
"bi nanti pas meeting papa sama bibi ada kan?". tanya rara dan melihat berkas-berkas yang telah dia pegang.
"mungkin..." jawab bi ajeung.
"bibibi......." keluh rada.
"iya ada dong neng dan nanti meetinya sambil ada pengalihan nama". tutur bi ajeung.
"buat?". tanya rada.
"bibi juga nggak tau ya sudah rara udah mengerti belom sama projek itu?". tanya bibi.
"udah". jawan rada.
Rada sekarang tumbuh menjadi gadis yang baik dan mudah tersenyum. sekarang dia menginjak usia ke 22 tahuan dia merupakan lulusan terbaik di negara Q karna kepintaran yang diterima dari papa tercinta dan paras cantik dari ibu yang telah tiada. banyak sekali orang-orang ingin menjadikan rada kekasih bahkan istri mereka. tapi pak sanjaya ingin putrinya bahagia dengan caranya dia tidak akan mencapur usrusan asmara putrinya birkan putrinya mencari titik yang dimana kan mengubah kehidupan selanjutnya.
"oke kalo gitu". jawab bi ajeung dan menunjukan jempol kananya di hadapan rada.
"asiap oke bi kita berangkat". ajak rada.
"oke ayo.... aduh... ra perut bibi sakit bibi ketoilet dulu yaa kebelit ini rada ke ruangan rapat aja dulu nanti papa nyusul". ucap bibi dan belari ke toilet terdekat.
"oke biii. bi Janga lupa cebokkk..." ucap rada dan belari ke ruang rapat.
"iyaaa...." jawab bibi.
"Hahaha bibi ini masih pagi tapi udah kebelet pasti malem makan nasi goreng pak agus itu yang didepan gang". ucap rada.
"ini projek ko nggak ada laporan dananya tadi mau tanya lupa apa tanya papanya. terus ini projek nggak ada alamatnya nggak ada tanggal berapah dibuat kapan targetnya siapa otaknya alias pemimpinnya?". tanya rada pada kertas yang dia bolak balik.
__ADS_1
"koo aku curugu ehhh curigaa yaa apa ada udang dibalik bakwan dibalik batu raa... woyooo ngomong mu peye tohh raaa gelantur ngulon ngarol ngidul wetan". tutur radan dan memamusi liaf.
"lantai 4 rara combek". ucap rara didalam lift
RUANG RAPAT KANTOR THE COMPANY WIJAYA.
"Asslammualikum". ucap rada saat memasuki ruangan.
"Wayooo ko sepi iki kantor opo kuburan". ucap rada saat memasuki ruangan rapat.
"bodo ahhh". ucap rara dan duduk di salah satu bangku yang dekat dengan papa didepan.
"ini projek ko bingung yeee bikin rara pusing".
"kenapah nak". ucap pak wijaya dan melihat anaknya yang berbicara sendiri.
"ini loh pahh...."
"selamat pagi tuan nona". ucap salah satu karyawan.
"pagi silakan kalian tunggu". ucap pak wijaya dan duduk di kursi khususnya.
"terimakasih tuan". jawab salah satu karyawan lagi.
"selamat pagi tuan sanjaya". ucap seorang saat memasuki rungan rapat.
"selamat pagi silakan duduk". jawab pak sanjaya dan menyambut jaba tangganya.
Rada sangat fokus dengan berkas ditangannya sampai tidak tau bahwa hampir semua orang melihat kepadanya.
__ADS_1
"selamat pagi tuan sanjaya senang bertemu dengan anda". ucap seorang dan melihat rada yang masih fokus dengan kertasnya.
"selamat pagi tuan rendy". ucap pak sanjaya.
"panggil saja rendy pak". jawab rendy.
"saya tidak enak karna tuan rendy lebih sukses dari pada saya". tutur pak sanjaya.
"malah saya yang tak enak. saya sampai dengan posisi ini juga berkat Bapak juga". jawab rendy.
"ya sudah nak rendy silahkan duduk". suruh pak rendy.
"AHHHH PAAHHH RARA TAU". terik rada bangun dari kurisnya dan membuat seisi ruangan kaget dengan suaranya. apalagi bi ajeung yang baru saja tiba.
"rara kenapah berteriak". ucap pak sanjaya dan mengelus dadanya.
"maaf pahh rara reflek..." tutur rada dan tunduk menghadap kebawah.
"ya sudah tak apah... lain kali jangan seperti itu lihat kamu bikin satu ruangan kaget". ucap pak sanjaya.
rada melihat satu rungan dan benar semua orang melihat kearahnya.
"maaf semuanya rara reflek maaf sekali lagi maaf". ucap rada dan membungkuk 25 derajat.
"ya sudah tak apa anak ajeung bisa kita mulai meetingnya". tutur pak sanjaya karna melihat anaknya yang terus menundukan kepalanya.
"bisa tua". jawab bi ajeung.
"sudah rara duduknya nantikan maju nak". ucap pak sanjaya.
__ADS_1
"iya pahh". nurut rada dan duduk dekat dengan pak sanjaya.