
" bunda bilang..... rada harus menikah". ucap rada dengan tatapan kosongnya dan metap prof alex.
"benarkah?.... wah putra seperti kau akan berbesan..." goda prof pada pak sanjaya.
"ahhh benar kau lex, tapi siapa yang akan mau dengan putri ku ini yang kecil, badan kerempeng kaya bihun ini". goda pak sanjaya dengan mencolok dagu putrinya.
"ihhh papah jangan colek rara... rara bukan sambel balado..." rafa cemberut dengan tindakan papanya itu.
"ha ha ha ha ha " tawa pak sanjaya dan prof alex.
"sudah lah ini habiskan buah melonnya sudah itu minum obatnya". pak sanjaya meletakan obat-obat dari prof alex di atas meja kecil.
"pait"rada melihat dua biji obat di atas piring kecil dengan nada yang pelan.
"nggak pait ini, kalo pait liat muka prof aja". canda pak sanjaya
"anakmu mana mau minum obat kalo liat muka ku, bukanya manis malah nambah asem dia". jawab prof dengan gelak tawanya.
"Hahahahhha" kamar inap rada bergebang dengan tiga orang yang berada di dalam.
di sebuah perusahan the company wijaya
rendy berjalan dari depan pintu lobi menuju lift
dengan penampilan rendy menambahkan kesan karisma dan gagah padanya.
bagaimana tidak dengan jas di buka dan kemeja di gulung sampai siku serta jangan lupa dua kancing atasnya yang biarkan terbuka membuat para karyawan ciwi-ciwi terik.
"gila pak rendy genteng banget...." ucap karyawan dengan jumlah mantan 123 orang.
"iya.... aduhh pah klo bukan boss gw culik ke hotel juga nih..." jawab karyawan lainnya.
rendy yang hanya melewati mereka hanya menatap ke delan dengan datar. dia merjalan dan masuk kedalam lift khusus dirinya.
di dalam lift dia hanha sendiri, melihat pantulan dirinya pada dinding lift tersebut.
__ADS_1
'siapa...?'
'apa aku menyerah dan berheti'
rendy menunduk kepalanya dan melihat kedua Sepatunya tersebut.
'filosofi sepatu'bilaa bukan ukuranya jangan paksa untuk memmakainya, karna itu kan menyakitkan suatu hari nanti.
TING
rendy berjalan menuju ruangannya dengan tatapan datar kedepan. dia menghiraukan wiliem yang berada di depan ruanganya.
"kenapa tuh anak kadal?, nggak biasa dia nggak nendang bokong gw". ucap williem yang melihat rendy dengan tatapan lesu.
tok tok
"masuk" jawab rendy setelah mendegar ketokan pintu di depan ruangannya.
"kenapa ren?" tanya wiliem dengan melihat rendy sedang menatap cendela yang memperlihatkan ibu kota yang ramai.
"ada apa sama loh, nggak biasa loh lemes, belom di semangit ayang yah" canda wiliem.
rendy tidak menjawab candaan wiliem, karna dia merasa lesan dengan semha ini.
"loh ada masalah?". tanya wiliem
"hummmm". saut rendy
"apa". tanya lagi wiliem.
"nggak". ucap rendy,.lalu berdiri dari kursinya.
"apa jadwal gw usah ini?" tanya rendy dengan tagapan tajam.
"jam dua loh ada pertemuan sama pak iyan di hotel xx terus pulanngya cek di lapangan tentang pembangunan danau di dekat taman Zz" jelas wiliem dengan lantang.
__ADS_1
"ok, kalo gitu loh bisa balik ruangan loh". saut rendy.
"oky" wiliem meninggalkan rendy.
'gw tau loh lagi nyembunyian sesuatu ren, tapi gw percaya loh juga mampu melewatinya'
wiliem merasa rendy menutupi sesuatu padanya.
di kamar inap rara
"put aku pulangnya, kayanya rada sudah baik baik saja". pamit prof alex.
"ohh oky, mau kuantat sampai depan?". tawar pak sanjaya.
"hummm bolehlah...."jawab prof dengan lirikan mata.
"nak papah antar prof ke depannga..." ucap pak sanjaya.
"iya pah...."jawab rada.
"om pamit ya...." ucap prof pada rada.
"makasih ya om" jawab rada dengan senyuman.
"sama-sama". ucal prof dengan menyentuh ubun-ubun rada.
ketika prof alex dan pak sanjaya keluar dari kamar inap rada.
"kau mau apakan anak curut tadi?". tanya prof pak sanjaya.
"ada saja, kau tinggal liat dan amati dia". ucap pak sanjaya dengan senyum titipnya.
😍😍😍😍😍 jangan lupa jempolnya bunda...
__ADS_1