My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 9


__ADS_3

Arventa berlari menuju ruang organisasi sambil melihat jam tangannya, "Aduh, semoga Kak Geo gak pulang karena kelamaan."


Arventa mendorong pintu dan melihat Geo bermain gitar saat ia masuk, Arventa menghela napas lega ketika Geo setia menunggu keterlambatannya.


"Maaf, kak. Tadi nungguin jemputan Mona," ucap Arventa tak enak hati kemudian duduk di samping Geo.


Geo sendiri tersenyum mendengar penuturan maaf dari juniornya, "Langsung aja, yah. Mau nyanyi lagu apa?" tanya Geo.


Muka Geo sedikit berdekatan dengan muka Arventa, apalagi tatapan cowok tersebut melekat menatap matanya membuat Arventa sedikit salah tingkah. Geo seketika tersadar melihat Arventa yang bergerak gelisah, untung cowok tersebut memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, tapi, masih ada kelemahan dari cowok tersebut, yaitu mengabaikan teman-teman organisasi lainnya yang berada di ruangan tersebut.


"Musnahkan benih-benih cinta," singgung Fadli, sang ketua organisasi.


Geo berdecak sebal, moment pdkt-nya bersama adik tingkatan langsung hancur begitu saja dikarenakan peraturan aneh dari Fadli.


"Iya, iya, tenang aja," sebal Geo.


"Lagu yang mau dinyanyiin?" tanya Geo.


"Pudar aja, kak," jawab Arventa.


Geo mencari kunci nada lagu tersebut dan memetik gitar untuk mengiringi nyanyian Arventa. Arventa mulai bernyanyi sehingga menciptakan suasana yang hening, yang dirasakan cewek itu sekarang tentunya malu, tapi ia harus menekan rasa malu tersebut dan menganggap semua teman organisasi adalah penonton panggung nantinya.


"Suara lo, bagus," puji Geo saat petikan terakhir gitarnya selesai.


"Terimakasih, kak. Biasa aja, kok, bagusan suara Cici," balas Arventa malu-malu.


Di sudut lain, Japra dan Aksa jelas-jelas mengomel di samping Fadli dan Rejav. Mereka berdua tidak tahan melihat keromantisan antara kedua insan yang berbeda kelamin. Menurut mereka berdua, 'sulit menebak perasaan. kadang apa yang dilisankan dari mulut biasanya bertolak belakang'

__ADS_1


Fadli pun sama, ketua organisasi itu sedikit khawatir jika ada anggota yang cinlok, sebelum itu terjadi ia ingin mencegah. Tapi, apa sekarang? Yang ada, Geo sangat jelas menatap takjub cewek di sampingnya, begitupun Arventa yang terlihat malu-malu.


"Sekali lagi gue ingetin, tolong hargai peraturan yang telah disepakati bersama," tekan Fadli di akhir kata.


Arventa tentu tersinggung, apa yang diucapkan oleh Fadli tertuju kepada dirinya dan Geo, namun ia harus menolak perasangka buruk seniornya itu sebelum situasi semakin tidak nyaman.


"Kak Fadli tenang aja, gue sama Kak Geo gak ada perasaan apa-apa kok." Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Geo merasa tertohok, sudah cukup lama cowok tersebut menaruh hati kepada Arventa namun semuanya sirna begitu saja dikarenakan peraturan organisasi tersebut.


Dalam batin, Geo hanya berkata 'ayo, pacu kesabaran lo lagi, Geo'


Sementara itu, Japra dan Aksa menahan tawanya cukup lama, mereka tidak dapat membayangkan betapa hancurnya perasaan Geo detik ini pula apalagi disaksikan banyak anggota organisasi, sedangkan Rejav? Cowok tersebut tetap setia dengan ekspresi datarnya.


"Kak Geo, makasih, udah mau bantuin Arventa," ujar Arventa dan Geo tersenyum kecil.


"Sama-sama,' setelah itu Geo beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan.


Senyum terbit di sudut bibir Geo, cowok itu langsung memeluk Arventa, "Gak papa, gue seneng kalau lo jujur sekarang sama perasaan lo," balas Geo.


Arventa melepas pelukan tersebut sembari mengerutkan kening karena mulai mengerti dari maksud ucapan Geo.


"Perasan suka karena temen kok, kak."


Geo merasa malu, sempat dirinya menahan napas karena kecerobohannya sendiri. Geo merasa bahwa Arventa pasti tahu kalau selama ini ia menyukainya.


"Terbang tinggi lalu terjatuh, seperti itulah," lirih Geo kemudian pergi.


Rasa bersalah semakin membesar di hati Arventa, langsung saja Arventa menepuk jidatnya dan menggerutu sebal karena kebodohannya yang terlalu. Saat berbalik, Rega mencekal tangannya, spontan Arventa menarik kasar tangannya, walau rasa sakit sedikit terasa.

__ADS_1


"Lo mau ngapain?" tanya Arventa.


"Balikan," jawab Rega.


Arventa menatap pria di hadapannya sinis, mendengar jawaban kata 'balikan' merupakan sebuah penghinaan baginya. Setelah menyakiti, pergi, ketika rasa bosan telah hadir tentunya pria brengsek itu akan kembali ke tempat nyamannya, namun rasa nyaman terlalu mudah dimanfaatkan demi keegoisan hati yang ujurng-ujungnya membuat luka kering kembali menganga.


"Gue gak bodoh, gak bakalan mau jatuh ke lubang yang sama," balas Arventa.


"Gue serius, gak bakal main-main lagi," Rega menggenggam tangan Arventa erat, begitupula tatapannya yang sangat lekat.


"Mana pacar lo yang sebelumnya? Udah putus? " tanya Arventa.


"Nggak, niatnya gue mau punya dua pacar," jawab Rega sehingga mendapat tamparan yang keras dari Arventa.


"Lo jadi cowok brengsek banget sih? Gak puas udah nyakitin gue? Cari yang lain aja, sampai kapanpun gue gak bakalan mau, titik," putus Arventa meninggalkan Rega, namun tak lupa pula cewek tersebut menendang tulang kering sang mantan.


"Njir, sakit banget, gue bakalan milikin lo lagi, Arventa! Karena lo adalah rumah bagi, gue," teriak Rega, dan Arventa menutup telinganya serapat mungkin.


Cici tak henti-hentinya mengibaskan tangannya berguna untuk menciptakan hembusan angin yang kecil sebagai pendingin wajahnya yang terkena pancaran sinar matahari.


"Lama banget sih?!" tanya Cici sedikit kesal dengan Arventa yang baru datang.


"Hehehe, maaf, sempat berantem sama Rega barusan," jawab Arventa.


Seketika rasa kesal Cici tertuju kepada Rega, pandangan matanya menjadi berkobar kala mendengar nama cowok tersebut, "Mana dia? Pengen gue potong anunya biar gak nakal sama cewek," ucap Cici sambil membentuk jari tangannya seperti gunting.


"Lo cocok jadi dokter kelamin," ngeri Arventa mendapat dengusan dari Cici.

__ADS_1


Cici menunggu jawaban dari Arventa mengenai permasalahannya dengan sang mantan, tapi, sepertinya Arventa tidak ingin membahasnya, dan memilih untuk pulang.


__ADS_2