
sejak hari ini raina mengetahui banyak tentang ayahnya, amarah yang tersimpan seolah menggumpal menjadi dendam malam telah pun larut dengan kepekatan gelapnya, rania tetap saja belum bisa memejamkan matanya, seolah gejolak hatinya ingin mencakar tubuh ayahnya yang telah menyakiti dirinya dan bundanya, entah kenapa rasa bersalah menyelimuti dirinya, dia begitu rasa bersalah dengan bundanya yang diangapnya selama ini melupakan dirinya, tapi hakikat sebenarnya tidak begitu, tiga hari bersama bundanya dia melihat sikap yang begitu lembut ditunjukkan bundanya kepada dia, seolah dia juga menyimpan amarah kepada bibinya yang kadang suka menghasut bundanya itu, tapi dia memang belum menanyakan kepada bundanya, apakah benar bundanya setiap bulan mengirimi dia uang atau hanya sesekali saja, tapi dia sudah menjadi remaja yang bisa berpikir agak logis tentang sikap seseorang, dari cara bunda berbicara, melayan kehendakknya dan merawat anak anak nya terlihat memang seorang yang lembut dan ikhlas, dia rasa bersalah menilah bunda karna hanya mendengarkan ucapan dari bibinya itu, ya bibinya itu memang sayang kepada dia tapi satu sisi bibinya juga memanfaatkan dirinya, sikap bibinya yang arogan membuat dia terikut dan terbawa suasana, lagi lagi didikan yang keras memang dia dapat kan dari bibinya itu, seandainya dia tumbuh dewasa dengan didikan bunda pastinya dia tidak sehancur sekarang, dia mengingat dirinya yang suka berjoget di klub malam bersama teman temannya menghamburkan uang, dan berpacaran sedikit terlewat batasan, pergaulan dia sangat lah terbilang bebas, walaupun pengawasan bibinya ketat untuk dia, tapi bibinya bukan seorang yang bisa dicontoh kebaikannya, hanya mulutnya saja yang bising bising dan selalu meneriaki rania jika dia sudah pulang dari klub malam, walaupun begitu rasa syukur masih dipanjatkannya, karna aulisa memotivasi dirinya agar bisa move on dan memulai kehidupan di tempat yang jauh dan berkumpul bersama ibunya membuat dia sedikit lega dan terasa nyaman, lama sudah dia menantikan belaian dan kelembutan seorang ibu, rasanya setiap disekolah dia iri melihat teman temannya kalau mengambil raport yang datang kedua orang tuanya sedangkan dia hanya seorang bibi nya, dia iri dengan keadaan itu, menutup kesedihan hatinya dia menjadi seorang yang sedikit arogan seolah sikapnya itu menunjukkan dia bisa kuat menahan sesak yang ada didadanya, dengan berjoget di klub malam, bersenang senang dan menghamburkan uang membuat dia lupa dengan tuhan yang mempuanyai dunia dan isinya, dia hanya anak yang kurang kasih sayang dan didikan orang tua,dia pikir nasib nya itu begitu malang, tapi setelah dia mendengar cerita bunda dia menjadi iba dan berpikir bundanya begitu kuat, dalam kesusahan apapun bundanya tidak melupakan tuhan dan dirinya, sekarang wajar saja bunda mendapatkan balasan dari tuhan dengan mempunyai suami dan tiga orang putra yang begitu menyayangi nya dan mengasihinya, apa rania akan mencintai adik adiknya setelah dia luluh dengan sikap bunda?? seolah antara hati dengan diri nya berbicara, saling melontarkan jawaban, harus seperti apa sikapku kepada adik adik ku (rania berbisik kepada nurani nya,) nurani nya menyahut dengan penuh kasih "rania bersikaplah sebagai seorang kakak yang baik dan bijaksana, maka kebahagiaan akan menghampirimu" ( seolah nurani adalah penasihatnya) "yahh... aku harus mencintai adik adikku karna selama aku hidup seperti sepatang kara walaupun ada kak tia,tapi perempuan itu sangat jarang tinggal dirumah dia banyak menghabiskan waktunya