
Pada saat pinggul bergoyang, maka tak peduli lagi posisi mana yang paling bagus karena semuanya terasa nikmat ketika terjadi.
Japra mengangguk-angguk, pria tersebut mulai mengerti tujuan dari kalimat yang tertera di sebuah artikel.
"Aksa, nih liat," ucap Japra menunjukan kalimat tersebut.
Aksa mengacungkan jempolnya kemuian berkata, "Widih, semuanya terasa nikmat ketika pinggul sudah bergoyang. Oke, makasih infonya bro," balas Aksa.
Rejav, cowok itu tak peduli apa yang dibahas oleh mereka berdua karena sekarang letak fokusnya tertuju kepada Arventa.
"Peraturan organisasi jadi penghalang buat gue milikin Arventa, ck. Repot aja, bangke!" kesal Rejav.
Japra dan Aksa memandang Rejav aneh lalu mendekatinya.
"Siapa yang bikin lo repot?" tanya Japra.
"Fadli, peraturan yang dia buat nge-halangin gue buat pacarin Arventa," jawab Rejav.
"Hadeh, langgar aja kali. Kan Fadli gak tau kalau lo pacaran sama Arventa nantinya, lagipula Arventa juga gak berani melapor kalau udah pacaran sama lo," balas Japra.
"Bener tuh, cemen banget lu, gara-gara peraturan doang bikin lo nyerah," timpal Aksa.
Rejav membenarkan perkataan mereka, peraturan tidak penting itu hampir membuatnya menyerah sebelum berperang.
"Thanks, bro. Gue gak peduli dengan peraturan itu," ujar Rejav.
Aksa dan Japra ber-tos ria mendengar perkataan Rejav. Melanggar peraturan? Sekali-kali tidak masalah.
Di sisi lain, Arventa asik berbicara bersama Mona dan Cici tentang idola mereka yang sangat tampan.
"Gemes gue, pengen remas itunya," ucap Mona ambigu.
"Apanya sih?" tanya Arventa.
"Itu tuh, kotak-kotak," jawab Mona.
"Lu pegang yang kotak, gue pegang yang bundar, hahaha," kata Cici kemudian tertawa dengan mulut yang melebar, seolah-olah dirinya paling berkuasa dan pengalaman dalam hal memegang maupun meremas.
"Please, Cici udah gila," bisik Mona ke Arventa, sementara Arventa sendiri mengangguk membenarkan ucapan Mona.
"Gue penasaran, perut Rejav kotak-kotak gak, yah?" tanya Cici tiba-tiba mengabaikan ejekan dari dua sahabatnya.
"Gak tau, gue gak pernah periksa," jawab Arventa.
__ADS_1
"Besok kita periksa, hahaha," ucap Mona dengan tawa iblisnya.
"Setuju gue njir, gak sabar remes anunya, hihihi," balas Cici tak kalah iblis dengan Mona.
Hari pemeriksaan telah dimulai dan akan dilakukan oleh Cici dan Mona di kampus. Mereka menunggu moment yang tepat untuk menyulik Rejav bersama dua temannya.
Rencana telah disusun sedemikian rupa dan merek akan yakin 100%, dan semuanya tergantung kepada Arventa di akhir rencana.
Rejav mulai masuk ke area kampus berjalan menuju kelas bersama Aksa dan Japra.
Detik itu pula, Mona dan Cici tiba-tiba menyekap Rejav dari belakang, sementara Arventa menarik Aksa dan Japra.
Sungguh kesempatan emas tidak sia-sia, mereka berhasil memisahkan tiga orang tersebut.
Rejav berusaha melepas diri dan akhrinya berhasil kemudian menatap dua cewek yang menariknya dengan tajam.
"Ngapain lu narik gue?!" tanya Rejav.
"Ada hal penting, ini semua demi Arventa," jawab Cici serius. Sedangkan Mona berbalik agar ia tak ketahuan karena dirinya menahan tawa.
"Hal penting apa?" tanya Rejav tak curiga.
"Sini, ikut kita," ajak Cici.
Mengapa mudah? Kalian sudah tahu pasti bahwa mereka berdua pria bejat yang begitu bahagianya ditarik oleh tangan Arventa yang begitu putih dan mulus.
Gimana yah kalau tangan itu ngelus-ngelus perut gue.
Njir, dada auto bergetar ketika disentuh.
Dua cowok itu membayangkan hal intim bersama Arventa, bahkan mereka tidak sadar berada di gedung yang tak layak pakai.
"Arventa, nariknya lembut banget sih? Seneng banget nih ngerjainnya," ucap Aksa kemudian terkikik pelan.
Arventa menahan tawanya, apalagi melihat Japra yang tidak berkedip melihat tangannya.
Tak lama kemudian, Rejav datang bersama Mona dan Cici.
"Arventa!" panggil Rejav, menyadarkan dua cowok yang sibuk dengan imajinasi liar mereka.
"Eh, Rejav?" tanya Arventa yang mulai gugup dengan kedatangan Rejav.
Langkah cowok dingin itu semakin mendekat beserta dengan tatapan elangnya yang berasa menelanjangi tubuh.
__ADS_1
"Hal penting apa yang mau lo bicara?" tanya Rejav langsung intinya.
"Ehm, itu, anu. Eungh-"
"Lo udah buang waktu gue dengan diri lo yang cuman bisa bilang anu, eum, terus apa lagi? Jawab cepet! Kalau gak, siap-siap gua telanjangi!" ancam Rejav.
Bukannya khawatir, Cici dan Mona terpekik senang kemudian tertawa kecil-kecil.
"Sebenarnya, lo mau diperiksa sama Arventa," ucap Mona.
Rejav berbalik dan menaikkan alisnya sebelah, penasaran akan hal apa yang ingin diperiksa dalam dirinya.
"Periksa? Lo mau periksain apa gue?" tanya Rejav.
"Perut lo," jawab Cici.
Rejav yang mendengarnya, langsung tersenyum miring kemudian memandang wajah Arventa begitu instens.
"Lo mau liat perut gue?" tanya Rejav.
"Sebenarnya, bu-"
Sebelum Arventa menyelesaikan ucapannya, Rejav menutup mulut cewek tersebut dan mengangkat baju dengan tangan sebelahnya sehingga perut yang atletis tersebut terpampang di depan mata Arventa.
Cici dan Mona menahan napas, padahal mereka hanya menyaksikan tubuh bagian belakang Rejav.
"Kya!" teriak Mona dan Cici histeris.
Aksa dan Japra tidak ingin kalah selangkah dari Rejav, mereka berdua dengan bangganya membuka baju untuk memperlihatkan perut mereka yang atletis seperti Rejav.
"Mon, serius ini?" tanya Cici.
Mona menggigit kuku jarinya karena gemas dengan pandangan di depannya.
Aksa begitu sombongnya maju selangkah dan menarik tangan Mona untuk menyentuh perut kotak-kotaknya.
Ketika tangan halus tersebut meraba perut Aksa, sesuatu di bawah sana terasa sesak merontak dan berusaha menerobos dinding tebal.
Aksa terangsang dan miliknya bangkit dari tidur panjangnya.
"Shit, cacing alaska gue meronta-ronta."
Hal yang terjadi selanjutnya? Cici dan Mona tak sadarkan diri, untungnya Aksa dan Japra dengan cepat menahan tubuh mereka.
__ADS_1
"Ini resiko sudah membangkitkan Singa yang tengah tertidur," bisik Rejav tepat di belakang telinga Arventa.