Mungkin Ini Yang Terbaik

Mungkin Ini Yang Terbaik
BAB 7


__ADS_3

rara sedang bersiap untuk berangkat ke kantor papanya. perusahaan pak sanjaya memang tak sebesar perusahaan yang lain tapi perusahaan pak sanjaya bekerja sama dengan pemerintah dan mempunyai investasi disalah satu perusahaan terbesar dinegara Q.


"Asslammualikum papa. Good morning." sapa rara saat duduk dekat pak sanjaya.


"Walaikum salam. pagi sayang". jawab papa.


"nak rara mau ikut tuan?". tanya bi mina saat meletakan makanan di meja.


"iya..". jawab rara.


"pantesan udah cantik dan wangi". canda bi mirna.


"jadi rara kemaren nggak canti nggak wangi gitu.hummmmmm". komen rara.


"kan biasanya nak rara mandi kalo mau sholat zuhur atau mau main sama neng sofia". jawab bi mirna.


"iya juga ya. yaa nggak papah bi kan nggak ada bujang disinih". jawab rara dengan memamerkan giginya.


"HAHHHHHH". tawa bi mirna dengam rara. pak sanjaya hanya melihat saja tingkah anaknya dengan asisten rumah tangganya.


"sudah ra makan cepetan nanti keburu macet". suruh pak sanjaya pada rara.


"aciap pak". hormat rara.


sikap rara sangat berbeda bila di rumah dan diluar. bila dirumah dia akan menjadi anak yang manja dan ingin diperhatikan tapi beda lagi bila dia diluar dia akan seperti boss mafia tatapan yang tajam dan garang bila diluar dia ingin membereskan masalahnya dengan sendiri tanpa bantuan papanya atau siapa pun itu.


"ayo pak kita berangkat". suruh rara pada pak ujang sekaligus suami bi iyam.


"ayo neng". seru pak ujang.


pak ujang telah menggangap rada seperti anaknya. pak ujang menyetir mobil pak sanjaya duduk di samping pak ujang dan rada duduk sendiri dibelakang dengan tas nya.


"pak nanti rara ngapain dikantor papa masa tidur doang". ucap rada.


"nanti kamu juga tau. ohh ya nanti kamu pimpin rapat sama salah satu anggota kamu jelaskan projek papa pada mereka". ucap pak sanjaya.


"terus?". ucap rada.

__ADS_1


"nanti sama bi ajeung dikasih berkas-berkas yang terkait".ucap pak sanjaya.


"ohhh okey". ucap rada dan mengangkat jempolnya.


"oh iya neng kemaren malam neng dianter sama siapa?". ucap pak ujang.


"dianter siapa kamu ra?". tanya papa.


"dianter orang pah... kan ditoko pertinggan hujan tuhh ya rara neduh terus mana gelap lagi disanah rara cari orang buat ajak ngobrol eh ada orang lagi maen hp terus sama rara ajak ngobrol. tadinya dia mau pulang duluan tapi rara takut terus rara nanya boleh numpang nggak ke depan sama dia boleh ya udah rara naik". jawab rara dengan pajangan kali lebar.


"lain kali kalo kitu diem aja nggak usah numpang sama orang yang baru dikenal kamu nggak tau itu orang baik apa nggak. dan satu kalo hujan meninggan balik lagi aja ke rumah sofia. denger rara". suruh papa.


"iya pah rara minta maaf". ucap rara dengan menundukan kebawah.


"ya sudah tidak apa ini sebaik pelajaran buat kamu karna kamu anak perempuan gadis papa satu satunya". ucap pak sanjaya dan mengelus rambut putrinya.


"iya pahh..." jawab rara.


KANTOR THE COMPANY SANJAYA.


"selamat padi dan selamat datang tuan wijaya non rada". sambut para karyawan.


"selamat pagi kembali tuan terimakasih". jawan para karyawan.


"pak wijaya selamat pagi dan non rada selamat datang dikantor". salam bi ajeung.


"salam ajeung gimana kabar hari ini apa ada kendala". tanya pak sanjaya.


"bibi..... rara kagen bibi munnnnnnn". rada lari kepelukan bi ajeung.


"bi juga kagen sama rara kagen ngombalin abang abang hihihiji..." canda bi ajeung.


"iya bi rara jadi inget sama abang abang didepan kantor yang jualan bubur". ucap rada dan mengingat pada penjual tukang bubur.


"iya neng sampe sekarang bibi nggak lihat lagi dia mungkin baperan neng". timbal bi ajeung.


"sudah kalian ini kalo sudah bertemu seperti teman smp yang lagi reuni saja". ucap pak sanjaya yang melihat keakraban sekretaris dan anaknya.

__ADS_1


"ehh papa maaf ya pahh..". rayu rada pada pak wijaya.


"iya ya sudah mari ajeung kita keatas 20 menit lagi meeting dan dimulai". mari pak.


bi ajeung adalah teman kuliah pak sanjaya saat mereka menempuh ilmu. meskipun begitu keduanya tidak menaruh perasaan karna bi ajeung telah menikah saat kuliah dan pak wijaya yang harus mengajar S2 nya di Amerika Serikat. pak sanjaya percaya pada bi ajeung menjadi sekretarisnya karna kemampuan dia dalam ilmu ekonomi dan akutansinya.


RUANGAN PAK WIJAYA.


"Asslammualikum". ucap rada saat memasuki ruangan papanya.


"Walaikum salam". jawab pak sanjaya dan bi ajeung.


"wahhh nggak ada yang berubah" ucap rada dan melihat ruang papanya.


"lihat foto rara masih aja ada" tunjuk rada pada fotonya.


"iya neng bapak nggak mau mengubahnya sama sekali". jelas bi ajeung.


"berarti baju rara ada dong?". tanya rada.


"masih ada neng di ruangan ganti". ucap bi ajeung.


"asikkk...." girang rara


"ko asik?". tanya pak wijaya dan duduk di salah satu sofa di ruang tersebut.


"iyalah kalo masih ada rara nggak perlu repot beli atau pake punya bibi kalo misalkan baju rara kotor". ucap rara.


"ohhh kirain apa. neng ya sudah sinih ikut bibi kita belajar bisnis". ajak bibi.


"yahh bibi mah nggak kuliah nggak dirumah tambah kantor papa belajar terus mana bisnis belajar tuh jadi istri idaman binti solehan gitu dong bi". cemberut rara.


"yaa itu mah rara aja belajar sendiri". suruh bi ajeung.


"ya udah papa anakmu yang manis pelus cantik bin aduhai mau di bawa sama bibi cantik bin montok dulu. dadah papa munccchh". pamit rara pada pak wijaya dan mencium pipi papanya.


"iyaaa". pasrah pak wijaya.

__ADS_1


"mari pak". pamit bi ajeung.


"silahkan". jawab pak wijaya.


__ADS_2