
Menjadi pusat perhatian, inilah yang dirasakan Arventa sekarang, dimana dirinya berjalan berdampingan bersama Beno, Dosen tertampan di kampus.
Itu kan, Pak Beno. Di sampingnya siapa?
Eh, kok cocok banget sih? Siapa di samping Bapak, yah?
Wah, Pak Beno diam-diam udah punya yah.
Venta harus bersyukur jika dirinya tidak dicap sebagai wanita penggoda atau jalang, biasanya para wania alay maupun cabe yang ada di kampus langsung menyemprot begitu saja.
"Saya, duluan. Ingat, saya selalu mengawasi tanpa kamu sadari," pamit Beno, sebelum pria tersebut pergi, dirinya mengecup kening Arventa terlebih dahulu. Meninggalkan sejuta pekikan dari mahasiswi lain yang melihat.
Arventa takut, dalam benaknya semoga Rejav tak melihat kejadian ini karena bisa saja pria itu akan menghukumnya.
"Melanggar," ujar seorang pria, yakni Rejav.
Arventa menghembus napas pasrah kemudian berbalik menatap pria yang sedang melipat tangan di depan dada.
"Lo bukan siapa-siapa gue!" sinis Arventa, wanita itu jelas tak mau diinjak begitu saja oleh Rejav.
"Lo lupa kalau lo itu milik gue?" tanya Rejav.
"Gue bukan milik lo, jauhin gue!" balas Arventa, menolak tegas pengakuan Rejav terhadap dirinya.
Sebelum Arventa pergi, Rejav menahan tangan Venta agar cewek itu berbalik kemudian mencium bibirnya rakus.
Arventa jelas memberontak, sayangnya tenaga Rejav sulit ia imbangi hingga Arventa tak dapat bergerak.
Tak kehabisan akal, Arventa menendang betis Rejav tepat di tulang keringnya sehingga pria di depannya memekik kesakitan.
Kesempatan tersebut jelas dimanfaatkan oleh Arventa untuk berlari dari Rejav dan akhirnya berhasil lolos.
Di tempat lain, Beno menggeram marah. Pria itu mengepalkan tangannya kuat ketika melihat miliknya disentuh oleh pria lain terutama mahasiswanya sendiri.
"Rejav," gumam Beno misterius.
Di sisi lain pula, Fadli dan Geo melihat kejadian tersebut sudah pasti hal yang dilakukan oleh ketua organisasi itu adalah mengeluarkan Rejav.
Geo sendiri, merasakan perih di dadanya. Seandainya ia lebih bertekad lagi, mungkin Arventa dapat ia genggam.
Namun, hanya penyesalan yang ia derita sekarang ini.
__ADS_1
Baiklah, bagaimana dengan Glady? Wanita itu dihukum oleh Rega. Sebagaimana hukumannya adalah melayani nafsu pria tersebut, dan kalian sudah tahu sifat Glady itu seperti apa, yah melebihi seorang jalang.
Bahkan, Glady senang mendapat hukuman dari Rega. Ketika Glady melihat milik Rega, wanita itu langsung kalang kabut tak tahan untuk merasakannya sehingga Glady terus memohon ke Rega untuk memulainya segera, dimana malam itu....
Rega, telah sampai di tempat yang ditunjukan oleh Rejav. Saat masuk di rumah kosong tersebut hanya terdapat wanita yang sedang tertidur, ketika Rega menjelajahi rumah itu, Rega tertarik untuk masuk dalam kamar yang pintunya terbuka setengah.
Yah, dirinya masuk dan melihat Glady tanpa berbusana sama sekali membuat Rega tersenyum mesum.
"Okey, pemandangan yang indah, mungkin sedikit hukuman untukmu tidak masalah bukan?" tanya Rega kemudian melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
Glady tersenyum, menyambut Rega yang mulai menindihnya.
"Hukumlah aku, sepuasmu sayang. Akan kubuat dirimu melayang," ucap Glady dengan nada sensual.
