
Peringatan! Ada +++ nya dikit :v
Sudah diperingatkan! Jika kalian tetap kukuh untuk membacanya, silahkan wkwkwk.
Happy reading.
Seminggu ini Arventa terus bersama Beno, bahkan mereka tinggal serumah layaknya pasangan suami istri.
Mungkin kalian bertanya, apakah Arventa dan Beno melakukan hubungan badan? Tentu tidak, karena Arventa tidak mau jadi Beno tidak memaksakan juga dan pria itu lebih memilih untuk menahan hasratnya.
"Sayang, hari ini adalah hari terakhir kamu bermalam di rumah ini kan?" tanya Beno.
"Hm, emangnya kenapa?" tanya Arventa.
Hembusan napas terdengar dari Beno menunjukan bahwa dia tidak ingin jika Arventa meninggalkannya.
"Kamu tinggal di sini aja, yah," pinta Beno.
"Pak, udah seminggu loh aku ninggalin rumah," balas Arventa.
Beno memejamkan mata sambil menghirup napas dalam lalu menggembuskannya kembali lantaran pasrah dengan penolakan kekasihnya.
"Bagaimana caranya agar membuatmu harus tinggal di sini seterusnya?" tanya Beno dengan nada resah.
"Yah, nikahin aku dong," jawab Arventa.
"Kapan maunya? Kalau sekarang boleh juga. Gak perlu resepsi segala, selesai pengucapan janji suci kita lanjutkan di kamar, hehehe," kata Beno dengan kekehannya.
"Boleh juga," balas Arventa tersenyum.
Tanpa aba-aba, Beno menerkam Arventa menghirup aroma tubuhnya yang begitu memabukkan membuat Arventa geli sendiri.
"Tahan yah, Pak. Sabar dikit, tunggu kita nikah, hihihi," ledek Arventa.
Sedangkan Beno? Pria itu menggeram frustasi seraya menatap miliknya dengan penuh penuh maaf.
"Maaf, belum bisa tong. Perlu bersabar lagi," lirih Beno.
Sebelumnya, Beno mengajak Arventa untuk berjalan-jalan tapi Arventa menolak lagi, wanita itu memilih tinggal di rumah dan merapikan pakaiannya karena sebentar lagi dia akan pulang.
__ADS_1
"Pak, udah selesai nih. Anter pulang yah," pinta Arventa dan Beno mengangguk.
Skip perjalanan, mereka telah sampai di rumah Arventa dalam 10 menit. Sebelum turun Beno mengecup lama pipi kekasihnya terlebih dahulu sekedar menyalurkan rindunya saja.
"Bapak pergi, yah. Kalau ada apa-apa telepon langsung," beritahu Beno.
"Siap, Pak!" balas Arventa sambil hormat ke Beno layaknya kapten.
Setelah mobil melaju, masuklah Arventa ke dalam rumah. Kondisi di dalam rumah rapi cuman berdebu dikarenakan tak berpenghuni selama seminggu.
"Huft, waktunya menyapu!" ujar Arventa semangat.
Prang!!
"Astaga, gelasnya pecah! Maaf," pekik Glady saat dirinya tak sengaja menjatuhkan gelas, sedangkan di ruang tamu tiga pria yang sedang asik menonton dengan cepatnya lari untuk melihat keadaan di dapur.
"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Rejav.
"Iyah gue gak apa-apa, tapi gelasnya yang apa-apa," jawab Glady takut.
"Gelas gak ada apa-apanya dibanding keselamatan, lo," balas Rejav.
Glady merona, pipi wanita itu memerah karena baper. Siapa coba yang tidak baper ketika seorang pria memerhatikan keadaan kalian? Mungkin Glady menyukai Rejav kembali? Jawabannya iya!
"Lo hamil, gak boleh capek. Mending bobo aja sana, kalau mau sama gue yah boleh banget," larang Aksa dengan cengirannya.
Glady tersenyum, "Serius boleh?" tanya Glady.
Aksa yang ditatap lekat oleh Glady langsung salah tingkah, dengan ragu Aksa mengangguk.
"Boleh," balas Aksa mengiyakan.
