
Happy Reading!!
Di sela-sela pekerjaannya sebagai pengajar mahasiswa, Beno selalu kepikiran dengan Arventa.
Arventa jangan berani bermain nakal dengan pria lain! Selain bapak.
Jangan keluar dari rumah kalau gak sama saya.
Venta, kamu dengar apa yang saya bilang, kan?
Beno menggeram frustasi, dirinya langsung sadar bahwa Arventa pasti merasa terkekang.
"Pak, bapak sakit?" pertanyaan mahasiswa tersebut menyadarkan Beno bahwa ia sedang mengajar.
"Huft, Bapak kurang sehat," jawab Beno kemudian keluar dari kelas meninggalkan mahasiswa yang bersorak.
Sambil berjalan, Beno melepaskan dasinya lalu menggulung bajunya hingga ke lengan.
Beno merasa gerah hari ini, dan kalian tahu apa penyebabnya? Beno merindukan Arventa, tapi pria itu sadar bahwa dirinya tidak mau mengganggu Arventa yang sedang belajar di kelasnya dan terpaksa dirinya harus pulang untuk meredam hasratnya.
Sore hari kemudian, semuanya telah pulang, terutama Rejav, Aksa, Japra, dan ditemani oleh Glady tentunya.
Mereka berempat tak luput dari pandangan Arventa, Cici, dan Mona. Mereka terus memperhatikan empat orang itu hingga punggung mereka menghilang.
"Hm, sepertinya terjadi sesuatu nih, mereka bertiga kan benci banget sama Glady kok pulangnya barengan gitu? Terus ketawa-ketawa lagi," ucap Mona dengan curiga.
"Biarin aja, bagus kalau damai," balas Arventa.
"Iya bagus kalau damai, apaan sih Mona, demen banget liat orang benci-bencian pantes sendiri mulu," tambah Cici.
"Heh dua dodol, gue kan penasaran doang bukan seneng liatin mereka benci-bencian," kesal Mona kemudian berlanjut ke Cici, "gak nyadar neng? Kan situ sendiri juga, hahaha."
"Bangke!"
"Eh, anterin gue ke rumah Pak Beno yah, dia nyuruh gue soalnya," pinta Arventa.
"Njir, gue baru inget hari ini jadwal Venta ke rumah Bapak, hahaha padahal beda sehari doang sama kemarin," ucap Mona.
"Ish, cepetan udah gak sabar Pak Beno soalnya," balas Arventa buru-buru.
"Efek digempur mulu nih sama Bapak Dosen yang ganteng," ujar Cici geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Makasih, gue masuk dulu yah. Hati-hati di jalan," ucap Arventa dan Mona mengangkat jempolnya.
"Oke!" balas Mona lalu melajukan mobil dengan kecepatan penuh membuat Cici menjerit ketakutan.
"Pelanin bego! Lo mau bunuh sahabatĀ lo sendiri?" tanya Cici kesal.
Mona mendengus sebal kemudian memelankan laju mobilnya.
"Apaan nih anjing?! Lambatnya kek siput, gak gini juga Mona!" kesal Cici.
"Lah, cepet salah, lambat juga salah. Mau lo apa sih?!" akhirnya Mona ikut kesal yang pada akhirnya laju mobil kembali melaju dengan tidak wajarnya.
"MONA UDAH GILA!" teriak Cici.
Sementara itu, Rejav dan dua sahabatnya juga Glady telah sampai di rumah.
Aksa dan Glady saling bertatapan untuk meyakinkan diri agar berani.
"Rejav, Japra, ada yang mau gue kasih tahu ke kalian," ucap Aksa.
"Apa?" tanya Rejav.
Rejav dan Japra tidak percaya, "Serius lo?"
"Serius," jawab Aksa.
"Baguslah, lo udah ***** juga kemarin jadi wajar sih," ucap Japra mendukung Aksa.
"Hahaha, gak nyangka sahabat gue nikah sama mantan sahabatnya," ujar Rejav tertawa.
Japra ikut tertawa sedangkan Aksa memasang wajah datar, "Yah kalau jodoh mau diapain lagi?"
"Iyah-iyah, gue juga salut bro mau nerima Glady apa adanya," ucap Rejav dan Aksa hanya tersenyum.
"Lo sendiri? Udah nemu yang tepat gak?" tanya Aksa.
"Gue fokus kuliah dulu, terus sukses baru mikirin jodoh. Gue mau contohin Pak Beno yang dengan mudahnya ngedapetin Arventa," jawab Rejav.
"Mantap, jadi lo udah move on nih sama Arventa?" tanya Aksa jahil.
__ADS_1
"Iya lah, gue langsung move on ini, hahaha," jawab Rejav dan semua yang ada di rumah itu ikut tertawa.
Di rumah Beno, Arventa membuka pintu yang tidak dikunci, saat masuk Arventa melihat Beno duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Duduk di sini," suruh Beno sambil menepuk sofa di sampingnya.
Ketika Arventa duduk, Beno meletakkan cangkir yang ia pegang lalu memeluk Arventa dengan erat.
"Kamu gak tahu kalau saya ini rindu banget," ujar Beno.
Arventa tentu membalas pelukan Dosen sekaligus kekasihnya itu.
"Padahal pisahnya cuman sehari doang," balas Arventa.
"Pisah sehari rasanya dunia mau kiamat," gombal Beno dan Arventa tertawa.
"Bapak pintar juga yah ngegombal."
"Bapak raja gombal, bisa gombalin kamu di mana aja, baik di sini maupun di ranjang," balas Beno dengan seringaian mesumnya dan Arventa sudah tahu apa yang diinginkan oleh pria di depannya.
"Bapak mau?" tanya Arventa yang sudah dimengerti oleh Beno.
"Hm," jawab Beno.
"Ish, kok jawabnya hm hm doang, yang jelas dong," ujar Arventa.
"Iyah mau," ucap Beno namun suaranya sedikit kecil.
"Ah, Arventa gak mau kalau gitu dari jawabannya aja setengah-tengah apalagi mainnya nanti," balas Arventa pura-pura merajuk.
Tanpa aba-aba Beno langsung menerkam Arventa, "Bapak gak suka mengutarakan, Bapak sukanya secara langsung. Bapak juga mau nanya, kamu mulai pintar godain Bapak yah, belajar dari mana, hm?" tanya Beno.
"Yang ngajarin kan Bapak, malah pura-pura gak tau. Gak asik ih," jawab Arventa sebal.
"Tenang, Bapak asikin di ranjang," kata Beno menyeringai bak iblis.
Beno menggendong Arventa menuju ke kamarnya, sebelum itu dia berteriak.
"Kosongkan rumah ini! Nanti malam kalian baru kembali," perintah Beno dan semua pelayan keluar dari rumah tuannya takut mengganggu aktifitas pasangan kekasih itu.
"Galak banget sih," ucap Arventa.
__ADS_1
"Cuman ke mereka, kamu nggak mungkin aku galakin, kecuali di ranjang," balas Beno tersenyum miring.