My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 10


__ADS_3

Hari kedua untuk Arventa latihan bersama Geo, namun suasana tak sehangat awal pertemuan latihan dikarenakan kesalahan Arventa sendiri, menurut cewek itu. Berulang kali Geo menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi, bukan Arventa namanya jika tidak keras kepala.


"Gue gak papa, Vent. Kita lanjut latihannya lagi," putus Geo tidak ingin membahas permasalah kemarin karena dirinya sudah melupakan itu semua.


Di sisi lain, Glady menghampiri Rejav yang tengah makan bersama Japra dan Aksa disambut tidak baik oleh ketiga cowok tersebut. Buktinya adalah, mereka bertiga enggan menatap Glady yang sangat berani duduk di samping Rejav.


"Rejav, aku mau kita balikan," sebuah kalimat mengejutkan Rejav hingga es teh yang ia minum tersembur ke muka Japra.


"Sorry, Jap. Spontan," maaf Rejav, dan Japra memakluminya dengan lapang dada.


Tak mendapat respon dari Rejav, dengan nekat Glady mengecup pipi Rejav di depan umum tanpa peduli dengan tatapan junior-senior yang ada di tempat tersebut, sedangkan Rejav mengusap pipinya dengan jijik.


"Najis dah, pipi gue," kesal Rejav kemudian menatap sinis Glady.


"Lo harus denger jawaban dari gue. Gak akan pernah!" bentak Rejav di akhir kalimat dengan tekanan yang luar biasa menakutkan, apalagi diiringi dengan bunyi gelas yang pecah akibat tangan yang menggebrak meja.


Tentu membuat Glady terkejut dan ketakutan, sambil menunduk, Glady melangkahkan kakinya meninggalkan kantin tanpa menatap muka Rejav karena takut. Rejav sendiri menggeram frustasi, dirinya tak habis pikir dengan otak Glady yang mulai gila, cowok tersebut berpikir bahwa, apakah cewek itu tidak punya harga diri? Datang hanya untuk pergi yang kedua kalinya? Tentu saja Rejav mengucapkan kata 'maaf' karena ia tidak bodoh untuk jatuh ke dalam lubang yang sama.


"Widih, romantis banget mereka berdua, sialan tuh Geo malah mulai duluan dibanding Rejav," ujar Japra sambil geleng kepala dan membuat Rejav penasaran dengan apa yang diucapkan Japra terkait dengan dirinya.


"Tentang apa sih?" Tanya Rejav.


Japra menunjukan layar ponselnya, dan terputarlah video yang berdurasi 30 detik dimana Arventa bernyanyi dan diiringi oleh Geo.

__ADS_1


"Apa urusannya sama gue?" Tanya Rejav sedikit nyolot.


"Ya elah, lu, pasti ada urusannya lah. Lo itu harus suka sama Arventa biar bias move on, lo harus percaya sama pilihan sahabat lo untuk diri lo sendiri, demi kebaikan cuk," Japra berusaha membuat Rejav jatuh cinta dengan Arventa karena mereka tidak ingin apa yang terjadi di masa lalu terulang kembali.


"Ngaco, lu, Arventa bukan tipe gue," balas Rejav dengan nada ketus.


Aksa dan Japra sangat gemas, ingin rasanya mereka mencakar dan menjambak Rejav yang begitu cuek, dingin, dan keras kepala, kira-kira apalagi julukan Rejav selanjutnya setelah ini? Aksa dan Japra menantinya.


Akhirnya, Arventa dan Geo selesai latihan, sebelum keluar dari ruangan mereka sempat ditugaskan oleh Fadli untuk membersihkan, mau tidak mau mereka harus patuh.


Di sela menyapu, Arventa sedikit risih dengan tatapan Geo, namun cewek tersebut pura-pura tidak tahu. Ia ingin menegur langsung tapi dirinya terlalu takut, takut jika Geo marah.


