
Sudah menjadi kebiasaan mahasiswa dengan tugas makalah yang diberikan oleh dosen, namun yang menjadi masalah adalah ketika mahasiswa ingin mem-print-nya, terutama yang dialami oleh Rejav.
"Maaf, dek. Print-nya rusak."
Lagi-lagi Rejav menghela nafas, ia berpindah ke tempat print sebelah, namun yang dirasakannya lebih dari yang tadi, dimana ia harus menunggu lama karena antrean yang panjang, "Lama-lama gue terobos juga," sebal Rejav.
"Duh, pak. Saya lupa bawa dompet, ketinggalan di kelas," suara cewek mengalihkan perhatiannya, Rejav melihat cewek tersebut dari belakang tengah dimarahi oleh pemilik print
"Sini makalahnya, bapak tahan, setelah kamu bayar baru bisa ambil," balas pemilik print tersebut.
Rejav merasa kasihan dengan cewek itu, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan uang 50 ribu lalu mengopernya, "Oper terus, sampai ke cewek itu," suruh Rejav dan cowok berkaca mata itu mengoperkan orang di depannya, begitu seterusnya sampai uang itu berada di tangan cewek yang membutuhkan.
"Makasih yah udah bantuin, gue," saat berbalik, Rejav mengumpat, ternyata cewek yang ia bantu merupakan orang yang menyebalkan kemarin.
"Nyesel gue," gumam Rejav.
Tiba-tiba Arventa datang menghampiri Rejav dan meminta flashdisk cowok tersebut, "Sini flashdisk lo biar gue bantu print-nya, sebagai tanda terimakasih juga," ucap Arventa dan meminta benda tersebut ke Rejav.
"Nih," balas Rejav memberi benda yang diminta Arventa kemudian menunggunya.
Tak cukup 5 menit, Arventa sudah kembali dan memberikan makalah Rejav dan tak mendapat balasan dari cowok tersebut, melainkan pergi meninggalkannya.
"Cuek amat sih jadi cowok, ragu kalau ada yang naksir," gerutu Arventa.
Tapi, Arventa tidak sadar setelah ia mengucapkan hal itu, sudut bibirnya tertarik indah menjadi sebuah senyuman.
"Ish, kenapa sih gue? Malah senyum-senyum, atau jangan-jangan, gue suka sama dia? Ah masa sih? enggak mungkin kalau Arventa suka sama Rejav Adibrata Keswara," kata Arventa meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bagaimana Arventa tahu nama Rejav? Sederhana saja, Arventa melihat nama lengkap cowok tersebut di makalah, dengan sengaja.
"Woi, lama banget lu!" Japra mengagetkan Rejav yang baru saja masuk kelas, lagi-lagi Rejav menghela nafas untuk menahan kekesalannya, apalagi berhadapan dengan Japra sekarang, ia harus ekstra sabar agar tidak mengamuk dan membuat bonyok sahabatnya karena emosi yang menggumpal.
Tak acuh, itulah sifat Rejav yang ia junjung tinggi ketika menghadapi sifat teman-temannya yang menyebalkan, "Hush, pergi sana! Gue gak mau diganggu dulu," akhirnya Rejav mengeluarkan kalimat usirannya yang langsung dimengerti oleh Japra bahwa Rejav sedang PMS dimana seorang 'pria menjadi singa'
"Hirup dalam-dalam, kemudian hembuskan pelan-pelan," gumam Rejav sambil memejamkan mata.
Aksa menarik lengan Japra dan berbisik, "Rejav kenapa tuh?" tanya Aksa.
"Biasa, Sa. Lagi emosi, lupa ngocok tadi pagi soalnya," jawab Japra.
Mereka pikir dengan berbisik, Rejav tidak mendengarnya bagaimana tidak? Mereka duduk di bangku belakang cowok itu dan juga Japra yang menjawab pertanyaan Aska dengan suara lantangnya.
"Bego, lu. Kalau gue bisik-bisik lo jawab juga bisik-bisik biar orang kita ghibahin gak denger," ucap Aksa menjitak dahi Japra.
Rejav hampir berbalik, namun mereka selamat karena dosen masuk diwaktu yang tepat, Aksa dan Japra mengusap dada lega.
"Kumpulkan makalah kalian!" perintah dosen yang suaranya bagai alarm kematian bagi mahasiswa.
Masing-masing ketua kelompok mengumpulkan makalah mereka di atas meja, dosen mulai memeriksa satu per satu dari makalah mereka, puncak ketegangan begitu terasa ketika lembar per lembar dibaca dengan teliti karena takut ada yang salah.
"Rejav Adibrata Keswara!" panggil dosen.
Semuanya, kecuali dosen, menatap Rejav kasihan karena sebentar lagi nasib cowok dingin itu dalam kondisi yang tidak baik atau terancam.
"Iyah, pak?" tanya Rejav.
__ADS_1
"Dua teman kamu yang bernama Aksa dan Japra ikut mengerjakan?" tanya dosen.
"Iyah, pak," jawab Rejav.
"Bagus, makalah kamu saya terima, yang lainnya... bapak tolak!"
Rejav, Aksa dan Japra bernapas lega, sulit senangnya dalam mengerjakan makalah itu telah terbayar dan mereka tersenyum bangga sedangkan teman-teman lainnya harus menelan kekecewaan dikarenakan tugas tambahan yang sudah pasti menanti.
"Saya beri waktu tiga hari dari sekarang! Saya rasa sudah cukup, silahkan keluar," perintah dosen dan semuanya keluar dari kelas dengan ekspresi yang berbeda-beda,
"Lo santai banget njir dipanggil sama dosen tadi, gak liat apa mukanya sangar banget?!" tanya Japra histeris.
"Ngapain tegang? Gue kan normal," jawab Rejav dan mendapat ketokan bersama dari Aksa dan Japra.
"Udah pinter mesum nih, akhirnya Rejav besar yah, gak sia-sia kita rawat seperti anak sendiri," ucap Aksa.
"Iyah, pak. Gak sia-sia kita jualan lombok buat biaya besarin dia," balas Japra.
Aksa seketika menatap Japra jijik, karena balasan cowok tersebut membuatnya harus membayangkan bahwa Japra adalah istrinya, "Idih, amit-amit gue besarin Rejav bareng lo," kata Aksa sambil bergaya mual-mual.
"Jahat kamu, mas. Ntar gak dapat jatah yah."
"Uek! Jijik anjir."
Rejav tetap dengan ekspresi datarnya dan seketika semakin meningkat kala melihat Glady bersama Rega sedang tertawa bersama, mata elang Rejav tak melewatkan setiap inci pergerakan pasangan selingkuh tersebut.
Dalam posisi yang sama namun di tempat yang berbeda, mata Arventa begitu lekat memandangi mereka, dan yang terjadi selanjutnya masing-masing mantan menengok ke arah mereka kemudian menyapa, "Hai."
__ADS_1
Ingin sekali Rejav dan Arventa menyumpal mulut mereka yang berani menyapa dengan nada sok ramah.