My Lecturer Husband

My Lecturer Husband
Chapter 17


__ADS_3

Perdebatan otong yang besar tak ada henti-hentinya, terutama Aksa dan Japra yang saling membanggakan milik mereka masing-masing.


"Punya gue besar!"


"Apa-an tuh? Semak belukar yang ada," balas Aksa.


"Semak belukar lu perlu dibonding, keribo banget, njir!" balas Japra pula.


Rejav yang merupakan juri, menghentikan waktu yang telah ditentukan dan berteriak, "Waktu telah habis! Saatnya penentuan pemenang," ucap Rejav menghentikan perdebatan kedua cowok tersebut.


"Siapa yang menang?" tanya mereka bersama.


"Aksa. Dikarenakan otong Aksa memiliki kelebihan di atas rata-rata, dimulai dari panjang, lebar, dan tingkat lingkaran yang begitu sempurna membuat otong tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Sedangkan milik Japra, hanya berada pada nilai standar," jawab Rejav.


"Yuhui, gue menang!" teriak senang dari seorang Aksa karena tidak sabar menanti hadiah yang akan diberitahukan oleh Rejav.


"Dan hadiahnya adalah," gantung Rejav semakin membuat kedua orang tersebut penasaran, "adalah, dikocokin oleh pesaing yang kalah," lanjut Rejav.


Pengumuman tersebut membuat tubuh Aksa menjadi lemas, lemas batin dan juga fisik kala melihat wajah Japra yang burik.


"Hadeh, gak sudi gue dikocokin sama, Japra. Kalau Arventa gue mau, boleh yah, Jav?" pinta Aksa.


"Gak, yang boleh dikocokin sama Venta, cuman gue!" balas Rejav.


Aksa dan Japra langsung terkejut kemudian takjub mendengar balasan Rejav barusan.


"Coba ulangin, Jav," pinta Aksa kembali.


"Yang boleh dikocokin Arventa, cuman gue!"


Aksa dan Japra langsung bertepuk tangan, kagum terhadap Rejav yang mulai aktif berbicara. Tak sia-sia perjuangan mereka selalu memancing mulut mesum Rejav agar keluar.


"Oke, kita bakalan chat Venta biar ngocokin lu," ujar Japra.


Sebelum Japra mengaktifkan ponselnya, Rejav langsung merebut ponsel itu dari tangan Japra.


"Sialan lu, jangan sampai Venta tau, kalau dia tau gue langsung perkosa," balas Rejav.


"Njir, ngapain lu perkosa anak orang? Apa alasannya?" tanya Japra.

__ADS_1


"Kalau dia tau gue mesum, pasti dia ngejauhin gue, otomatis agar dia gak jauh sama gue, yah gue perkosa, lah," jawab Rejav.


"Wow!" teriak Japra dan Aksa.


"Oke, lo udah mesum. Gue mau nanya lagi, langkah apa yang lo lakuin terlebih dahulu?" tanya Japra.


"Yah gak ada apa-apa, menurut gue yah santai aja dulu. Tunggu waktu yang tepat langsung milikin Arventa," jawab Rejav.


"Oke, selanjutnya gue. Gimana kalau Arventa udah jadi milik orang?" tanya Aksa.


"Gue rebut!" jawab Rejav.


Lagi-lagi mereka bertepuk tangan, semakin kagum kepada Rejav yang telah berubah total.


"Sebelum lo milikin Arventa, mainin cewek dulu gak papa kan?" tanya Aksa.


Rejav tersenyum miring lalu mengangguk, "Gak ada masalah gue balik jadi nakal lagi," jawab Rejav setuju.


Mereka bertiga bertos ria dan tidak sabar menanti waktu malam untuk bersenang-senang.


Waktu yang mereka tunggu telah dinanti-nantikan, ketiga cowok yang berubah menjadi seorang player begitu sibuk dengan kenikmatan dunia malam.


"Rejav!" pekik Glady senang langsung memeluk Rejav dengan erat. Namun, dengan kasarnya Rejav melepas pelukan dari cewek tersebut.


Puas dengan hinaan tersebut, Rejav melenggang pergi menyusul temannya yang dikerumuni oleh beberapa wanita.


"Lo ngejek gue jalang, sedangkan lo sendiri main sama jalang!" teriak Glady.


Lagi-lagi, Rejav tak acuh.


"Gue gak tahan," ucap Japra.


Rejav yang melihat Japra mulai sangean, langsung menarik cowok tersebut, begitupula dengan Aksa yang ditarik juga oleh Rejav.


"Jangan ceroboh, mending lo main sendiri daripada buang benih kesembarangan wanita," peringat Rejav.


Aksa dan Japra mengangguk frustasi kemudian menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasrat.


Lalu, Rejav menunggu mereka sambil melihat-lihat keadaan di sekitar tanpa menyadari Glady yang menatapnya dengan penuh nafsu.

__ADS_1


"Kapan punya lo bakalan masukin gue, sih?" tanya Glady dengan nada pelan agar orang-orang tak mendengar perkataannya.


"Shit! Gue mau banget," gumam Glady tak tahan.


Tanpa menunda lagi, Glady menghampiri Rejav dan ingin menyambar bibir pria tersebut, tapi, Rejav dengan mudahnya menahan wajah Glady kemudian menamparnya keras.


"Sekalipun gue harus main sama jalang, gue gak bakalan mau main dengan jalang seperti lo. Sorry, selera gue tinggi," kata Rejav.


Dengan sakit hati, Glady pergi dari kerumunan tersebut dan merasa semakin malu terhadap Rejav.


"Hiks, gue pengen banget main sama, lo," ucap Glady sambil terisak dan perlahan menjauhi Rejav.


10 menit kemudian, Aksa keluar dan disusul oleh Japra selanjutnya.


"Tuntas?" tanya Rejav.


Kedua pria yang ditanya mengangguk puas, "Hadeh, kapan gue main beneran, njir?!" tanya Aksa frustasi.


"Nikah!" jawab Rejav dan Japra.


Pukul 12 malam, mereka telah sampai di rumah setelah menghabiskan setengah waktu malam dengan lelah.


Tanpa melepas sepatu, mereka langsung tertidur di atas karpet untuk menuju hari esok.


"Woi, bangun!" Rejav membangunkan Aksa terlebih dahulu yang menurutnya ketika tertidur normal-normal saja, lain dengan Japra yang begitu sulit untuk dibangunkan serta kejorokan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.


Dengan mudahnya Aksa terbangun dalam sekali panggilan saja, selanjutnya Rejav harus pasrah dengan Japra yang akan dibangunkan dalam waktu yang lama.


"Japra bangun," ucap Rejav menggoyangkan bahu Japra, namun seperti dugaannya, Japra tidak akan terbangun semudah itu.


Dengan jahil, hanya sekali bisikan Japra terbangun dengan semangatnya, "Bangun, Arventa datang mau ngocokin lu," bisik Rejav.


Mata yang semula terpejam pulas, langsung terbuka dan menyiptakan sebuah rangsangan agar tubuh tersebut bangkit.


"Tegang nih otong gue, mana Arventa?" tanya Japra.


Rejav dan Aksa langsung tertawa.


"Njir, otak ngocok lo!" ledek Aksa.

__ADS_1


Japra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap garang dua sahabatnya.


"Sialan, main sendiri lagi gue," sebal Japra.


__ADS_2