pegal-pegalnya dari pada memikirkan semua itu dan akan membuat dirinya bersedih lagi.
Setelah puas berendam air panas Annabelle turun kebawah untuk makan dan tidak lupa tetap memakai syalnya. Ingin Annabelle tidak turun tapi dia tidak punya pilihan. Dia tidak ingin nanti tante Katelyn ke kamarnya dan dirinya harus berbohong lebih banyak lagi pada tante Katelyn.
“Annabelle, apakah kamu sudah baikkan? Jika belum lebih baik tetap dikamar saja.” Sapa tante Katelyn saat melihat kemunculannya.
“Mama, yakin dia sakit dan tidak sedang membohongi mama?” saat Annabelle baru akan menjawab dirinya sudah didahului Marco.
“Kamu ini Marco, orang sedang sakit dipermainkan.”
“Bisa saja ma dia berbohong agar diberikan uang untuk berobat tapi nantinya dia gunakan untuk pergi bersama kekasihnya.”
“Cukup, Mr. Xavier. Saya sudah cukup mendengar hinaan anda. Maaf tante saya tidak berselera makan lagi, lebih baik saya ke kamar saja. Permisi.”
Dan dengan itu Annabelle berlari kekamarnya. Cukup sudah dia mendengarkan hinaan Marco. Sebelum pergi Annabelle masih sempat mendengar tante Katelyn memarahi anaknya.
“Marco, ada apa sebenarnya dengan dirimu? Mama tidak pernah mendidikmu seperti itu. Menghina orang lain apalagi di meja makan. Mama juga jadi tidak berselera makan lagi. Dan jika kamu tidak minta maaf sama Annabelle jangan bicara dengan mama lagi.”
Dan dengan itu Katelyn meninggalkan anaknya dan menuju kekamarnya.
Ada apa dengan anak itu. Apa yang salah dengannya. Katelyn tidak mengerti sebabnya.
__ADS_1
Jangan lupa like,love n komentnya. thx