
Dewasa guys, kalau kalian gak suka atau masih polos, skip ajaš¤£.
Selamat membaca.
\==================
Sebentar lagi langit akan menggelap, terpaksa Arventa harus bermalam di rumah Rejav, ketiga pria tersebut melarangnya untuk pulang. Seribu alasan telah mereka lontarkan, baik dari bahaya di luar sana, banyak preman, banyak pencuri gadis-gadis dan masih banyak lainnya.
Arventa harus terjebak dalam rumah mesum tersebut, terutama kepada bos mereka, siapa lagi kalau bukan Rejav? Pria itu terus menggoda Arventa tentang perutnya yang sixpack, dadanya yang berotot, sampai-sampai juniornya yang dianugerahi dengan ukuran yang besar.
Nah, yang membuat Arventa harus berteriak kencang adalah, ketika mereka bertiga tanpa malu membuka baju di hadapan Arventa.
"Kalian gila, pakai bajunya, ih! Kalau gak, gue teriak lagi," ancam Arventa.
"Teriak aja, kita gangbang, hahaha," ancam balik Japra.
Arventa memijit pelipisnya. Arventa rasa, dirinya harus memanggil seorang ustadz untuk merukiyah mereka bertiga.
"Otak kalian kok mesum banget sih?" tanya Arventa.
"Kalau gak mesum, yah, gak ngeue dong," jawab Aksa.
Arventa memutar bola matanya malas kemudian menatap Rejav untuk menanti jawaban dari pria tersebut.
"Ngapain liatin?" tanya Rejav.
"Nunggu jawaban," jawab Arventa.
"Gue mah gak perlu jawab, langsung praktek lo mau? Enak, loh," tawar Rejav begitu frontal.
"Au, ah. Terserah kalian, gue mau nonton."
"Nonton pekob?" tanya Aksa semangat.
Arventa semakin kesal, karena kekesalannya yang sudah berada di ubun-ubun, gadis tersebut melempar mereka dengan bantal.
__ADS_1
"Ih, Arventa kasar. Gak sabar yah?" goda Japra.
Arventa harap dirinya dapat menghilang sekarang juga.
Keesokan hari, Arventa terbangun pagi-pagi. Cewek tersebut bersyukur karena tiga laki-laki mesum itu masih terlelap nyenyak.
Yah, mereka satu kamar. Arventa di ranjang sedangkan tiga pria mesum itu tidur di sofa.
Arventa berjalan pelan-pelan, takut jika mereka terbangun. Saat berjalan Venta tidak sengaja menginjak kaki Japra.
Arventa menutup mata, perlahan ia membuka pejaman matanya yang ternyata melihat Japra masih setia dengan mimpi indahnya.
"Untung, gak ketahuan," lega Arventa.
Di sisi lain, Rejav pura-pura tidur. Sebenarnya pria tersebut terbangun saat Arventa turun dari ranjang.
Senyum jahil terbit di sudut bibir cowok mesum itu, ketika Rejav mendengar pintu kamar mandi tertutup, detik itu juga Rejav beranjak dari tidurnya.
Pria tersebut berada di depan pintu untuk menunggu Arventa. 5 menit kemudian, pintu terbuka dan Arventa tidak menyadari jika Rejav ada di belakangnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Rejav memeluk Arventa dan menutup mulut gadis tersebut.
Arvenra meronta namun tenaganya kalah kuat dari Rejav. Rejav membawa Arventa masuk dalam kamarnya, pria tersebut mengunci pintu terlebih dahulu kemudian melepas pelukannya.
"Rejav! Lo apa-apaan sih? Buka pintunya, gue mau pulang!" kesal Arventa.
"No, hari ini milik kita berdua," balas Rejav dengan seringaiannya.
Sorry, gue harus bejat buat lo jadi milik gue. 'Batin Rejav'
Rejav mencium bibir Arventa untuk pertama kalinya. Arvent yang mendapat sambaran di bibir lembutnya membulatkan mata sambil mendorong dada Rejav sekuat tenaga.
Rejav tersenyum disela ciumannya, pria tersebut tak bergerak sama sekali oleh dorongan Arventa, pria itu hanya fokus untuk bisa membuat Arventa luluh dalam ciumannya.
"Ssshhh, buka mulut lo," ucap Rejav.
__ADS_1
Arventa menutup mulutnya rapat, tak ingin meloloskan bibir pria tersebut masuk dalam mulutnya.
Rejav tak ada pilihan lain, pria itu menggigit bibir Arventa sehingga berdarah dan membuat gadis itu membuka mulut secara terpaksa.
Rejav mendorong tubuh Arventa hingga terbaring di ranjang, pria tersebut untungnya menahan punggung Arventa hingga ciumannya tetap berlanjut.
Rejav menindih Arventa yang berusaha melepaskan diri, merasa bahwa napas Arventa kian menipis Rejav menghentikan ciumannya.
Tentu dengan napas terengah-engah setelah melakukan ciuman yang memakan waktu hampi satu menit.
"Gila! Ini ciuman pertama gue," ucap Arventa marah.
Bukannya takut, Rejav malah menarik handuk yang melilit tubuh Arventa sehingga pemandangan yang begitu indah terpampang nyata di depan matanya.
Di bawah sana sudah menegang keras dan meronta ingin memasuki sarangnya, tapi, Rejav tahu diri dan tidak ingin merusak gadis yang ia tindih.
Arventa hanya dapat menangis, gadis tersebut pasrah dalam kungkungan di bawah Rejav.
Rejav sendiri, tersenyum hangat. Hal yang dilakukannya cukup sederhana, hanya meninggalkan jejak kepemilikan di buah dada Arventa.
"Dengan ini, lo jadi milik gue!"
Rejav kembali membaluti handuk ke tubuh Arventa, saat menyentuh kulit halus gadis di depannya, hal yang dirasakan oleh Rejav begitu hebat, bahkan otot-otot miliknya bergetar hebat tak sabar untuk dipuaskan.
"Hm, gue harus sabar. Dan lo, gue ingetin! Jangan deket-deket sama cowok lain!" ucap Rejav kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Arventa lalu berbisik, "gue gak main-main, kalau lu ketahuan, gue bakal lakuin hal yang gak pernah lo duga," lanjut Rejav kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan Arventa yang menghapus air matanya.
Rejav masuk dalam kamar sebelumnya, melihat Aksa yang baru saja beranjak dari sofa. Rejav merasa lega, untung saja Aksa baru bangun, jika tidak. Cowok itu pasti mendengar ancaman yang ia ucapkan ke Arventa tadi.
Sedangkan Aksa menatap Rejav aneh, karena pria tersebut sedang melamun dan arah tatapan Rejav menuju arahnya.
"Woi!"
Rejav langsung tersadar dari lamunannya dan melihat tatapan bingung dari Aksa.
"Lo kenapa melamun, lagi mikirin apa?" tanya Aksa.
__ADS_1
"Mikirin ngocok gue semalam," jawab Rejav kemudian masuk dalam kamar mandi.
"Anjing, lanjut ngocok lu di dalam."