My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 20


__ADS_3

"Widih, rumah bersih banget, siapa yang beresin? Lo, Jav?" tanya Aksa yang baru datang bersama Japra.


"Bukan, Venta yang bersihin," jawab Rejav.


"Serius?" tanya Aksa.


Rejav mengangguk, sementara Japra langsung mencari keberadaan Arventa namun tak kunjung ia temukan.


Japra mendesah kecewa, cowok itu mengira Arventa telah pulang, tapi tidak karena Arventa menepuk bahu Japra dari belakang.


"Nyari gue?" tanya Arventa saat Japra berbalik.


Japra meneguk salivanya secara kasar, pandangan di depan mata sungguh menggoda iman, bagaimana tidak? Arventa berdiri hanya mengenakan handuk yang membaluti tubuhnya.


"Eh, gue kira lo udah pulang," ucap Japra salah tingkah.


"Belum, gue masih capek soalnya. Terus badan gue lengket juga, jadi mandi deh," balas Arventa.


"Lengket? Lo habis main sama Rejav?" tanya Japra curiga.


Arventa menyentil kening Japra, "Pikiran lo kok mesum mulu sih? Gemes gue pengen nyentil otak lu, untung kening aja," sebal Arventa.


"Hahaha, untung kening aja yah, bukan anu gue," goda Japra.


Detik kemudian, Japra mendapat tendangan di area vital yang begitu menyakitkan. Sedangkan Rejav dan Aksa menahan tawa melihat pemandangan tersebut.


Namun, fokus kedua pria itu beralih ke Arventa. Bulir-bulir air masih membasahi tubuh Arventa, terutama bulir air tersebut turun secara perlahan melalui leher gadis itu dan turun ke dada.


"Seksi banget, njir," gumam Aksa.


Rejav bangkit dari duduknya kemudian memeluk Arventa dari belakang untuk menghirup aroma tubuh cewek itu dengan rakus.


Arventa tentu kaget, dan refleks melepas tangan Rejav yang melingkari perutnya. Karena, lama-lama tangan Rejav akan semakin nakal, dimana tangan tersebut perlahan-lahan akan naik dan menyentuh buah dadanya.


"Ish, nakal banget sih? Gue mau pulang!" ketus Arventa lalu masuk dalam kamar.


Sekarang Japra lah yang menahan tawanya, terlebih melihat celana Rejav yang mengembung.


"Tegang, bro? Hahaha," ledek Japra.

__ADS_1


"Ck, hampir gue perkosa," balas Rejav geleng-geleng kepala.


"Woi, gue baru inget. Hari ini jadwal Rejav ngocok!" teriak Aksa.


Dalam kamar, Arventa terkejut mendengar teriakan Aksa. Jadwal 'ngocok' tentu terkesan ambigu untuk seorang laki-laki.


"Sshhss, Vent, lo harus berpikir positif," ujar Arventa berusaha berpikiran yang baik-baik.


"Gue butuh cewek buat dikocokin!"


Balasan tersebut semakin membuat Arventa khawatir, ternyata pemikiran Arventa mengenai Rejav merupakan pria dingin, cuek, dan datar adalah salah! Melainkan pria yang sangat aktif dan mesum.


"Ceweknya ada di kamar, bro. Dobrak aja terus minta dikocokin dah," perkataan Japra semakin membuat Arventa was-was.


"Ngocok? Terus dikocokin sama cewek?" tanya Arventa, kemudian berpikir bahwa di rumah ini hanya dia sendiri seorang cewek, "ish, jangan sampai," lanjut Arventa.


Setelah mengenakan pakaian, Arventa buru-buru keluar namun hal sial terjadi lagi kepadanya karena Aksa, Japra, dan Rejav ada di depan untuk menghalangi jalannya.


"Gue mau pulang, minggir!"


"Oh, tidak bisa, lo harus ngocokin Rejav dulu," balas Japra.


"Ngocokin apa sih?" tanya Arventa.


"Kocokin telurnya, terus masak nantinya," suruh Rejav.


Arventa melongo, ternyata dirinya disuruh untuk mengocok telur. Arventa langsung menjitak dahi kemudian bertanya, "Gue kan udah masak, kok masak lagi?!"


"Udah habis, masak lagi," ujar Rejav kemudian memberi mangkuk tersebut ke Arventa.


Dengan perasaan yang tidak ikhlas, Arventa menerima mangkuk tersebut dengan kasar.


Sambil mendengus, Arventa mengocok telur dan memandang sinis ketiga pria yang sedang tertawa di atas penderitaannya.


"Hahaha, cocok lu jadi Istri kita bertiga," ucap Japra.


"Enak aja, gue gak mau poliandri!" balas Arventa nyolot.


"Enak loh, dapat tiga burung sekaligus, besar lagi," celetuk Aksa.

__ADS_1


Arventa memilih diam, malas berdebat dengan tiga pria mesum yang tidak akan ada habisnya.


Selesai mengocok telur, Arventa memasak telur tersebut. Selesai memasak Arventa meletakkan telur tersebut di atas meja.


Ketiga pria yang ada di rumah langsung duduk di kursi makan dan menyantap telur yang baru dimasak oleh Arventa.


"Lo gak mau makan?" tanya Rejav.


"Mau," jawab Arventa kemudian mengambil piring.


Tapi, sebelum itu. Rejav memberitahu Arventa, "Selesai makan, jangan lupa cuci piring."


Menghela napas pasrah, hanya itu yang dapat dilakukan oleh Arventa. Sabar dan terus bersabar untuk melakukan semuanya.


"Udah cuci piring temenin gue tidur di ranjang," lanjut Rejav.


"Ogah! Gue mau pulang," tolak Arventa.


Jelas Arventa menolak, gadis tersebut tidak mungkin seranjang bersama pria yang bukan siapa-siapanya.


Walau teman dan sahabat pria, Arventa tidak akan pernah mau.


"Sama Rejav ogah, kalau sama Aksa pasti mau banget," ujar Aksa.


Sebelum Arventa membalas, Aksa memasukkan nasi ke mulut cewek itu.


"Makan, uenak toh?"


Arventa menatap Aksa tajam sambil mengunyah makanan, sementara Aksa tertawa.


"Ahaha, lucu banget lo."


Arventa makan dengan cepat,  setelah nasi dan telur di piringnya telah habis, gadis tersebut beranjak untuk mencucinya.


"Selesai makan bawa ke sini, yah," ucap Arventa sambil mencuci piring.


Ketiga pria itu saling menatap lalu berbisik.


"Jav, Arventa tipe Istri idaman, jago masak, jago nyuci pakaian, jago bersih rumah. Pokoknya jago dalam urusan rumah tangga, cuman tinggal satu lagi jago yang belum dibuktikan," ucap Aksa.

__ADS_1


"Jago apa?" tanya Rejav dan Japra penasaran.


"Jago di ranjang, dong," jawab Aksa kemudian tertawa.


__ADS_2