Tanpa basa basi, Rega memulainya kasar tanpa henti membuat Glady terus meminta lebih dan lebih.
"Memohonlah," perintah Rega.
"Rega, lebih cepat lagi."
"Memohonlah lebih keras lagi!" bentak Rega.
Setelah permainan panas mereka selesai, Rega meninggalkan Glady yang tertidur karena lelah di kamar.
Flashback Off.
Di kampus, Glady mencari-cari Rega dan ternyata orang yang ia cari tidak ada di kelasnya. Saat bertanya ke teman Rega, Glady mendapat jawaban bahwa pria itu tidak hadir hari ini.
"Rega brengsek! Dia ngeluarinnya di dalem dengan sengaja, dan sekarang dia ninggalin gue," geram Glady kemudian pergi.
Glady belum menyerah mencari pria itu, dirinya berulang kali menghubungi Rega melalui ponsel, namun lagi-lagi tak dapat dihubungi.
Glady panik, panik akan dirinya yang akan hamil dan mengandung janin selama 9 bulan sendiri.
"Kalau gue hamil, gue bakalan gugurin anak ini," gumam Glady kemudian pergi dari depan kelas Rega.
Sementara Arventa terus memikirkan bagaimana nasib dirinya untuk kedepannya. Bukan hanya Rejav yang selalu mengganggunya, melainkan Rega sang mantan ikut pula.
Sempat terpikir dalam diri Arventa untuk melaporkan mereka berdua ke Beno, tapi, Arventa tidak ingin mengambil resiko. Jika ia melapor, Rejav akan memberitahu Beno persoalan dirinya telah di-klaim oleh Rejav dua hari yang lalu.
Ataukah Arventa menceritakan semuanya ke Cici dan Mona? Siapa tahu dua sahabatnya itu dapat membantu Arventa.
__ADS_1
Yah, Arventa yakin bahwa seorang sahabat pasti mendukung apa yang telah dilakukannya, jika salah, pasti mereka akan memberi solusi atau teguran yang baik, setelah kelas selesai tentunya.
30 menit kemudian, setelah Dosen meninggalkan kelas Arventa menghampiri Mona dan Cici.
"Gue punya masalah," ucap Arventa.
"Masalah apa? Kita sebagai sahabat pasti bantu, kok," balas Cici.
Arventa menghembuskan napas, sedikit ragu untuk memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya telah melakukan hubungan terlarang bersama Beno.
"Kalian bakalan gak marah, kan?" tanya Arventa.
Mona mengerutkan kening, "Tergantung," jawab Mona.
"Gue udah ngelakuin begituan sama Pak Beno kemarin malam," ucap Arventa.
Cici dan Mona melototkan mata dan kompak berteriak, "What?!"
Arventa menutup matanya, takut menanti kemarahan dua sahabatnya.
"Bagus!"
Arventa membuka matanya, terkejut dan tidak percaya apa yang dikatakan Mona dan Cici.
"Eh, coba ulang," pinta Arventa.
"BAGUS!"
Arventa menepuk jidatnya, "Ish, bagus apaan sih? Coba kasih alasan," pinta Arventa lagi dengan gemas.
"Hadeh, tujuan lo selama ini udah tercapai. Dengan lo yang udah ena-ena sama Pak Beno otomatis lo itu udah move on dari si Rega. Coba gue tanya, lo masih ada perasaan gak sama Rega?" tanya Cici.
"Gak ada, malahan sekarang malas liatnya," jawab Arventa.
"Maka dari itu!" timpal Mona membuat Arventa terkejut.
"Maka dari itu, lo udah berhasil menghapus perasaan lo ke Rega brengsek itu, dan sekarang hati lo pindah berlabuh ke Pak Beno," lanjut Mona senang.
Arventa menggaruk kepalanya dan membenarkan perkataan Mona dan Cici.
"Cuman satu yang mau gue tanyain, urusan Rejav gimana?" tanya Cici.
__ADS_1