Glady sontak melompat senang kemudian memeluk Aksa dengan erat, sedangkan Rejav sendiri geleng-geleng kepala, yang terbesit di pikiran pria tersebut bukan tentang sifat Glady yang begitu mudahnya menyerahkan diri ke orang lain, tapi, ini dapat disebut dengan ngidam.
Saking eratnya pelukan tersebut Aksa sulit untuk bernapas, "Eh, lepas. Gue gak bisa napas," ucap Aksa.
Glady melepas pelukannya lalu tertawa kecil, "Sorry, yah. Gue seneng banget soalnya," balas Glady meminta maaf, sebelum Aksa menerima permintamaafan tersebut Glady langsung pergi begitu saja dan menuju ke kamar Aksa.
Masuknya Glady di kamar Aksa, kamar tersebut begitu berantakan. Dapat Glady tebak bahwa di kamar ini bukan hanya Aksa yang tidur tetapi ada Japra dan juga Rejav.
__ADS_1
"Gak masalah sih kalau berantakan, kan gue bisa bersihin," ujar Glady lalu memulai aksi membersihkannya.
Sebelum merapikan kamar itu, Glady menutup dan mengunci pintu dahulu. Dirinya tidak mau diganggu dan tak ingin dilarang dengan alasan kamu hamil, gak boleh capek! Rasanya Glady jengah dengan larangan tersebut.
Dalam 20 menit, kamar tersebut rapi bersama dengan Glady yang dibasahi oleh keringat lantaran sedikit lelah sehingga keringat tersebut diserap oleh pakaian putih polosnya dan menampakkan tubuh polos tersebut.
Sedangkan di luar, Japra dan Rejav memutuskan untuk keluar dan menyuruh Aksa tetap tinggal dan menjaga Glady.
"Oke, kalian pulang jam berapa? Ingat! Jangan lama-lama," peringat Aksa.
"Sampe malem lah, lo jaga Glady. Tenang aja, kita bakalan pulang tengah malem nanti," jawab Rejav dan Aksa hanya dapat mendengus sebal sembari menutup pintu ketika dua sahabatnya telah keluar rumah.
Merasa sendiri di ruang tamu, Aksa merasa bosan dan menuju kamarnya. Saat ganggang pintu ia putar, pintu tak dapat terbuka. Seketika pikiran Aksa mengarah ke Glady.
"Glad, lo di dalem kan?" tanya Aksa.
"Iyah, gue di dalem. Tunggu yah, gue bukain pintunya," jawab Glady.
5 detik kemudian, pintu terbuka dan nampaklah Glady yang berdiri dengan keringat yang bercucuran di tubuhnya. Sempat Aksa tergiur dan sedikit bernapsu namun pikiran liarnya Aksa berusaha menghilangkannya.
"Coba masuk, dan liat betapa bersihnya kamar lo," suruh Glady.
Aksa kemudian masuk dalam kamar dan memandang takjub ruangan tersebut, padahal sebelumnya kamar yang ia tempati begitu berantakan. Mulai dari sampah cemilan, minuman bahkan baju dan celana dalam berserakan di mana-mana.
Mengingat celana dalam, Aksa langsung bertanya, "Sempak gue di mana?"
"Oh, ada di kamar mandi. Udah kurendam dengan air sabun biar kotorannya hilang dulu tinggal menunggu beberapa menit doang gue cuci lagi terus bilas," jawab Glady.
Aksa bernapas lega, sempak kesayangannya tidak hilang.
Mereka sempat terdiam, sampai Aksa melangkah dan menarik tangan Glady. Tak lupa Aksa mengunci pintu lalu membarinhkan Glady di atas ranjang.
"Gue gak tahan lagi, boleh kan?" pinta Aksa dengan tatapan penuh napsu.
"Tapi, gue kan hamil. Takutnya nan-"
"Sssshhh, gue bakalan pelan-pelan," potong Aksa kemudian mencumbu bibir yang berhasil menggoyahkan imannya.
Glady akhirnya terbuai dan membalas cumbuan Aksa, mereka terus beradu saling menunjukan keahlian masing-masing.
__ADS_1
Aksa tersenyum kemudian melepas seluruh pakaiannya.
"Eunghh, gue gak tahan," bisik Aksa sensual dan menanggalkan pakaian Glady hingga mereka berdua tak berbusana sama sekali.