Dalam hati Geo, berates kali ia mengucapkan kalimat pujian kepada Arventa yang sangat cantik di matanya, sejak awal pertama Arventa masuk dalam organisai K.O dirinya langsung jatuh dalam cinta pandangan pertama.


"Lo, cantik," entah dari mana Geo mendapat keberanian tersebut untuk mengutarakannya secara langsung, cowok tersebut bangkit dari duduknya dan mendekati Arventa untuk meneliti setiap inci kecantikan wajah pujaan hatinya.


Arventa sendiri, spontan mundur karena dirinya terkejut mendengar pengakuan langsung dari Geo, seketika ingatan akan dirinya yang harus move on begitu terbayang. Menurut Arventa ini adalah waktu yang tepat.


"Serius, lo?" Tanya Arventa dan Geo mengangguk tulus.


Arventa menghela napas, dirinya menghapus pikiran tersebut, tidak baik mempermainkan perasaan seseorang hanya untuk kepentingan diri sendiri karena ia sudah tahu bagaimana rasanya.


"Maaf, gue gak bisa balas rasa suka lo sama gue," sungguh menyakitkan, namun itulah yang harus Arventa ucapkan daripada memberi harapan palsu ke Geo.

__ADS_1


"Gue bakalan bikin lo suka sama, gue," balas Geo.


Geo yakin, sangat yakin bahwa ia mencintai Arventa. Dirinya juga selalu berjanji bahwa ia akan membuat Arventa membalas cintanya, walau menghabiskan waktu yang lama.


"Gue gak mau, gue gak mau ngasih seseorang harapan karena gue takut, takut membuat seseorang terluka dan menciptakan karma untuk diri gue sendiri," tolak Arventa mentah-mentah, sungguh, pilihan cewek tersebut sangat tepat.


Geo tersenyum miris, dirinya mengangguk kepala pertanda mengerti dan tidak ingin memaksakan kehendak perasaannya sendiri karena dalam sebuah hubungan sangat menyakitkan jika cinta hanya terdapat disatu pihak.


"Huft, gue ditolak berarti, gak papa, kok. Lo gak usah khawatir tentang perasaan gue," ucap Geo.


Arventa menggelengkan kepalanya, "Gue gak bisa gak khawatirin perasaan lo, Geo. Tolong maafin gue, gue cuman gak mau apa yang gue alamin itu, terjadi juga sama lo," balas Arventa, dirinya benar-benar tidak enak hati saat menolak cowok di depannya.


"Jangan nangis, gue gak suka orang yang gue cintai sedih di hadapan gue," Geo mengusap air mata Arventa kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Hancur, tentu perasaan Geo hancur sekarang ini, walau rasa sakit yang dirasakannya begitu mendalam namun bangga, karena di sisi lain, ia dapat mengutarakan perasaannya secara langsung, Geo juga bersyukur jika dirinya bukan laki-laki pengecut yang selalu berada dalam lingkup cinta dalam diam.


Di dalam ruangan, Arventa tetap berada di posisinya sambil menggenggam erat sapu unuk menyalurkan rasa sedihnya.


Puk, puk, puk, sebuah tepukan tangan menggema di dalam ruangan tersebut membuat Arventa kaget dan refleks mengusap air matanya ketika tepukan tangan yang terdengar tiba-tiba berasal dari Fadli, sang katua organisasi.


"Gue salut sama, lo, yang berani nolak perasaan Geo. Yang artinya, lo gak langgar peraturan organisasi, terimakasih," setelah itu, Fadli membuka pintu dan keluar.


Arventa sedikit terisak, apa yang dikatakan Fadli barusan, itu salah besar. Dirinya menolak Geo bukan karena peraturan organisasi, tapi, demi menghargai perasaan cowok tersebut agar tidak terperangkap dalam masa kelamnya.

__ADS_1


Jangan ragu untuk menolak, jika itu pilihan terbaik.


Arventa.


__ADS_2