di kampus dan pekerjaanya, sehingga rania memang kurang perhatian dari siapapun, malam itu rania mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya agar sejalan meluruskan niatnya untuk mencintai bunda dan adik adiknya, menganggap ayah seperti ayah kandungnya dia masih sedikit berat, karna dia belum tahu bagaimana cara menyadap berkomunikasi yang baik dengan ayah, dia pun sedikit sulit berbahasa melayu jadi masih harua banyak belajar dengan bunda ataupun aulisa, mengingat aulisa dia sangat senang karna aulisa menyatukan dia dengan bunda dan memulai hubungan hangatnya bersama bunda, ya temannya itu memang pandai menyatukan orang dengan caranya yang ramah dan iklas dalam pertemanan, syukurlah dalam hatinya bunda mengizinkan dia bertemu dengan aulisa minggu depan, dia tidak terbayang seperti apa tubuh dan wajah temannya itu dilihat dari dekat bukan dari camera ponsel, waktu vidio call tadi siang terlihat pipi aulisa sedikit cabi mungkin karna dia bekerja direstaurant selera makannya bertambah itu membuat pipinya terlihat cabiii, pikirannya sedikit tenang mengingat minggu depan dia akan bertemu aulisa teman baik nya itu, seperti biasa sebelum tidur dia pati memasang hansfree ditelinganya dengan volume yang kuat tapi kali ini lagu pop yang dia putar yang biasanya lagu lagu dj pavoritenya itu, hampir saja matanya terlelap pikirannya terbang melayang dan ruh nya hilang dari dirinya tak lama dia terkejut ada yang mencium pipinya, dia membuka matanya ternya bunda yang mencium pipinya dengan hangat dan mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, mendengar sentuhan dan ucapan lembut itu tiba tiba pipinya basah dengan tangis haru, dia tidak pernah mendapatkan sentuhan seperti itu, hatinya semakin sesak menahan isak tangis kerinduan, begini ternyata mempunyai kasih sayang seorang ibu, tangan nya tiba tiba merangkul pinggang bundanya yang duduk di pinggir tempat tidur nya, bunda pun hanyut oleh pelukannya, bunda ingin menemankan rania tidur malam ini, karna dia sudah lama tidak tidur bersama putri semata wayang nya ini, bunda meminta izin kepada ayah agar tidur bersama rania, ayahpun tahu hati bunda, bunda merindukan sosok anak gadisnya itu, ayah memakluminya dan mengizinkan bunda tidur bersama rania, "apakah Bunda boleh tidur dengan kakak malam ini? (tangan bunda sambil menghapus air mata dipipi rania) rania hanya menganggukkan kepalanya dan semakin erat dia memeluk bundanya itu, dia melepaskan hansfreenya dan mematikan ponselnya seolah tidak ingin diganggu oleh siapapun malam ini, diapun benar benar merindukan bundanya ini, "apa ayah tidak marah? " rania bertanya begitu polosnya, emangnya dia pikir ayah nya itu seperti ayah nya yang kejam) "bunda tersenyum menjawabnya, sayang ayah yang menyuruh bunda untuk nemanin kamu malam ini, dia dia ingin kamu memeluk bunda malam ini, ayah tahu kamu merindukan bunda begitu juga dengan bunda sangat merindukan kamu, akhirnya setelah waktu yang sulit dan panjang kita berdua bisa tidur satu tempat tidur, memeluk dan saling mencintai, kamu putri ku, dan selamanya akan menjadi putri ku, tidak ada yang boleh lagi menyakitimu, kita akan selalu bersama, sekarang kakak telah menjadi gadis yang cantik dan baik, kakakpun mempunyai tiga orang adik laki laki, sayangi mereka dengan lembut dan cintai mereka dengan kasih, mereka pasti akan mencintai kakak lebih dari Apapun, malam ini bunda doakan kakak bahagia sampai bila bila
cup cup cup ciuman dikening dan pipi kanan kiri rania(mereka pun berpelukan sambil memejamkan mata).