
"Cuman satu yang mau gue tanyain, urusan Rejav?" tanya Cici.
Arventa diam, Rejav adalah pria yang nekat, apa pun pasti dia lakukan dan Arventa terus berpikir bagaimana cara dia agar lepas dari pria itu.
"Ya elah, ngapain khawatir atau mikirin Rejav mulu sih? Gampang itu mah," ucap Mona.
"Gampang apanya? Rejav itu gila, kek dua sahabatnya yang mesum," balas Arventa.
"Hadeh, lo kan udah punya Pak Beno, otomatis Bapak pasti lindungin lo, santai aja," balas Mona pula.
Cici membenarkan perkataan Mona, lagipula Pak Beno terkenal akan kegalakannya, bahkan seluruh mahasiswa takut dengannya, terutama para preman kampus.
Pernah terjadi, dimana para preman kampus melempar batu dengan sengaja dan mengenai kaca jendela hingga pecah, kebetulan kaca jendela tersebut merupakan kaca dari ruangan Pak Beno.
Keluarlah Pak Beno dengan muka garangnya menatap tajam para preman kampus yang kurang ajar, Pak Beno menghampiri mereka dan melayangkan pukulan telaknya kepada mereka satu per satu hingga para preman itu tumbang semuanya.
Bukan hanya itu, ancaman yang diberikan oleh Pak Beno membuat mereka kocar-kacir lalu meminta maaf.
Yaitu, memberi nilai E. Sebuah mimpi buruk untuk mahasiswa.
Maka dari itu, Cici yakin bahwa Rejav tidak akan berkutik jika berhadapan dengan Pak Beno.
"Tenang aja, gak ada Pak Beno, ada kita, kok," ujar Cici membuat Arventa sedikit lega.
"Huft, makasih, yah," balas Arventa.
Sementara di lain tempat, yaitu Fadli sedang mengumpulkan semua anggota organisasi, kecuali Arventa.
Mengapa Fadli tidak memberitahu Arventa? Karena akar dari permasalahan yang akan mereka perbincangkan adalah Arventa.
"Semuanya udah berkumpul di sini, gue harap jangan kasih tahu semua ini ke Arventa," peringat Fadli.
Rejav mengerutkan keningnya kemudian bertanya, "Emangnya kenapa?"
"Soalnya, lo bakalan dikeluarin dari organisasi. Kalau lo bertanya apa penyebab lo dikeluarin dari organisasi, yaitu Arventa," jawab Fadli.
__ADS_1
Rejav mengepalkan tangannya, tidak terima jika dirinya keluar dengan alasan Arventa. Wanita itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Kasih tau lebih jelasnya!" bentak Rejav, mengabaikan statusnya sebagai adik tingkatan.
"Lo punya hubungan khusus dengan Arventa," jelas Fadli.
Rejav tersenyum miring kemudian bertepuk tangan, begitu pula Aksa dan Japra mengikuti Rejav.
"Heh, ngapain lo berdua ikut tepuk tangan?!" tanya Geo.
"Rejav sahabat kita, apa pun yang dia lakuin kita juga ikut, namanya juga sahabat sehati," balas Japra.
Geo enggan berucap lagi, malas berdebat dengan dua manusia aneh itu.
"Oke, gue juga seneng keluar dari organisasi ini. Peraturan konyol yang lo buat gak ada gunanya, aneh," ujar Rejav kemudian pergi.
Geo mulai emosi, pria itu ingin menyusul Rejav tapi tangannya dicekal oleh Fadli.
Ketua organisasi itu menggelengkan kepala, merasa percuma jika Geo harus menyusul Rejav.
Yah, Rejav pergi. Pria itu menuju kelas Arventa, sampai di kelas perempuan yang dicari-cari, terlihatlah Arventa yang asik bercerita dengan Cici dan Mona.
"Rejav," panggil Beno.
"Iyah, Pak?" tanya Rejav.
"Ikut dengan saya!" tegas Beno kemudian pergi.
Sedangkan Rejav berdecak sebal, dirinya harus dipanggil dalam keadaan genting seperti ini, genting karena tak dapat menahan rindunya ke Arventa.
Mereka berdua sampai di ruangan Beno, Dosen itu mengcengkram Rejav dan mendorong pria tersebut ke dinding.
Tatapan tajam, menciptakan sebuah pertanda bahaya secara langsung. Rejav berusaha melepaskan diri namun tubuh pria tersebut terkunci tanpa disadari oleh pemilik sendiri.
"Sejak kapan Kamu mendekati, Arventa?" tanya Beno dengan nada dingin.
__ADS_1
"Saya tidak ingat, Pak. Sudah lama," bohong Rejav.
Sifat iblis dalam tubuh Beno semakin keluar, tiba-tiba wajah Rejav dihadiahi dengan pukulan keras oleh Beno.
"Jangan mendekati, kekasihku!" geram Pak Beno.
Rejav tentu terkejut, antara percaya atau tidak dengan perkataan Dosennya.
"Saya tidak percaya, Pak! Apa buktinya?" tantang Rejav, pria tersebut begitu berani bertanya dengan senyum miring yang ia tunjukan.
"Hubungan badan, telah kami lakukan," jawab Beno.
Yash, bagai tersambar petir. Napas Rejav memburu dengan dada yang naik turun.
Rejav melayangkan pukulan ke Beno, namun dengan mudahnya Beno menangkis pukulan Rejav.
Sehebat-hebatnya Rejav dalam bela diri, ilmunya belum seberapa jika dibandingkan dengan Dosen galak tersebut.
"Kuperingatkan, jauhi Arventa atau Kau akan menyesal!" ancam Beno.
Beno semakin gila, pria itu mengeluarkan kapak di laci meja kerjanya kemudian menodongkan benda tersebut ke leher Rejav.
"Jangan bermain-main denganku, atau Kau kubunuh," ucap Beno dengan nada mengerikan.
Rejav sendiri bergetar ketakutan melihat Beno semenyeramkan itu, kapak yang Dosen todongkan ke arah Rejav membuat pria itu tidak berkutik.
"Kuulangi selagi lagi, mendekati Arventa sama saja mendekati ajalmu. Keluar!" bentak Beno.
Rejav keluar dari ruangan Beno dengan wajah yang berkeringat dingin, tampak jelas wajah Rejav begitu pucat, apalagi badannya yang terlihat bergetar.
Di dalam ruangan, Beno terkikik pelan. Kapak mainannya ternyata berguna juga, tidak sia-sia Beno membelinya.
Beno harus mengakui kecantikan Arventa begitu banyak memikat hati pria, terutama kepada dirinya sendiri.
Selalu waspada, itulah yang selalu Beno beritahu ke Arventa agar waspada terhadap pria bejat yang berada di mana-mana, walau ia selalu mengawasi tapi tidak 24 jam juga. Ada kala dirinya disibukkan dengan pekerjaan seperti mengajar mahasiswa.
__ADS_1
Selanjutnya, Beno melirik secarik foto pria yang mendekati Arventa.
"Mangsa kedua, haruskah aku menciptakan sebuah permainan yang menarik? Semacam pertumpahan darah? Hm, menarik," gumam Beno lalu tersenyum miring.