Muntaber (Mundur Tanpa Berita)

Muntaber (Mundur Tanpa Berita)
mimpi buruk rania


__ADS_3

senin ini membuat hati bunda lega, seolah keluarga mereka lengkap,bunda seperti biasa anak anak pergi kesekolah dan ayah pergi ke office nya, bunda pun seperti biasa nya membersihkan tempat tidur,rumah,mencuci baju, melipat kain tidak habis habis pekerjaan rumah bunda kerja kan, jam menunjukkan pukul setengah 11 tiba tiba bunda mendengar suara jeritan,jeritan itu berasal dari kamar rania,bunda berkali kali mengetuk pintu dan menggedor gedor pintu, tapi pintu masih saja tidak terbuka, bunda berinisiatif mengambil kunci serap pintu itu dia mencari nya di laci kamar nya, terus saja dia mendapat kan kunci kamar itu dan cepat dia membuka pintu kamar rania, dia melihat rania masih menutup matanya namun tangan dan mulut nya seolah olah seperti orang tercekik bunda cepat cepat menyadarkan tidur rania, dan bunda cepat mengambilkan nya minum, rania terduduk dengan nafas ngos ngosan dan ketakutan, entah apa yang dia mimpikan sampai suara jeritan nya begitu keras bunda hanya mengusap ngusap belakang rania dan menyodorkan minuman untuknya, rania minum sedikit dengan ngos ngosannya, sedikit demi sedikit rania tenang bunda memberi nasihat lembut, "mungkin kakak lupa berdoa tadi malam, lain kali kalau kakak tidur baca doa ya nak.. dia mengusap kepala rania dengan lembut" rania masih saja diam, lalu dia tiba tiba meminta bunda mengambilkan handuk, bunda pun menuruti keinginanannya, dia mengambilkan handuk untuk rania, tiba tiba dia tercium bau bau gosong ehh dia baru ingat dia tadi menggoreng ayam untuk makan siang nanti, dia cepat cepat berlali kedapur lagi, tidak lupa mengucap maaf harus meninggalkan rania sendiri ditempat tidur nya, setelah bunda kembali kedapur untung saja hangusnya tidak terlalu banyak, masih enak enak gitu lah heheh" rania pun dengan lunglai melangkahkan kaki nya, dia beranjak dari tempat tidurnya,rasanya dia ingin membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang dingin dan segar,mimpi itu benar benar menguras tenaganya luar dan dalam, bunda tersenyum manis melihat rania keluar dari kamarnya untuk mandi, tidak lupa menawarkan shampo yang ada di lemari stock nya di menunjukkan lemari itu kepada rania, seolah olah bunda sudah tau kalau rania ingin shampoan " kak rei.. itu kalau mau shampoan ambil daha dilemari stock ya nak.. " rania tidak menjawab tapi jawaban ada di langkah kakinya yang menuju ketempat itu dan dia mengambil shampo yang berbau lemon, lalu langsung saja dia masuk kekamar mandi dan memanjakan tubuhnya dengan air dingin yang menyegarkan, ting ting ting tong ting ting ting (deringan mesin cuci menandakan sudah selesai tugas mesin itu) bunda pun membiarkan nya sebentar setelah masakan nya sudah masak bunda mematikan api kompornya, lalu dia beralih kecucian yang sudah menunggunya untuk dijemur, satu persatu dia dengan telatennya mengeluarkan baju dari mesin cuci dan siap untuk menjemurnya, dengan sabar bunda menjemur pakaian pakain itu, rania selesai mandi tiba tiba dia merasa iba dihatinya melihat sosok ibunya sekarang ada didepan matanya, dia memandangi tubuh ibunya dari belakang sebelah dapur itu dipasang knopi untuk tempat menjemur pakaian, lama rania terpaku memandang ibunya, dia mencoba mendamaikan hatinya, tapi dari mulutnya sangat susah memulai perkataan lembut untuk ibu kandungnya itu, seolah ibunya adalah orang asing baginya, sangat sulit untuk memulai percakapan, tiba tiba bunda berbalik arah rania terkejut, dan wajahnya sedikit memerah entah kenapa dia seperti malu karna ketahuan mengintip bundanya, dia masih ragu untuk beranjak, " udah siap mandi kak rei? " apa kak rei lapar, bunda udah siap masak" bunda dengan hangat menyapa nya, dia masih dengan senyum tipis nya cuma menjawab "m.. ehmm eh belum bun" itu saja yang keluar dari mulutnya, lalu dia melangkah kembali ke kamar nya, bunda tersenyum melihatnya mau menjawab pertanyaan bunda walaupun masih sedikit, bunda berencana selesai mengemaskan rumah dan menata meja makan, dia berinisiatif masuk kekamar rania dan mengobrol, supaya anak gadisnya itu tidak canggung terhadapnya, dia ingin rania menganggapnys sebagai ibunya kembali, apapun usaha pasti dilakukannya, semua dengan cepat terbereskan, jam menunjukkan pukul 11 tepat bunda mengetuk pintu rania, pintu itu ternyata tidak terkunci, bunda masuk kedalam dan terlihat rania sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunda menawarkan nya memakai hairdrayer kepunyaan bunda, bunda pun mengambilkan hairdryer itu lalu menolong rania mengeringkannya, rania terdiam dan hanya menundukkan kepalanya, dengan lembut bunda membuka celah celah rambut rania, dan bunda bertanya dengan pelan, tadi kak rei mimpi apa sampai bunda mendengar jeritan" bunda memecahkan kebisuan antara mereka, dan mencoba untuk lebih akrab dengan anak kandung nya sendiri, sedikit demi sedikit raina mau berbicara kepada ibunya dia menceritakan mimpi buruknya, dia bermimpi kekasih nya direbut oleh teman dekat nya lalu dia dan temannya berantam dengan hebat temannya mencekik leher nya membuat rania hampir kehabisan nafas, mimpi itu membuat dia teringat kembali dengan kekasih brengs*k nya itu, dia sangat muak mengingat kejadian kejadian itu, tiba tiba dia teringat oleh aulisa teman yang membuka pikirannya untuk datang ke negara ini, tapi dari mana dia harus memulai perkataan dengan bunda supaya bisa mempertemukan nya dengan temannya itu, bunda pun tidak mengenal aulisa, apa bunda akan mengijinkannya, dia masih berpikir dalam lamunan nya, bunda sudah siap mengeringkan rambutnya, bunda memberinya nasihat" jika teman kakak tidak baik, dan kekasih kakak tidak baik tinggalkan mereka, jangan mau berteman dengan penghianat, nanti pasti kakak ditemukan dengan teman yang lebih baik lagi" mendengar nasihat itu rania sontak saja membuka suara lagi " ada satu bun,dia mengerti aku, dan kami cukup dekat" habis perkataan nya disitu bunda langsung menayakan dimana teman baik nya itu sekarang berada" seperti ada sedikit peluang baginya untuk memberitahukan kepada bunda " dia bilang dia berada di negara ini, daerah rawang" (rania memberitahukan kepada bunda keberadaan aulisa) " ohh rawang, kalau dari sini kak sejam lebih lah, dia bekerja disini atau ikut dengan keluarganya? "rania" dia bekerja direstaurant bun, sudah setahun dia disini' bunda terkejut sudah setahun,, berarti temannya itu begitu lulus langsung pergi kenegara ini untuk bekerja, bunda tampak berpikir perempuan itu sangat berani kenegara ini untuk bekerja dengan usia nya yang sangat muda, tiba tiba rania memecahkan lamunan bundanya " rania" bun, kenapa bunda diam? bunda jangan berpikir aneh aneh tentang aulisa, dia perempuan yang baik, dan cukup pandai di sekolah, dia pun seorang yang mandiri, seolah rania menebak apa yang dilamunkan bundanya, "bunda" bunda langsung menyanggah perkataan rania, "bukan begitu kak bunda cuma heran, kenapa dengan usia sangat muda aulisa sudah berani merantau, apa orang tua nya sangat susah, tapi yang bunda tahu sekolah smk mereka sekolah yang cukup elit di kota medan, tidak mungkin orang yang tidak berkemampuan bisa masuk kesekolah itu, "rania" dia bukan orang susah bun ya ayah nya seorang pengusaha telur di kota medan, dan perternakan mereka juga banyak, dia kesinipun tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, " mendengar itu bunda terkejut keluargs aulisa tidak tahu anaknya merantau sejauh ini, tapi belum melanjutkan perkataannya lagi tiba tiba.. ting tong ting tong (suara bel rumah menghentikan percakapan mereka)


__ADS_2